Manis – Anggun – Smart

Penampilan adalah modal utama seseorang didalam mempresentasikan dirinya didepan orang lain. Sebelum saya tahu bagaimana gaya berbicara anda. Sebelum saya mengetahui bagaimana attitude anda. Sebelum saya memiliki interaksi lebih mendalam dengan anda. Pertama-tama yang saya ketahui tentang anda adalah penampilan. Tidak hanya sebagai kesan pertama, penampilan pun dapat menjadi manifestasi diri didalam menjalankan kehidupan ini. Baik itu dunia sekolah, dunia kerja, gaya keseharian danlain sebagainya. Walaupun pembahasan tentang penampilan tidak dibatasi dengan gender, namun kecenderungan perempuan akan lebih memperhatikan penampilan daripada lelaki. Bahkan sebuah jargon yang entah dipopulerkan pertama kali oleh siapa namun begitu populer dikalangan perempuan. “menjadi cantik itu menyiksa”. Bahkan ketika lelaki mengelak untuk tidak mencari dan melihat perempuan berdasarkan penampilan fisik (yang terlihat), tetap saja menjadi yang terbaik untuk penampilan adalah gengsi bagi seorang perempuan.

Beragam model dari berbagai budaya menunjukkan bagaimana “cantik” untuk seorang perempuan. Burma, Thailand merepresentasikan kecantikan dengan leher yang panjang, bahkan setiap remaja wanita disana rela melingkarkan tembaga berat untuk menopang leher mereka dalam tarikan panjang. Cina merepresentasikan cantik dengan kaki yang kecil hingga rela membalut seketat mungkin demi mengekang perkembangan kaki. Suku Dayak, Indonesia akan menjadi bangga dan merasa cantik dengan lubang telinga yang semakin besar hingga rela menggunakan anting berkilo-kilo beratnya. Apakah menjadi cantik itu sungguh benar-benar menyiksa? Tiga budaya diatas hanya bagian kecil dari budaya lainnya yang memiliki kekhasan tersendiri dalam menunjukkan kecantikan seorang perempuan. Psikologi menyebutkan suatu gangguan kepribadian bertajuk body dismorfic sebagai bentuk dimana seorang merasa sangat tidak percaya diri dengan penampilannya hingga rela melakukan permak pada bagian tubuh mereka. Kemudian, apakah cantik itu menjadi kebutuhan fisik atau psikologis? Saya pikir penampilan akan terlihat secara fisik dan kepuasan adalah sentuhan psikologis didalamnya.

Berbeda dengan cantik yang menampilkan kecenderungan sempurna didalam fisik atau yang terlihat, manis adalah sebuah kondisi tampilan diri yang membuat orang lain tidak akan bosan untuk terus berinteraksi. Saya pikir ini baik bila seorang perempuan tidak ingin hanya berinteraksi pada pertemuan pertama saja dan membutuhkan hubungan sepanjang hayat dengan orang lain. Semua manusia memerlukan hubungan seperti ini. Karena manusia adalah mahluk sosial dan tidak membicarakan gender untuk kebutuhan ini.kebutuhan tingkat tiga dalam teori hirarki kebutuhan yang diperkenalkan oleh Maslow. Kemudian, apakah menjadi manis adalah bakat, atau pembelajaran? Menyiksakah menjadi manis seperti halnya menjadi cantik? Perempuan begitu juga dengan lelaki adalah sebuah karya Tuhan. Karya Tuhan tak pernah “cacat” dalam konteksnya masing-masing. Segala wujud dan sifat yang ada dan dicipta oleh Nya bersama dengan Ia mencipta mahkluk-mahkluk Nya yang memerankan wujud dan sifat itu (tak terkecuali perempuan dan lelaki). Jika manis sebagai wujud diri dalam tampilan kesempurnaan perempuan yang merupakan karya Tuhan dan tak memiliki “cacat”, maka memiliki bakat manis adalah anugrah dan itu hal yang dimiliki oleh semua mahluk Nya yang bergelar perempuan. Namun, tak semua dari mereka menampilkan itu sebagai citra diri mereka. Karena apa yang dimiliki adalah berkah dan apa yang ditampilkan adalah pilihan. Dan perempuan memilih didalam kesadaran sekaligus ketidaksadarannya.

Satu tampilan diri untuk perempuan yang membuatnya menjadi berkelas. Anggun. Tampilan diri yang menunjukkan kepada mereka yang memandang bahwa perempuan adalah mahluk sederhana yang indah, berkilau didalam kesederhanaan. Tak ada institusi yang melatih seorang perempuan menjadi anggun. Tetapi kehidupan mampu membentuk aura keanggunan mahkluk mulia Nya. Dengan segenap aktivitas keseharian seseorang akan menjadi terkesan elegan. Perempuan yang terlihat indah dalam bingkai kesederhanaan. Karena indah itu tak harus mewah. Karena indah itu cukup untuk membuat pandangan menjadi teduh dan berdecak subhanallah.

Perempuan adalah jenis manusia dengan kasta tertinggi mahkluk ciptaan Nya. Tak ada penjelasan yang menerangkan bahwa anugrah akal yang menjadikan mereka berada dikasta tertinggi berbeda (lebih baik/buruk) dari yang dimiliki oleh lelaki. Kemampuan kritis dan analitis yang semakin tajam bila semakin diasah, layaknya sebuah pisau. Suatu wujud yang dianugrahkan kepada perempuan dan membuat mereka berpotensi menjadi smart. Tentunya dengan pilihan mereka sendiri.

Manis – anggun – smart. Adalah citra diri. Tiga rangkaian wujud terbaik perempuan yang saya pilih untuk ditampilkan. Dan direkomendasikan kepada manusia ciptaan Nya yang sejenis. Bukan, bukan karena saya telah menjadi dan menampilkan tiga hal ini sehingga saya sesumbar tentangnya. Saya hanya sedang belajar untuk menampilkannya sebagai sebuah citra diri. Citra diri yang masih belum sempurna dalam gambaran identitas seorang saya. Citra diri yang masih terus berproses menjadi saya secara utuh. Karena sampai akhir hayatnya saya adalah seorang perempuan yang terus belajar untuk menampilkan diri saya hingga disuatu masa saya tak memiliki raga lagi, dunia telah memiliki sebuah pandangan tentang tampilan saya. Akankah digambarkan dengan tiga hal itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s