Dunia kecil itu ku sebut “Kerja”

Dua tahun ada waktu yang berlalu, tepat 60/60/24/7/12/2. Anggap saja seperti itu matematisnya. Kurang/lebihnya tho ga akan jauh-jauh dari itu. Maklum saja, hitung-hitungan anak sosial tak pernah pasti. sudah bulan November lagi. Sudah musim penghujan lagi. Musim yang selalu tawarkan keindahan. salah satu alasan saya mengagumi rintiknya. Bukan. Tentu saja bukan hujan yang akan saya ukirkan. It’s not suitable with my title. I will talk about JOB.

Tentu saja saya tak akan sebutkan bagaimana saya begitu fanatik dan membanggakan pekerjaan saya. Saya juga tidak akan mengeluh dan merutuki pekerjaan saya. I just found something in my job, and I think it’s good for me to share it.

It’s my job, but it’s not my dream to work it. Uniknya, saya merintis karir disini. It’s awesome, right? Perjalanan  waktu sampai hari ini, saya belum pernah menyesali keputusan yang saya pilih untuk langkah kaki. tentu saja itu karena bagi saya memutuskan sesuatu adalah hal dasar untuk memulai kehidupan. dimana pun. kapan pun. bagaimana pun.

saya dalam persona kerja yang profesional tentu saja tidak 100% SAYA. They want me to be professional. apakah itu menjadi sulit kemudian? hahaa. I’m psychologist and study psychology it’s my activity. I enjoy it, so far.

saya kira daritadi setiap huruf yang terangkai begitu berantakan. saya tidak tahu bagaimana sulitnya saya berkisah malam ini. bahasa yang campur aduk. tulisan tanpa poin. I don’t know, how to start it. However, I want share it. Let’s begin. Bismillah.

okee. ini bukan belajar bahasa. saya tidak akan memperhatikan tata bahasa. saya hanya akan memulai membagi pemikiran dan pemaknaan saya mengenai dunia kecil saya selama 2 tahun ini. saya tidak punya maksud apa-apa, kepada siapa-siapa. dan semoga ini tidak menjadi kenapa-kenapa. Maaf untuk segala kata yang terabadikan disini.

Sepanjang kehidupan saya, segala sesuatu yang saya jalani belum pernah terjadi karena pilihan orang lain. tidak jarang saran, kritik, pujian, cercaan, mewarnai pilihan itu. tetap saja saya masih merasa merdeka sampai hari ini. bahkan terhadap bapak. bapak memang begitu, selalu menjadi yang terdepan dibanding keluarga lainnya untuk menjadi kepo dan cerewet mengenai kehidupan saya. saya sangat berterima kasih karenanya. itu membuat saya tidak pernah kehilangan cinta semili-detik pun. walaupun begitu, pada akhirnya saya tetap menjalani aktivitas pilihan saya. sekolah, organisasi, domisili, pekerjaan, termasuk tentang asmara (just trust me dad, it’s not my topic today but I promise to write it later. I want you to know many things about it, cause I choose my way not for your willing, but for my future as rationally decision). Okee, saya salah fokus lagi. Let’s talk about my job (again).

Entah bagaimana, berkisah tentang asmara sangat mengalir untuk saya dan menjadi sulit untuk TIDAK menuliskan itu hari ini. I’m focus now. saya adalah salah satu yang muda secara usia di pekerjaan saya. itu membuat saya sangat dimanja dan diperhatikan oleh rekan kerja saya. setidaknya itu yang saya rasakan. ini membuat saya nyaman. salah satu poin yang membuat saya memilih pekerjaan ini. selain karena saya suka dengan apa yang saya kerjakan. karena dalam pekerjaan saya, saya tidak hanya mendapatkan gaji. saya mendapatkan banyak ilmu dari pekerjaan saya. saya belajar banyak karena saya bekerja. tentu saja tidak kemudian membuat saya mengatakan bahwa begini adalah bagaimana saya akan menjalani hidup. tapi, untuk saat ini saya menikmati kehidupan saya. hal lainnya yang membuat saya tidak menyesal adalah tidak ada kelelahan dalam pekerjaan saya. It’s nice for me. tidak lelah dan ada mimpi di sana. I talk about my job.

ini yang ingin saya bagi. ilmu yang saya dapat selama bekerja. ilmu yang hanya bisa saya peroleh karena saya bekerja. karena ini bukan organisasi mahasiswa, apalagi sekedar organisasi di sekolah. karena buku teks tak menjelaskan ini. saya belajar bahwa manusia itu istimewa. karena tidak ada hal yang impossible saat berbicara tentang manusia. semuanya mungkin. semuanya bisa. saat bekerja, saya menjadi tahu bagaimana saya. saya yang satu waktu menjadi idola dan sangat bermanfaat bagi lingkungan kerja saya. pada waktu yang lain, saya juga menjadi menyebalkan dan menyulitkan untuk lingkungan kerja saya. saya tidak akan pernah menjadi 100% bermanfaat bagi orang lain. Tapi, saya yakin menjadi 100% hikmah untuk orang lain yang berinteraksi dengan saya. berlaku sama dengan orang lain kepada saya.

ini sudah begitu berbeda dengan dunia lainnya yang pernah saya masuki. karena dunia kerja menuntut profesionalisme. karena dunia kerja mengharuskan persona. It’s absolutely and I know that, but I hate people with 2 faces. dan mereka hanya menarik saat di dunia kerja. setidaknya begitu bagi saya. karena saat menemukan yang beginian di organisasi dan di sekolah dulu, it’s fine for me and it’s not have significant influence for me.

kenapa yaa? saya menanyakan itu berkali-kali kepada diri saya saat memikirkan tentang “muka dua”. hahaa. I think it could be fun for the title. apa yaa untungnya bersikap dan berbicara yang menyenangkan orang lain? terkadang saya juga menggunakan strategi ini. I call it, strategy. tapi seharusnya strategi dilakukan dengan rasional. kenapa dia melakukan ini dengan sangat “terbuka” dan “nyata”. sungguh bunuh diri. bagi saya itu tidak terlihat seperti “menguntungkan”, malah dengan jelas menunjukkan “how pitty you are?”

kalau dipikir-pikir lagi, saya menemukan yang beginian ga cuma di tempat kerja sii, waktu sekolah dulu juga ada yang beginian. poin bedanya adalah dulu tak ada tuntutan profesional. sekarang? kalau “muka dua” dijadikan strategi, kontras banget sama nilai-nilai profesionalisme, iyaa ga sii? how to deal with it? Just abandon it.

Tuhan. ga penting bangetlah catatan saya ini. hanya rangkaian panjang tanpa esensi. anggap saja apresiasi pada pekerjaan saya. apresiasi yang berantakan. hahaa. saya sudah sadar dari sejak lama dengan hidup saya yang berantakan. dan saya menikmati keberantakan ini.

 

P.S. I love you (hahaa, ini judul film – bukan ini maksud saya)

P.S. hidup itu satu kali aja, waktu itu hanya bergerak maju, bagaimana saya menjadi sinis dengan kehidupan hanya karena debu-debu yang mengusik penglihatan? I walk in a way cause I trust my way. *walaupun jatuh itu sakit, setidaknya saya sering kali mencoba untuk menggandeng mu dan tak berniat menggandoli mu. calm boss😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s