Story (perempuan itu…)

Menulis

Aku tidak menulis karena aku ingin. Aku menulis karena ini keharusan. Bahkan ketika pena ini begitu berat membebani jemari ku. Aku harus menulis. Keengganan ku menorehkan luka pada setiap lembar catatan ku. Bahkan tumpukan tulisan yang ku buat setengah hati itu dapat bergumam dalam diamnya. Sebuah gumaman ketakberdayaan. Menyuarakan kepahitan. Catatan yang tergores oleh keengganan penulis. Dilemparkan oleh pembaca pada sudut ruangan. Karena tulisan bersuara dalam hening. Ini adalah lembaran-lembaran yang dibuat dengan enggan. Ini tak sempurna dan  perlu dibenahi. Sekali, dua, tiga dan berkali-kali pun dibenahi tetap akan sama hasilnya. Hanya lembaran yang penuh luka karena ditulis dengan enggan. Bukan lembaran itu yang bermaasalah. Ini hanya catatan mati yang memantulkan keengganan sang penulis. Sampai aku menemukan keinginan ku untuk menulis sebagai alasan lembaran-lembaran ini tertumpuk. Sampai aku mengabaikan keharusan menulis sebagai tekanan. Sampai saat itu catatan ini masih mati tanpa jiwa. Kapan? Siapa yang tahu. Segala alasan yang terhambur didepan mata ku hanya menjadikan alasan menulis adalah keharusan. Tak ada satupun alasan yang berpihak pada menulis untuk keinginan. Apakah semua tulisan ini akan menjadi dokumen usang di pojok gudang? (23 Oktober 2013/02.31 WIB/Jogja)

Catatan tanpa jiwa

Dan kehidupan masih berjalan. Roda waktu tetap berputar. Hari berganti. Manusia tumbuh, namun sedikit yang berkembang. Perubahan menjadi kepastian. Berubah menjadi rutinitas. Dan akhirnya menjadi tanpa makna. Aku lupa sudah menjatuhkan jiwaku dimana. Aku lupa bagaimana hidup dengan memiliki jiwa. Aku lupa. Hanya saja aku sudah terbangun disetiap waktu ku dengan seperti ini. Menapaki kehidupan sebagai rutinitas. Catatan hidup ku penuh dengan aktivitas tanpa jiwa. Aku ingat melakukannya. Aku ingat mengharapkan dan berdoa agar yang ku lakukan berjalan lancar. Dan yang paling aku ingat adalah aku melakukan semua hal karena mereka pikir baik untuk ku melakukannya. Aku hanya mengerjakannya saja. Aku tak tertarik sama sekali. Tidak, aku hanya lupa bagaimana cara tertarik pada suatu hal. Aku ingat kalau aku masih bernafas. Namun, aku lupa kenapa aku masih bernafas. (23 Oktober 2013/02.54 WIB/Jogja)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s