Marginalisasi Bidang Pemberdayaan Perempuan

Sebelum pembaca salah sangka lebih jauh, saya akan mengingatkan diawal bahwa tulisan ini tidak bermaksud untuk apa-apa. Hanya menggoreskan apa yang menjadi jejak pada perjalanan hidup saya dikomisariat. Sungguh tidak berniat untuk melukai siapa pun.

Terinspirasi oleh tulisan seorang kawan pada kaca kamarnya, ‘sesantun PP’ yang kemudian saya adaptasi dan saya jadikan notes pada notebook saya ‘seanggun PP’. Saya pikir, makna dari title yang disandang ‘Pemberdayaan Perempuan’ berikut dengan peran dan fungsi yang  menyertainya, belum lagi ditambah dengan ex officio KOHATI yang disandangnya, ini adalah sebuah amanah besar. Tidak cukup begitu, saya kembali mengingat bagaimana tumpukan buku di rak kamar seorang kawan menunjukkan bahwa betapa mulia dan mengagumkannya kaum hawa untuk diabadikan dalam berbagai lembar naskah. Dan terakhir saya mengingat sebuah opini yang pernah saya torehkan bahwa ‘perempuan’ dari kata dasar empu yang berarti orang dengan keahlian khusus dan dihormati. Bila mengingat ‘pemberdayaan’ yang dikenal dengan empowement didalam bahasa inggris bermakna ‘membuat sesuatu lebih memiliki daya atau kekuatan’. Maka bidang ‘pemberdayaan perempuan’ akan berkonotasi sebuah wadah yang akan membina kaum perempuan menjadi lebih memiliki kekuatan (keahlian). It’s a great and noble.

Dan mengapa hal menakjubkan seperti  ini di marginalisasi? Bukan karena saya pernah menjadi pengurus pada bidang ini. Bukan juga karena saya adalah kader perempuan. Ini hanya sebatas mencoba lebih kritis dengan pemahaman saya sendiri mengenai apa yang terjadi dan apa yang menjadi maksud dari Bidang Pemberdayaan Perempuan. Apakah tidak terlalu jahat dengan kata marginalisasi? Itu berarti terpinggirkan dan begitu tidak dilirik hingga akhirnya hanya itu yang menjadi pilihan akhir. Bahkan saya pribadi sempat memiliki pemahaman yang demikian sebelum kemudian mencoba menelaah kembali kata per kata dari title yang dianugerahkan pada salah satu bidang yang tempatnya disejajarkan dengan bidang yang lain secara konstitusi. Ini sama artinya dengan saya adalah orang jahat karena telah memarginalisasi salah satu bidang yang bahkan oleh konstitusi disejajarkan dengan bidang yang lain. Dan yang menjadi miris adalah saya pernah menjadi bagian dari bidang ini sebagai pengurus dan saya sampai hari ini adalah kader HMI-wati.

Baiklah, mari kita mulai dengan pemahaman saya (dari pikiran jahat saya tentunya) bahwa Bidang Pemberdayaan Perempuan di marginalisasi dikomisariat. Dengan wawasan sebelumnya terkait marginalisasi dan Bidang Pemberdayaan Perempuan, sekaligus kesadaran diri akan kejahatan berpikir demikian. Wajar saja bila orang lain akan melirik seperti ini kepada saya ketika saya berperilaku layaknya apa yang saya internalisasi. Jadi saya akan memulai dari diri saya sendiri sebagai seorang perempuan, sebagai kader HMI-wati, dan sebagai seorang yang pernah menjadi pengurus di bidang PP untuk TIDAK memarginalisasi Bidang Pemberdayaan Perempuan lagi. Berangkat dari apa yang saya renungi mengenai berharganya filosofi title bidang ini dan kekhilafan saya sebelumnya dengan melangkahi kitab suci institusi yang mensejajarkan semua bidang.

Lantas, apa yang saya lakukan setelah saya memiliki kesadaran yang demikian? Sungguh pertanyaan cerdas dari seorang yang kurang cerdas. Ini, yaa tulisan ini yang kemudian telah anda baca adalah wujud dari yang saya lakukan (salah satunya). Dan mari kita bergelut (secara verbal maksud saya) mengenai kelayakan, kepentingan, serta istimewanya Bidang Pemberdayaan Perempuan untuk komisariat khususnya dan di institusi kita umumnya. Sejujurnya, setelah membaca ulang tulisan ini sebelum pembaca yang lain membaca saya sempat terpikir untuk LKK sebagai salah satu langkah kongkrit dari renungan mendalam ini. Bolehkah?

Ini tidak kemudian menjadi opini yang mengajak pembaca untuk ikut sepakat dengan analisis saya, namun menjadi kebanggaan tersendiri pada saya bila tulisan buruk ini mengilhami pembaca untuk mengkritisi kembali apa yang telah terinternalisasi pada diri kita tentang suatu hal. Apa pun itu. Bukan kah kita ilmuwan (baca: orang yang menuntut ilmu – ilmuwati untuk perempuan mungkin)? Bukan kah salah satu sifat ilmuwan adalah kritis? Mari kembali kepada fitrah kita sebagai ilmuwan (ilmuwati karena saya perempuan) yang katanya bangga dengan status mahasiswa.

Yogyakarta, 15 Mei 2013 – 17.26

Alifah Nabilah Masturah

(Wasekum PP Komisariat Periode 1431-1432 H / 2010-2011 M – semester I)

4 thoughts on “Marginalisasi Bidang Pemberdayaan Perempuan

  1. saya bilang dong klo politik HMI-wati lebih baik dari pada HMI-wan, sampai bisa membuat kongres menyepakati berdirinya lembaga semi otonom HMI berjudul “KOHATI”
    heheheee😉

    bila HMI membuat lembaga semi otonom utk HMI-wati dan HMI-wan,, bubarkan saja HMI menjadi dua bagian buat HMI-wan sendiri, HMI-wati sendiri,🙂
    gmana kanda??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s