Dua mei dua ribu empat belas

Sebuah pesan masuk ke HP saya dan mengabarkan bahwa hari ini adalah hari pendidikan. Pesan tersebut mengabarkan kesuksesan aksi untuk sebuah idealisme penolakan diskriminasi untuk kepentingan ekonomis. Kabar itu seperti berita baik yang disebarkan oleh pengirim. Mungkin juga sebagai berita baik bagi mereka yang memperjuangkannya. Mungkin juga sebagai skenario yang sengaja dilakukan oleh para pendidik untuk melatih kepekaan mahasiswa. Mungkin juga hanya kabar sambil lalu yang dinyanyikan sebagai teman menyantap makan siang dikantin.

Apakah ada yang terluka dengan kabar ini? Mungkin juga mereka yang terluka bersembunyi dibalik wajah-wajah gembira para mahasiswa penegak idealisme. Idealisme untuk kemaslahatan ummat. Katanya. Idealisme yang kerap kali mereka lupakan saat tiba waktunya nanti berganti peran sebagai makhluk-makhluk yang menguasai ummat. Sudah menjadi rahasia umum hingga tidak begitu diperhatikan. Dan tanpa penyangkalan. Sehingga tetap berlanjut. Manis. Kehidupan kampus dan kehidupan dunia begitu berbeda. Tragis. Tak semua orang cukup kuat untuk beradaptasi. Tak banyak yang memikirkan perbedaannya. Karena cukup sederhana bagi kita untuk sekedar menjalani saja tanpa banyak dialektika.

Sekelumit pendidikan dinegeri saya mengajarkan kemanisan. Yang membuat siswanya jantungan dan berujung tragis. Hanya karena kita lupa mendidik anak-anak bangsa untuk memikirkan alasan mengapa ini dan itu terjadi.

Yogyakarta, May, 02nd 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s