Surat

University Inn (Malang) 24-25 Mei 2012

 

Sudah dua tahun berlalu dari pertama kali nya saya menggoreskan permintaan saya pada lembaran-lembaran kertas di buku merah itu. Permintaan yang sampai hari ini menjadi nafas saya, yang saya ikhtiar kan penolakan nya namun saya mohon kan kepada Nya. Tak bermaksud bersikap tanpa prinsip di depan Mu. Saya berterima kasih pada limpah ruah nya nikmat Mu, dan di saat yang sama pun terbuai oleh alunan ujian Mu. Saya masih meminta itu saat ini. Tuhan, Engkau mengetahui ini. Kau Maha Mengetahui.

Saya punya tiga orang sahabat. Baik dan buruk nya mereka adalah anugerah bagi kehidupan saya. Kehadiran ketiga nya dalam alunan kehidupan saya membuat saya paham akan tajam nya goresan kebencian pada tipis nya kain ketulusan pada sahabat. Saya tidak tersungkur karena kalian, sekali pun puing-puing kepedihan masih berserakan di hati saya. Gunung Bromo yang kita daki tak setinggi memori indah kebersamaan kita. Panjang nya jarak Landungsari-KNPI yang kita lalui tak sebanding dengan lika-liku aktivitas kita. Karena mengenal kalian menjadikan warna indah dalam kehidupan saya.

Disini kita lebih dari saudara. Dunia yang membuat saya tak mengindahkan dunia lain nya. Dunia yang Nampak luluh lantak tanpa serpihan debu sebagai sisa nya. Tapi tetap kawan-kawan lebih dari saudara bagi saya. Mereka yang berproses lebih dulu dari saya. Mereka yang memulai proses bersama saya. Mereka yang berproses setelah saya. Mereka yang saya temui saat saya berproses. Semua adalah bagian dari inspirasi sisa waktu saya mengemban amanah di bumi Nya. Karena kita mendidik bersama, terdidik bersama. Ini lah yang dimaksud lebih dari sekedar saudara. Dan saya menemukan itu dari masing-masing kalian. Meskipun goresan saya tak jarang melukai kertas tulus kawan-kawan. Meskipun lakon saya tak selalu membanggakan kawan-kawan. Kanda, yunda, dinda, sobat terima kasih kepada jejak kita yang lebih dari langkah persaudaraan.

13 tahun berselimut kan atap yang sama bersama beliau mendidik saya untuk matang mengemban amanah Nya. Saya dititip pada beliau, dan beliau mengelola amanah besar bertajuk saya. Dengan kasih tak terhingga, dengan harapan tak berujung, dengan peluh tak terasa. Setiap langkah akademik saya adalah milik beliau, walau itu tak mampu menghapus tiap tetes keringat dan jerih payah beliau, karena saya tak kuasa untuk hal yang lain, dan lebih dari jejak-jejak formal tersebut. Dan ini jauh, bahkan sangat jauh sekali dari ingin beliau pada titipan Tuhan berwujud saya ini. Walaupun apologi tak kan menjadi pengobat luka. Saya mohon ampun dan maaf pada bongkahan batu yang mengganjal mimpi beliau akan kebahagiaan bermasyarakat.

Tak banyak ungkapan cinta yang saya terjemhkan dalam kegiatan saya bersama nya. Dia yang menjadikan kehidupan kecil saya ramai akan segala rasa dan kebanggaan untuk mengayomi. Meski saya tak berperan dengan patut. Tak juga membimbing nya. Tak juga mencontohkan cara bersikap pada nya. Maaf sekali waktu sering membuat mu terluka dan dibayang-bayangi kepahitan yang sejujurnya tak perlu kau risaukan. Semacam memotong langkah kreatifitas mu namun kau tetap setia menjadi teman berbagi keluh kesah. Usia mu yang empat tahun tiga bulan lima hari lebih muda dari saya tak menjadikan hubungan kita hierarki. Bangga adalah luapan emosi yang membuncah dari hati saya saat terbersit akan lakon mu. Hadiah Nya yang kerap kali tak saya jadikan yang nomor satu namun selalu siap siaga melangkah kan kaki nya bersama saya.

Bulan kesepuluh bagi saya menyadari kehadiran nya. Sesosok raga berbalut ketulusan hati yang selalu berharap mengenal saya lebih awal dari 03 Agustus 2011 dan lebih lama dari pada sekian waktu yang saya bersama nya habiskan. Penuh semangat, penuh harapan, penuh mimpi adalah setiap jejak saya bersama nya. Hingga membuat saya semakin sendu. Karena semakin saya menggenggam hati nya, semakin saya menyakiti nya. Saya tak boleh meminta maaf pada nya. Ini akan melukai nya. Saya pun tak pantas berterima kasih pada nya. Karena dia tak terhingga bagi saya. Namun saya menikmati maraton saya bersama nya untuk mengejar cinta pada dentingan waktu. Karena bagi saya, semangat yang mengalir dalam setiap karakter hidup nya adalah segenap syukur akan Maha Kasih Tuhan kepada makhluk Nya.

 

Selesai pukul 00.32 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s