Arus Balik (menuju Malang)

Bumi pertiwi kembali basah untuk yang kesekian waktu. Sekarang memang musim kemarau basah menurut BMKG yang disampaikan oleh seorang teman. Sayangnya saya melihat ini sebagai lukisan muram (lagi). Entah bagaimana kelabu kembali menghadirkan kisah sendu dalam bias optik saya. Tak ada cerita perpisahan yang menoreh luka bulan ini, hanya saja hati yang seringkali merasa kosong. Bukan karena sesuatu yang berlalu dan berpikir mengejar mimpi. Saya pun menyimpan sejuta mimpi yang meronta untuk diraih. Dan sekali lagi kita terjebak pada cabang. Apakah ini adalah cerminan ego kita? Toh ini bagian dari kehidupan. Plan, usaha, harapan, dan syukur. Perlahan kita menjadi jauh seolah ruang dan waktu menjadi penguat bermakna kita tidak lagi beriringan. Masihkah doa kita meminta harap yang sama saat mimpi mu sudah tak mampu ku nalar? Masih kah langkah kita akan bertemu pada titik yang sama saat tujuan ku bukan pilihan mu? Dan sekali lagi kita menjadi aku dan kau. Tidak mencoba saling melupakan karena tiap kali rindu ku membuncah hanya ada bayang mu dalam pelupuk. Adakah kau masih mengingat kita?

Jarak pandang semakin buram. Ternyata rintiknya semakin kuat memukul pertiwi. Ahh, tetap saja indah. Hujan selalu tawarkan cerita dan keelokan di setiap rinainya. Bahkan saat segala ruang menjadi buram dan muram. Kesenduan yang memikat. Haii kamu. Tak ada pesan yamg ku titip kan pada hembusan angin kali ini. Tak sanggup ku tatap berlalunya semilir dalam kelabu langit. Apakah semakin banyak sendu pada anak adam sehingga kemarau pun tak absen oleh hujan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s