Jelang Pemilu 2014

Persepsi pada Tokoh Politik sebagai Mediator Hubungan antara Trust dan Intensi Memilih pada Pemilih Pemula

Kepercayaan individu kepada pihak lain merupakan dasar untuk individu tersebut menunjukkan sikap dan perilakunya kepada individu tersebut. Teori-teori psikologi menggolongkan keadaan seperti ini sebagai trust. Worchel (1979) menyatakan trust merupakan kesediaan individu untuk menggantungkan dirinya pada pihak lain dengan resiko tertentu.

Trust diperlukan dalam hubungan individu satu dengan lainnya untuk berbagai konteks kehidupan. Indonesia menciptakan sistem pemilihan presiden secara langsung dengan asumsi kepercayaan masyarakat akan lebih kuat pada presiden yang mereka pilih secara langsung tanpa perantara legislatif. Pemilihan presiden secara langsung pertama kali dilakukan oleh Indonesia pada taun 2004. Terdapat 79,76 % rakyat yang bersedia memilih dari sejumlah pemilih terdata oleh KPU.

Pada periode berikutnya, di tahun 2009 terdata 74,81 % pemilih. Dari data pemilih, hanya sekitar 94 % yang sah dan ± 60 % suara dimiliki oleh presiden terpilih. Apabila terdapat asumsi bahwa rakyat akan lebih percaya pada presiden yang mereka pilih secara langsung, data yang dicatat oleh KPU menunjukkan bahwa penduduk Indonesia yang percaya terhadap presiden tidak mencapai setengah dari jumlah penduduk untuk periode ini.

Grönlund dan Setälä (2007) menemukan korelasi sebesar 0,33 antara trust dengan keputusan memilih didalam pemilihan umum. Bahkan, Dermody, dkk (2010) menyatakan berdasarkan hasil penelitiannya bahwa trust mempengaruhi 51% perilaku memilih.

Penelitian yang lain melihat pengaruh trust pada persepsi politik adalah negatif. Hochwarter et al (1999) menyatakan bahwa konsekuensi negatif dari politik adalah meningkatnya penolakan pada komitmen individu. Poon (2003) menemukan hubungan negatif antara trust dan persepsi politik yang berujung pada intensi tidak memilih yang tinggi. Penelitian sejenis juga dilakukan oleh Othman (2008).

Selain itu, Poon (2003) menemukan korelasi yang negatif antara persepsi politik dengan tingkat kepuasaan yang berujung pada intensi tidak memilih yang rendah, namun terdapat hubungan yang positif antara persepsi politik dan intensi tidak memilih. Goeddeke (2004) menyatakan hubungan positif antara trust dan intensi memilih berdasarkan penelitian untuk disertasinya. Penelitian sejenis juga dihasilkan oleh Yao dan Murphy (2007) serta Carter dan Campbell (2011).

Pemilihan umum presiden dua periode terakhir di Indonesia mengalami penurunan jumlah partisipan. Trust yang memiliki hubungan positif dengan intensi memilih dapat diteliti di Indonesia untuk memetakan intensi memilih pada pemilih pemula dalam pemilu 2014 yang akan datang. Dari beberapa penelitian sebelumnya juga dijelaskan bahwa persepsi politik memiliki hubungan dengan trust dan intensi memilih, hal ini menjadi dasar peneliti meletakkan persepsi terhadap tokoh politik sebagai mediator hubungan antara trust dan intensi memilih.

Berdasarkan paparan diatas peneliti ingin melihat hubungan antara trust dan intensi memilih pada pemilih pemula serta persepsi terhadap tokoh politik sebagai mediator hubungan tersebut. Hal ini dapat menjadi informasi dan pengetahuan tambahan baik bagi pemilih pemula maupun para tokoh politik dalam menyongsong pemilihan umum presiden 2014 mendatang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s