Serpihan Kehidupan

Jejak tanpa nama

Jalan yang dilalui masih panjang, menelusuri setiap liku kehidupanmu. Didalam penghayatan ku akan dunia, aku mengenal mu, Yang menghadirkan senyum dan memberi segenap sentuhan warna yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Ini hanya pertemuan sederhana, ini hanya obrolan sederhana, ini hanya harapan sederhana. Namun semuanya mampu menghadirkan berjuta makna dan mengukir berjuta keindahan dalam dunia ku. Untaian kata demi kata mencoba menerjemahkan rentangan waktu sebelum kau dan aku saling mengenal. Masih banyak yang harus diucap, disampaikan dan dipahami sebelum kita benar-benar saling mengerti satu dengan yang lainnya.

Saya belum pernah menenal percikan warna ini. Jenis kehidupan yang masih asing bagi saya dan kau tawarkan dengan gaya yang manis. Apa pun itu namanya. Dan bagaimana saya harus mengucapkan itu, beginilah kita dengan setiap kisah yang saya pun belum mampu menyebutkan judulnya.

Saat rotasi berada pada titik terendah

Ketika aroma angin menyusup keheningan malam

Terdiam kaku segenap raga

Tanpa sentuhan jiwa hati ini telah mati, sudah sejak lama

Batin ini telah beku, pun telah lama

Saya lupa bagaimana cara menghirup dan bernafas

Dan beginilah kehidupan dengan sejuta ceritanya. Saya tak akan terus berada pada titik teratas dari rotasi kehidupan, mungkin iniah waktu-waktu terberat dalam kehidupan. Tapi ini akan berlalu. Roda akan kembali berputar, dan kemudian mengantarkan saya kepada titik-titi kehidupan yang lain. Dan seandainya saya enggan untuk beranjak dari zona nyaman yang saya bangun. Sama halnya saya berada pada sebuah rumah dan tetap disana selamanya. Bukankah itu tidak baik. Maka, betapa pun rapuhnya jiwa ini. Saya masih diberi waktu untuk menghirup udara. Hingga saya tak punya waktu lagi untuk produktif, dan memperlihatkan kepada-Nya. Betapa tidak sia-sianya saya terlahir. Karena seharusnya saya berharga. Karena seharusnya saya tidak hanya seongok daging berbalut kulit. Toh semua manusia pernah jatuh, th setiap kehidupan berotasi. Toh kisah saya bukanlah kisah paling tragis. Toh saya masih tetap survive hingga hari ini. Lantas apa yang menjadi permasalahan, ketika saya menyrntuh titik terendah pada sebuah perputaran kehidupan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s