Sebuah kisah dari pojok kamar

Malam yang belum begitu larut, masih terlalu dini untuk meringkuk dibalik selimut. Namun dunia ku sudah menjadi remang. Tidak karena gamang. Sungguh tidak. Hanya saja, cahaya menjadi masalah. Sinar terang menjadikan ku sedemikian lelah untuk menjalani rutinitas. Langit dengan bulan penuh itu indah, walau cahayanya hanya meminjam pantulan mentari. Kerlip bintang itu mempesona walau adanya hanya berupa titik yang begitu jauh tanpa bisa digapai rengkuhan tangan manusia. Sudah cukup dengan segala sajian pemandangan indahnya saja, tak perlu untuk dapat mendekat padanya. Karena sungguh tak semua yang terlihat indah dari jauh akan menjadi indah saat didekat mu. Kepuasan ku pun tak utopis dan muluk. Untuk dapat mengagumi mu saja itu sudah cukup. Karena aku menyadari gemerlap pesona mu akan melunturkan keanggunan ku. Cukup dari jarak seperti ini saja kita saling memandang, kita saling menjaga, dan kita saling memuja. Karena kau akan menjadi tak berguna dengan redup mu, dan aku akan menjadi sirna dengan terang ku. Karena cahaya mu menjadi penjaga ku, dan gelap ku adalah selimut mu. Mana bisa kita terlihat serasi bila kau berudah, aku berubah. Kita yang sekarang adalah yang paling baik. Jangan minta aku untuk menjadi mu dan ku tak kan memaksa mu untuk menjadi aku. Dengan pilihan dan adanya kita seperti ini adalah cukup. Karena tak hanya aku yang bergantung pada mu atau kau yang menggantung pada ku. Karena banyak orang mensyukuri adanya kita seperti ini. Aku dalam pekatnya malam dan kau dalam kilauan siang. Dengan begitu kita akan terus terjaga. Terjaga dalam setiap rindu yang kita pintal. Dengan begiitu kita akan terus mencinta. Mencinta dalam setiap tatap yang kita hujani pada bayang ilusi.

Sosok perempuan disudut kamar, mengurung dalam kegelapan. Mengais cahaya pada bayangan rembulan yang tak nampak dibalik jendela kaca yang tertutup gorden. Sungguh gelap ini membuatnya merindukan keindahan rembulan dan pesona gemintang. Karena kisah mereka akan mengubur kehinaan diri. Meringkuk sendu disudut kamar. Mengisak lirih mendekap bantal. Merasa diri tak setia pada kehidupan. Karena telah begitu lama mengeluh tanpa bermimpi. Karena sudah menjadi makhluk mesin tanpa jiwa. Karena menjadi perempuan di sudut kamar adalah kebanggaannya. Karena kegelapan akan sembunyikan wah lelah dan putus asanya. Karena hanya di sudut kamar ini dia temukan bahwa jiwanya telah semakin redup. Semakin redup dan terus merintih. Merintih dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Karena dunia ini tak memberikan pengharapan lagi baginya. Sudah begitu lama hingga ia sendiri tak tahu kapan tepatnya itu terjadi. Sudah terlalu mengakar hingga mereka yang memintanya untuk terbangun dengan ketulusan pun harus ikhlas melepaskan tangan. Untuk sosok perempuan di sudut kamar. Hidup adalah melakukan perintah dari mereka yang mengaku tulus padanya. Meski kepercayaan sudah begitu lama pudar dari hatinya. Karena nikmat pengkhianatan sudah menemani kesehariannya. Justru pada mereka yang mengaku tulus padanya. Manisnya lelah untuk sosok perempuan di sudut kamar menjadi ilusi akan akhir dari kehidupannya. Namun akhir itu tak kunjung terlihat.justru disaat ia begitu merindu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s