Heyy Kamu: Buku dan Mie Ayam

Buku adalah alasan aku menemui mu. Ketika bermain huruf pertama kali diumur tiga tahun aku mulai mencintai huruf. Ketika buku bergambar hingga komik menjadi tumpukan diatas meja ku, aku mulai mencintai buku. Ketika aktifitas sekolah memperkenalkan keluasan dunia melalui cetak huruf pada lembaran-lembaran buku, aku semakin terpesona dengannya. Hingga aku memilih untuk ke kota ini. Kota dimana aku mengenal mu. Kau ditengah-tengah kota tua yang memikat dengan sejuta pengetahuan mu atas buku. Sesuatu yang aku cintai dan kamu pun begitu. Bahkan tersadar ku atas keberadaan mu adalah karena deretan buku didalam ruangan itu. Ruang yang merupakan tempat favoritku dalam segala macam wujudnya.

Mie ayam adalah alasan aku memikirkan mu. Ketika aku menemukan salah satu makanan favorit ku ada dikantin, aku pun hanya tertarik pada mie ayam. Ku temukan menu ini membuat kita bertegur sapa, berbagi cerita dan tertawa bersama. Membuat ku makin terbiasa dengan hadirmu diantara dua hal yang menjadi kegemaran ku adalah keistimewaan mu. Bahkan buku dan mie ayam bukan sesuatu yang romantis hingga layak untuk menjadi memorable. Tapi keduanya adalah kecintaan ku. Bukankah begitu ari lasso menggambarkan dalam lirik lagunya?

“Sentuhlah dia tepat dihatinya, dia kan jadi milik mu selamanya

sentuh dengan setulus cinta, buat dirinya terbang melayang”

Gambar

Mungkinkah kau melakukan itu tanpa kau bermaksud untuk itu. Bahkan aku pun tidak pernah terpikirkan tentang mu sebelumnya. Sebelum aku menemui mu karena buku dan mie ayam. Dan atas kedua hal yang menjadi kecintaan ku ini aku merasa bahagia sekaligus sedih dalam waktu yang bersamaan. Bahkan ketika sekali lagi, lagi, lagi, lagi, dan menjadi terus-menerus kita berada pada situasi yang menjadikan buku dan mie ayam sebagai sebuah alasan, aku akan tetap berada pada perasaan bahagia dan sedih secara bersamaan. Pun karenanya aku tak berharap ini berakhir. Setidaknya untuk jejak-jejak kisah buku dan mie ayam yang tidak lagi menjadi kenangan ku sendiri, namun menjadi kenangan kita. Perlukah ku minta izin mu dulu untuk setiap kenangan tentang mu? Aku hanya ingin menyimpannya sendiri, bukan karena aku egois, sungguh. Aku hanya tak ingin kita menjadi kecewa setelah kita saling berbagi atas kenangan ini. Aku akan tetap menjalani hari-hari ku dengan terus melukis bias hidup mu pada bingkai hidup ku. Dan bila kau lakukan hal yang sama untuk ku. Aku akan sangat senang sekali menjadi sebuah jejak dihati mu. Walaupun aku tak berpikir bijaksana bila kita saling berbagi, tapi bisakah kau tidak berpikir bahwa aku egois dalam hal ini. Karena kau, buku dan mie ayam menjadi satu bingkai dalam galeri hati ku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s