Perpisahan abu – Edisi (katanya) Mudik

Lihatlah betapa muram langit hari ini. Awan bergumpal-gumpal saling menyambung. Tak sisakan setitik celah pun untuk mata telanjang mencari jejak kebiruan dari langit. Apa ini masih terlalu subuh untuk mentari enggan menggeser awan? Pukul 05.30 kurasa sudah waktunya dunia bermandikan cahaya. Mungkin semesta ikut merasakan sebuah perpisahan. Mungkin semesta paham atas tiap langkah yang masing-masing menjauh dalam buram hati. Mungkin semesta simpati pada ketakberdayaan anak adam. Begitulah alam terlalu bijak menggugah suasana yang menguatkan luka.

Hujan di bulan juni judul sajak puitis sarat makna dari Sapardi Djoko Damoro. Akhir juni abu-abu menurut tatapan sendu saya. Catatan kepulangan yang tak hitam dan tak putih. Yaa abu. Abu-abu. Ada gumpalan bahagia untuk menyongsong kehidupan masa kecil di ujung batas Indosesia bagian utara borneo. Sama kuatnya dengan gelisah dalam kehampaan untuk menyongsong sepi yang asing ditengah pertalian darah dan setting lampau. Apalah ujung dari garis kehidupan? Sebuah pencarian pada tanah orang? Ataukah pengabdian untuk tanah yang dulu. Tanah kelahiran pun saya meragu. Saya hanya paham atas luasnya negeri nusantara. Saya hanya ingat identitas adalah bukti saya Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s