Peduli

Sudah beberapa waktu ini saya cukup konsen dengan kata yang satu ini. Kata yang penuh makna dengan makna lagi didalamnya. Dan jadilah sebuah keruwetan. Itulah mengapa saya begitu menyukai kata “peduli”. Seorang teman menyebutkan ini bermakna kecintaan yang bermuara pada rasa kepemilikan dan memaksa seseorang untuk mengikatkan hati pada satu objek. Ini bagian yang paling melukai dari “peduli”. Entah bagaimana saya terus menerus menakar bagaimana saya menempatkan kata “peduli” dalam interaksi keseharian.  Dan semakin dalam saya mempelajarinya, saya merasa semakin jauh dengan segala objek karena kepedulian saya. Itu melukai harga diri saya. Entah dengan cara apapun saya menganggap ini seperti keberlanjutan yang mencabangkan rasa. Tidakkah ekspresi yang berlawanan itu aneh? Misalkan dengan cuek pada kesayangan? Atau menjadi sentimentil karena setiap laku dan ucap seperti punya arti pada cerita kehidupan? *dengan istilah ngehitz-nya: BAPER
Arghh, begitu kacau catatan saya hari ini.. Menunjukkan warna hati yang tak berarah. Tertinggal dengan banyak tanya tanpa suara. Terhalang dengan paras persona penuh kepalsuan. Karena sebuah rasa kepemilikan yang meningalkan rasa bersalah dan membuat saya pada akhirnya menampakkan sikap tak peduli. Namun tetap hati akan meronta dalam keheningan diri. Karena kamu sudah terlalu jauh untuk menjadi tahu. Mungkin karena kau terlalu bersinar dan penuh sejuta mimpi. Maka ku ikrarkan rasa ini sebagai bara untuk tetap menyalakan api mimpi mu. Api yang tak harus kau padamkan karena rasa peduli ku yang tak berharga. Datanglah pada ku bila kau telah lelah pada mimpi dan hidup mu karena aku tak punya tempat kemana-mana dan akan terus menatap bahagia pada segala kesukaan hati mu, dan akan terus terisak luka pada setiap duka lara mu, disini dari kejauhan. Namun melihat kemarahan pada ucap dan gerak tubuh mu menyadarkan ku untuk berhenti menjadi aktif pada kehidupan mu. Untuk sekedar melihat mu dari jarak terjauh yang bisa ku jaga agar kau tak menjadi resah pada ada ku. Sampai pada akhirnya ku temukan kemarahan mu pada ku karena kau merasa aku tak peduli lagi pada mu.
Tuhan, mengapa begitu sulit mengekspresikan kata yang satu ini pada mu. Seperti sulitnya aku dalam menerjemahkan bagaimana interaksi antara kita terjalin. Dimana kau sering kali menjadi hulu sekaligus muara dalam cerita dan inspirasi kisah ku. Dan dimana kita menjadi semakin jauh setiap saya berlagak peduli pada mu. Dan akhirnya saya tak tahu harus melakukan apa untuk menunjukkan kepedulian atas mu melebihi saya pada diri sendiri. Maaf karena hanya bersandar pada mu dan menjadi luka yang membuat mu terbebani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s