Stalking: menilai dari sudut kamar

ini sebuah kisah. kisah yang saya alami. sekali waktu sebagai pelaku. dan merasa menjadi korban. berasa seperti public figure saja saat tahu bagaimana beberapa orang penasaran dengan saya. saya berpikir bahwa pekerjaan ini mengasyikkan, dengan bermodalkan kuota internet atau wifi kita dapat menjelajah dan menelusuri seseorang. cara berpikirnya. gayanya mengekspresikan sesuatu. luapan pikiran dan emosinya. cerita kegiatannya. dan seperti apa kabarnya. sebuah solusi yang memudahkan untuk tahu orang lain di era modern. hahaa. bila mengenang bagaimana saya sebagai pelaku aktivitas ini, saya merasa lucu sendiri. tentu saja saya jadi sedikit terbantu untuk menengok warna hati orang lain. tapi lebih dari itu, stalking medsos lebih membuat saya banyak berpersepsi dan menduga. hal yang pada akhirnya hanya melukai diri sendiri di kemudian hari (penyaadaran yang terlambat). begitu banyak hal yang saya pertanyakan setelah saya menemukan banyak hal dalam penelusuran-penelusuran saya di medsos yang bertajuk stalking. semua hal yang sewaktu-waktu membuat saya tersenyum, dan tidak jarang membentuk kerutan di kening saya. aktivitas yang hanya melibatkan diri saya saja. aktivitas yang biasa saya lakukan untuk tahu lebih banyak tentang seseorang, seseorang yang sedang menjadi hidup dalam keseharian saya. entah itu teman baru, seseorang yang menjadi dekat dengan saya, seseorang yang diceritakan pada saya. merugikankah yang saya lakukan ini bagi sii korban? mungkin tidak merugikan, tapi menyadari posisi saya sebagai stalkee (red. korban) membuat saya berpikir ini adalah kegiatan pengecut. bukan tindakan “care”. jadi, sepertinya lebih merugikan stalker atau sii pelaku. dan sepertinya, karena penyadaran ini saya berniat untuk berhenti melakukannya. dan berbagi sedikit pikiran saya yang semoga dapat mencerahkan para stalker medsos lainnya. dengan tujuan bagaimanapun.
beberapa hasil perenungan saya yang membuat aktivitas stalking medsos menjadi kerugian para stalker, sedangkan bagi stalkee sama sekali tidak berdampak (kecuali stalker udah sampai pada tindakan penculikan atau penyerangan pada stalkee – itu mungkin udah beda kasus). sebagai berikut:
1. stalking membuat saya terjebak pada persepsi saya sendiri. semua yang saya dapatkan selama stalking hanya sebatas “menurut saya”, mungkin saja itu bukan maksud dari stalkee, entah tulisan, atau gambar.
2. stalking membuat saya tidak eksis. saya seperti menonton dan tidak menjadi bagian dalam kehidupan. tentunya kehidupan antara stalker dan stalkee (biasanya stalking medsos dilakukan karena antara pelaku dan korban saling mengenal di dunia nyata). stalkee menjadi tidak tahu betapa semangatnya saya untuk mengetahui kegiatan, pikiran dan perasaannya.
3. stalking membuat saya tidak bisa mengetahui lebih dalam tentang stalkee. sebagai penonton, bagaimana saya dapat menanyakan segala bentuk hal yang membuat kening saya berkerut selama stalking. atau segala hal yang membuat saya ragu pada pemahaman saya tentang stalkee.
4. stalking membuat saya terlihat seperti pengecut. hanya karena saya ingin tahu dan saya menjadi stalker. hanya karena dia menarik perhatian saya dan dia menjadi stalkee. apakah terlalu sulit untuk saling berkomunikasi sehingga lebih terlihat wajar sebagai makhluk sosial. manusia pula. kasta tertinggi dalam dunia hewan.

dan pada akhirnya, “ini yang membuat saya malas mem-posting tulisan-tulisan saya”. kata seorang stalkee setelah mengetahui dirinya korban stalking. hal yang juga saya rasakan. bagi saya, entah orang lain. menulis adalah bentuk luapan pikiran dan perasaan yang paling mengasyikkan. kegiatan yang menyenankan. cara saya mengekspresikan diri. belakangan saya mengetahui bahwa ekspresi saya menjadi perhatian orang lain dan membuat mereka tidak nyaman. saya merasa berekspresi menjadi tidak bijaksana. saya menulis untuk berbagi kisah, kisah dari apa yang saya pikirkan dan rasakan. yaa, seperti ekspresi dalam kisah/ tulisan. ketika saya harus membatasi ekspresi saya dengan berpikir apa ini mengganggu orang lain atau tidak, bukankah itu seperti membatasi tarian jemari saya. lalu, untuk apa saya menulis?
seorang kawan pernah berucap, “seseorang menulis karena dia ingin diketahui orang lain.” tentu saja saya sangat setuju. ketika jemari telah beraksi. penulis sudah siap pada tanggapan yang akan datang sebagai implikasi pada tulisan. entah itu, pujian atau hujatan. entah itu menyenangkan atau melukai. hanya saja kesiapan itu kemudian terkikis oleh aktivitas yang populer dengan sebutan stalking. sesuatu yang membuat stalkee menjadi positif/negatif menurut stalker tanpa ada penjelasan. karena semua nilai hanya berhenti pada stalker saja, tanpa ada konfirmasi dari stalkee. bukankah setiap perilaku manusia memiliki maksud dan alasannya sendiri?
ekspresi yang terkekang membuat eksistensi meredup. bagaimana bisa seseorang berekspresi dengan bebas bila harus memikirkan dahulu apakah ekspresi ini akan membuat orang lain tidak nyaman atau bagaimana, sedangkan kenyamanan masing-masing orang adalah buah pikiran dan perasaan individu. subyektif. menyaring ekspresi dengan memikirkan kenyamanan orang lain (yang jumlahnya tak terhingga) membuat seseorang tidak mengekspresikan apa-apa. berekspresi adalah hak individu. menilai ekspresi orang lain juga hak individu. bila saling meletakkan hak diatas hak yang lain, tidakkah itu menjadi penjajahan?
saya berhak berekspresi dan anda berhak menilai, begitupun sebaliknya. bila banyak hal yang kemudian meragukan masing-masing dari kita untuk dipahami, mari kita berbincang. karena hanya hati yang bisa mendengarkan ucapan hati. karena pikiran dan perasaan adalah milik pribadi dari setiap individu. karena berharap penghargaan tanpa mengumbar kepedulian adalah ketidakmungkinan. dan hanya ketidakyakinan pada diri sendiri yang membuat seseorang menarik diri kemudian meringkuk di sudut kamar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s