Secangkir Kopi dan Kamu

saya suka kopi. kopi apa saja. saya bukan tipe pemilih untuk hal ini. tapi saya ga addict. saya bisa dan biasa aja kalau ga ada kopi/ ga minum kopi. tapi saya pembuat kopi yang buruk. paling favorit kopi hitam (pahit) yang dibuatin mbak-mbak/ mas-mas warkop, karena pas di cangkir dan dilidah. hahaa. itu bagaimana saya membina hubungan dengan kopi. secangkir kopi hangat di musim hujan yg paling nikmat. sama halnya kopi. saya juga suka hujan. air yang jatuh dari langit menunjukkan sedikit dari fenomena indah ciptaan Nya. bulir-bulir bening yang menyentuh bumi meninggalkan aroma alam yang menenangkan hati dan pikiran. seperti saat seduhan kopi panas yang nangkring dijemari saya didekatkan ke bibir sebelum diminum. kopi itu yang paling menyenangkan aromanya. padanan secangkir kopi dan pemandangan hujan itu adalah suasana yang paling pas buat merindukan kamu. kamu itu paling sering membuat saya rindu. daripada hujan yang bermusim dan sedikit dibatasi ruang dan waktu walau kemunculannya adalah kehendak Tuhan, kamu lebih mirip kopi. saya suka kamu. tapi saya baik-baik saja kalau ga ada kamu. dan saya cukup TIDAK percaya diri untuk berdampingan dengan kamu. terdengar pesimis kan? tidak se-ekstrim itu koq. hanya saja saya lebih menghargai kebebasan mu sebagai manusia untuk merasa dan memikirkan pilihan hati mu. jadi sama halnya seperti saya yang tidak pernah pilih-pilih kopi, saya tidak akan memilih kamu yang kemudian akan membatasi ruang gerak mu. dan seperti kopi yang favorit bagi saya adalah kopi hitam buatan mbak-mbak warung, kamu yang terlahir dari rahim ibu mu juga favorit saya (kali ini cuma satu-satunya karena kamu ga kembar). seperti aroma kopi yang saya suka, kehadiran mu selalu hangat, nyaman, dan menenangkan. beruntungnya kamu tidak seperti kopi yang akan dingin dan menjadi tidak nikmat lagi bila dibiarkan terlalu lama. sederhananya secangkir kopi dan kamu tidak mewarnai setiap waktu dalam kehidupan saya, juga tak menjadi sesuatu yang menyita hati dan pikiran saya, namun sekali waktu saya begitu merindukan secangkir kopi karena kondisi yang tidak memungkinkan bagi saya untuk menyeduh kopi. kamu juga sekali waktu saya rindukan. cukup dengan ingatan saya akan wanginya aroma kopi dan nikmat tiada tara saat menyeruput kopi membuat seulas senyum mewarnai kerinduan saya akan kopi. seperti ingatan saya tentang kamu yang membuat kerinduan ini seperti anugerah tiada tara yang terkadang lebih indah daripada perjumpaan kita. merindukan mu membuat saya tersenyum dalam memori tentang mu yang lebih jelas dari semua potret yang mengabadikan rupa mu. dan seperti secangkir kopi juga yang selalu menenagkan saya. hadir mu belum pernah meresahkan saya, walau tak setiap kebersamaan kita berakhir dengan seulas senyum. munafik bila saya bilang tak pernah mengalirkan air bening dari mata saya karena kamu. dan hal terakhir ini yang membuat mu tidak seperti secangkir kopi. karena kamu adalah manusia bebas. tolong kuat dan yakinlah pada pilihan mu. manusia tidak saling memilih dan dipilih, kawan. tapi kita akan selalu dihadapkan pada banyak pilihan-pilihan dalam hidup. dari semua sedih dan bahagia saya karena mu. saya selalu tersenyum saat merindukan mu. walau tidak setiap waktu, tapi kamu masih seorang yang istimewa. saya yang mengistimewakan mu tidak akan bisa membuat mu terlihat istimewa didepan orang lain. cuma kamu yang bisa tunjukkan kepada orang lain kalau kamu istimewa. catatan ini akan menemukan jalannya sampai kepada kamu. sebuah catatan disore hari yang mendung di bulan November. tarian jemari saya pada keyboard tak bertemankan hujan, juga kamu. setidaknya aroma kopi membuat saya lebih bersemangat untuk berkisah. kisah keistimewaan mu dan kisah kehangatan mu. seperti keyakinan saya akan hubungan dengan secangkir kopi yang tidak pernah berakhir. saya dan kamu (setidaknya dalam hati dan pikiran saya) juga tidak akan pernah berakhir. bahkan bila pada akhirnya saya hanya akan merindukan mu saja dan sudah tak bisa merasakan kehangatan mu lagi. bila catatan ini sampai pada mu, boleh kah saya meminta mu mengingat saya sekali waktu dalam hidup mu? tidak perlu merindukan saya. cukup melintaskan nama saya yang pernah menghabiskan sedikit waktu bersama mu, saya yang menempatkan mu pada tempat istimewa di hati dan pikiran saya, bolehkah? terima kasih karena membuat saya banyak belajar dan memaknai kehidupan selama enam tahun terakhir ini. terima kasih karena membuat saya selalu mensyukuri setiap perjumpaan dan perpisahan yang (setidaknya begitu dalam pikiran saya) kita lewati dalam enam tahun ini. dan terima kasih tetap berkawan dengan saya.
IMG-20140721-00157
buku ini tidak mengisahkan cerita kita dalam lembaran-lembarannya. tapi adanya buku ini adalah dokumentasi bisu rasa saya pada mu. bila pada waktunya nanti saya tak bisa lagi menjaga buku ini, maukah kamu menjaganya? pada covernya saya titip kan hati saya untuk mu. hati yang mengistimewakan mu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s