Kelabu Sendu

Langit terus-menerus menjatuhkan rintik hujan untuk menyapa bumi. Ini sudah malam kesekian untuk aliran alamiah di awal Februari. Beberapa waktu saya merasa alam begitu nyaman dengan melodi hujan. Tapi tidak dengan malam ini, langit seperti sendu, menampakkan warna wajah dari perempuan yang terluka. Seulas senyum tetap terbingkai dalam paras indahnya. Tapi kelabu, yaa kelabu itu tidak menyingkir dari tatapannya. Seorang hamba tengah berduka. Berduka atas sekelumit tekanan yang menyesak. Ini bukanlah akhir kehidupan. Tapi ini akan memengaruhi kehidupannya esok hari, jikalau esok masih ada untuknya. Kali ini tercipta ruang kelabu. Satu waktu di masa yang telah lalu pun pernah berpendar ruang kelabu. Namun kali ini adalah kelabu yang berbeda. Bukan kelabu yang kemarin. Tapi akan ada goresan cahaya yang menyapu kelabu ini. Jikalau esok masih ada untuk perempuan. Perempuan yang merasa lelah. Perempuan yang memiliki banyak impian dalam penjara keletihannya. Perempuan yang masih ingin berharap dengan jiwanya. Harapan yang telah disirnakan secara paksa oleh nalar. Karena alasan sering kali membunuh harapan. Karena harapan sering kali terlahir dari gumpalan keputusasaan. Karena Tuhan masih ada. Karena perempuan itu masih yakin akan hangatnya pelukan Tuhan ditengah kebekuan rinai hujan. Karena perempuan itu adalah saya. Jikalau esok masih ada dalam catatan saya, Tuhan izinkan esok menjadi harapan jiwa yang mampu saya nalarkan. Dan terima kasih atas semua kesayangan yang pernah menyapa hati saya. Terima kasih atas seluruh kepercayaan yang menguatkan senyuman saya. Terima kasih atas hadirnya untuk saya. Karena yang tersayang selalu menghangatkan tanpa perlu berbuat apa pun. Karena saya terlalu menyukai hujan untuk membenci dingin tetesnya. Karena saya percaya bahwa hujan menyimpan satu kehangatan syahdu dalam kelabunya. Karena kebekuan pasti satu waktu tidak berakhir dengan sendu. Dan jikalau esok masih menjadi milik saya. Mungkinkah esok adalah hari-hari untuk kita berbagi kisah seperti kemarin. Karena hari ini, disini, tanpa mu begitu kelabu. Karena kepergian mu membawa seluruh warna dalam hidup ku. Karena jikalau esok kau tak datang dengan warna ku, akan kah kelabu dan hujan terus memeluk jiwa kosong ku?

2 thoughts on “Kelabu Sendu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s