Pernah

Satu melodi dalam rangkaian nada manis yang menjadi pelipur jarak antara raga kita. Ini adalah musik sederhana yang pernah saya sematkan untuk mu.

Saat bulan purnama bersinar, terangi malam ku teringat padamu, dan ku kirimkan salam tentang rasa rindu ku, bersama angin malam ku setia menunggu, mimpikan aku oh sayang ku, peluk erat hati ini dan jagalah selalu, dan kan ku dendangkan lagu ini untuk mu, dengarlah sayang. Ingatlah saat kita bersama, kau pegang tangan ku, ku tatap mata mu, semua terasa indah tak seorang pun mengganggu, bersedih dan tertawa kita tetap bersatu, bintang benderang secerah hati ku, yang selalu terbayang kekasih ku sayang, di setiap mimpi mu ku kan selalu berdendang, dengarlah sayang ku. Kuatkanlah dinding hati, janji kita tak akan terbagi, biar malam terus berganti, yakinlah kau tetap bunga ku, genggam erat hati ku ini, kan ku ciptakan damai untuk mu, biar bulan terus berlalu, yakinlah kau tetap milik ku, sayang ku (Salam Rindu, Tipe X).

Perih rasanya saat mendengar kembali melodi yang pernah begitu sering saya senandungkan untuk mu. Bahkan saat kita berada di kota yang sama. Dan semua itu hanya sesuatu yang “pernah”.

Saya menemukan melodi lainnya pada satu waktu di ponsel kawan. Saat ini pukul 4:04 pagi. Kawan yang sama (sii pemilik ponsel) mengatakan ada yang merindukan mu ketika kau mendapatkan angka jam dan menit yang sama dalam satu tatap mata. Entahlah. Saya kira kondisi yang paling tepat saat ini adalah saya yang sedang merindukan mu. Walau pun dulu saya pernah merindukan mu. Tapi sungguh saat ini saya sangat merindukan mu.

Saya tak pernah merenungi setiap kata dalam lantunan ini hingga beberapa jam yang lalu saya kehilangan kantuk (walau maksud hati mendengarkan lagu pengantar tidur). Lagu yang membuat saya merindukan mu lagi.

Aku yang pernah engkau kuatkan, aku yang pernah kau bangkitkan, aku yang pernah kau beri rasa, saat ku terjaga hingga ku terlelap nanti, selama itu aku akan selalu mengingat mu, kapan lagi ku tulis untuk mu, tulisan-tulisan indah ku yang dulu, warna-warnai dunia, puisi terindah ku hanya untuk mu, mungkin kah kau kan kembali lagi, menemani ku menulis lagi, kita arungi bersama, puisi terindah ku hanya untuk mu (Puisi, Jikustik).

Senandung yang pas buat saya yang pernah bercita-cita membuat mu bahagia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s