Larut

Menit-menit menuju pergantian waktu. Akan berubah angka kalender masehi. Sudah berubah arah putar rembulan semenjak tadi. Waktu adalah anugerah Tuhan yang tak menyediakan kesempatan kedua. Hanya ada kenangan pada yang telah lalu. Hanya ada harapan untuk yang akan datang. Hidup yang benar-benar nyata adalah saat ini. Ketika kau menyungging bibir dan menatap penuh binar kearah ku. Meskipun seluruh celoteh mu berisi tentang mimpi yang tak menyebutkan nama ku didalamnya. Terima kasih karena saya menjadi spesial untuk tahu mimpi besar mu.

Kau penuh semamgat. Langkah mantap. Harapan besar. Jiwa optimis. Semuanya. Semua melecut seluruh nalar saya untuk ikut menjadi pemimpi dan percaya pada segala mimpi yang saya ciptakan. Cara untuk bertahan hidup kata mu.

Keseharian ku lebih realistis sayang. Dunia mu sedikit positivistik. Siapa berani menyalahkan mu untuk itu. Kehidupan membawa kita pada satu titik kesamaan. Toleransi dan antusiasme. Percayalah saya tidak begitu mudah percaya pada mu. Tapi segenap bahasa yang mampu digunakan manusia untuk komunikasi menjawab lantang bahwa “kau benar.” Dan saya berakhir dalam ketercengangan. Kau percaya pada setiap celotoh ku? Kau yang santun menjadi sifat keraguan ku. Mana ada sikap santun yang jujur. Itu semacam basa-basi sayang. Namun bahasa komunikasi ku sekali lagi tak bersahabat dengan logika sekaligus menantang rasa.

Ahh, sayang, terlalu kilau pesona mu. Aku tak pernah ingat bahwa kita saling mendukung. Bahkan setelah mematri lebih seksama, kita hanya berjalan sejajar dan tak beriringan. Lantas apa yang membuat kita saling mendukung? Apakah hidup terlalu sepi hingga hanya tatap kita yang beadu? Apakah hidup adalah kepadatan yang menyesakkan hingga tak ada jalan untuk TIDAK berhimpitan?

Aku masih percaya Tuhan, namun aku tak yakin pada teori “manusia adalah wayang.” Mana bisa begitu? Aku tahu kau setuju kali ini. Maka, bebaskan semua mimpi mu dari bisik-bisik dunia. Kelemahan mu yang membuat ku lebih unggul, walau kita tak sedang bertanding. Wahh, dunia mu yang lemah itu semarak, sayang. Aku tak yakin apakah angkuh dan sepi ku membentuk iri dan menjadi lemah ku. Saya hanya menjadi ragu tentang percakapan kita. Tentang canda tawa kita. Tentang apa itu kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s