Kopi Pahit

Saya suka kopi. Saya suka kopi pahit. Kopi istimewa karena pahitnya. Manis pada kopi akan melunturkan nikmat yang dirindukan pemuja kopi. Ragam kopi pun terletak pada aneka pahit dalam aroma yang hanya dimiliki oleh kopi. Saya teringat dengan dua gelas kopi yang menemani semalam. Es Americano didalam tabung kimia di sebuah coffee shop yang nyaman bertemankan canda tawa dan kegilaan manusia-manusia tua yang belum dewasa. Tertawa ceria seolah malam itu adalah milik kami. Berakhir kembali menginjak dunia realita setelah pelayan menegur pengunjung meja sebelah kalau lapak kopi akan segera buyar. “kenapa kami tak ditegur? Hahaa.” Berberkal niat menjadi anak psikologi yang nyikologis, kami menyapa, mas pelayan yang orang Jawa tapi lama menetap di Papua hingga ga bisa bahasa Jawa itu. “mas, udah mau tutup yaa?” dibalas dengan senyuman olehnya, “iyaa mbak, kita udah mau closed.”

Sejujurnya hati masih enggan untuk menepi. Lanjutlah kami mencari seruputan kopi yang lain. Kali ini pinggir jalan, beratapkan langit cerah dengan purnama sempurna. Secangkir ‘carabian nut’ yang kedinginan dengan sekali teguk untuk satu gelas kali ini. Bukan karena saya kalah main gaplek, tapi kantung kemih yang penuh dan meronta-ronta mencari jalan keluar membuat kami berkeputusan untuk mengakhiri malam ini. Masjid terdekat yang dituju kali ini tak seperti biasanya dapat dimasuki untuk menuntuskan hajat biologis. Jadilah saya mengharap sampai dirumah masih dapat mengontrol saluran sekresi, dengan kecepatan awan kinton ala dragon ball kami mendarat di pom bensin yang dilewati sebelum menuju rumah. Syukur pada Allah swt. Untuk nikmat ‘plong’ setelah demo kepadatan kandung kemih berakhir.

Malam telah lama merambat untuk menemui fajar, bulan masih menggantung sempurna di langit mendung tak bertemankan gemintang. Semoga dua gelas minuman yang manis malam ini menghapuskan kesal dihati mu adik. Kau yang beranjak dewasa jauh lebih matang dari dua tahun lalu saat aku meninggalkan kota yang mempertemukan kita. Jangan biarkan sikap tak elok orang lain meruntuhkan kewibawaan mu. Bukan kah hidup ini terlalu menarik untuk sekedar menyimpan kesal kepada manusia yang haus pengakuan? Mentari yang dicaci karena teriknya tetap akan bersinar sesuai kodratnya. Bagaimanapun sinisnya awan menyembunyikan sinarnya, sang surya indah karena pancar sinarnya. [Malang, 6 Maret 2015].

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s