Ketika sistim tak berlaku pada rakyat

Adalah sebuah negara yang memiliki pemerintahan legislatif dan eksekutif.  Keduanya bertanggung jawab kepada yang berkuasa dengan peran dan fungsinya sendiri-sendiri. Segala bentuk kegiatan yang akan diselenggarakan oleh kedua pilar negaras tersebut harus melalui persetujuan yang berkuasa. Pun dana yang digunakan juga atas persetujuan yang berkuasa. Legislatif dipilih oleh dan dari rakyat, dengan cara pencalonan anggota parlemen melalui partai. Eksekutif pun dari dan oleh rakyat, namun hanya melakukan pemilihan untuk pucuk pimpinan saja. Fungsionarisnya adalah urusan ketua. Open reqruitmen jalan yang adil, rakyat yang bersedia dan telah melalui tahapan screening. Dan dinyatakan lulus. Ia lah sang fungsionaris eksekutif. Tak perlu berbelit-belit, toh sudahdiatur oleh yang berkuasa.

Hingga pada suatu masa dimana akan diadakan pemilihan anggota yang baru untuk legislatif dan ketua baru bagi eksekutif. Hingga pada hari menjelang pelantikan pemerintahan eksekutif, tak ada seorang pun dari rakyat yang mengajukan diri sebagai calon legislatif, kedua partai yang memperebutkan pemerintahan eksekutif pun tak bergeming atas kekosongan ini. Ada apa dengan pemerintahan? Yang berkuasa tak mau repot, melimpahkan kesulitan ini pada legislatif yang masa jabatannya telah berakhir. Ini salah, yang berkuasa tak peduli. Legislatif terdahulu pun tak merespon. Untuk apa, tahun kemarin mereka tidak diperhatikan, hanya respon setengah hati untuk kegiatan yang mereka niatkan. Eksekutif pun tak bersuara. Seakan tak peduli atas ketimpangan sistim. Bukankah tanpa legislatif mereka akan lebih bebas? Itu artinya mereka bekerja tanpa pengawasan, karena yang berkuasa pun tak kan melihat dengan detail, mereka hanya tahu beres aja. Eksekutiof yang baru pun bersorak.

Yang berkuasa mulai repot, dan dengan sisa-sisa semangat yang ada coba menggandeng para tetua-tetua rakyat. Meminta kesediaan mereka menjabat hak legislatif dinegara itu. Tak ada sistim yang berlaku. Segala aturan negara yang telah diatur tak diperhatikan. Asalkan pemerintahan terlihat hidup oleh negara lain. Yang berkuasa sudah lega. Belum melihat respon seluruh rakyat.

Pedulikah rakyat dengan pemerintahan yang eksekutif dan legislatif? Pedulikah rakyat akan ketidak sesuaian sistim yang dilakukan oleh yang berkuasa? Toh itu tak mengubah apa pun pada kehidupan rakyat. Karena pemerintahan tak kan mendatangkan keuntungan bagi rakyat, malah mengganggu bagi beberapa rakyat. Yang berkuasamenyuguhkan tuntutan aktivitas yang padat bagi rakyat, dan berharap rakyat mau menambah kesibukannya lagi dengan bergabung di pemerintahan. Rakyat mana yang berminat? Di pemerintahan atau tidak pun, tak mengubah citra mereka dihadapan yang berkuasa. Ketika yang berkuasa tak peduli pada pemerintahan, mengapa rakyat harus apresiat? Hanya sekedar, agar tak dipandang berbeda oleh negara lain. Rakyat tak peduli. Yang berkuasa merasa puas karena beberapa tetua yang menghadap menyetujui mengisi kekosongan kursi di legislatif. Satu pertanyaan kecil dari seorang rakyat dikamar sempitnya. Apakah para tetua rakyat menyadari keinginannya dengan rasional, atau kah rasa sungkan dan kasihan pada yang berkuasa yang menentukan pilihan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s