Bolehkah ini sebagai alasan..?

Beberapa bagian yang mewarnai kehidupan ku, datang mendekat atas nama cinta. Aku tersenyum tak menolak, aku tahu dan yakin akan warna itu karena ia selalu mewarnai langkah ku, dengan segala macam perwujudannya yang beraneka ragam. Betapa anggun warna itu, menelusup kedalam kehidupan dengan lembut, dan menjadi segala alasan atas setiap tingkah laku. Sang rasional menjadi tak berlogika, sang perasa menjadi pujangga. Ingin mengikuti permainan warna dalam waktu yang lama, menjadi bagian dari coraknya. Dan melupakan realitas yang mematikan senyuman anak manusia dengan begitu kejamnya. Bila itu bisa disebut penyelamatan diri atas kesempatan yang ada. Toh belum tentu warna itu kan menyentuh kehidupan ku lagi.

Ahh, sama sekali tak anggun kawan. Toh realitas dunia tak sekedar memberikan luka pada seorang pemuja keeksotikan rasionalitas pikiran. Pelajaran kehidupan yang menghantarkan manusia pada kematangan proses. Karena sebuah ruang didalam hidup yang telah menjadi bagian dari amanah telah diterima dengan kesadaran penuh, tak dipilih untuk mengangkat tameng alasan yang menepis segala sanggahan. Karena segenggam warna yang sama pun telah menyentuhkan keindahannya pada tanggung jawab yang menjadi pilihan ku untuk menikmati realitas kehidupan yang tak akan ada ‘previously’nya.

Ketika sejuta wajah tersenyum pada ku sebagai bentuk pancaran kebahagian yang terpercik dari warna indah kehidupan akan menghilangkan titik-titik peluh pada wajah lelah yang telah tertampar oleh dunia. Tangan ini, yang diseret untuk merangkai sejuta senyuman itu tak boleh terkulai lemah, karena tangan yang sama lah yang akan ku gunakan sebagai penyapu peluh yang telah membanjir. Sendiri. Itu pun adalah bagian dari warna yang menyebut dirinya cinta. Datang dengan bentuk sederhana, perih, namun mengharukan. Saya bangga dapat merasakan warna ini.

Ketika seorang sosok mengulurkan sapu tangan yang berwarna cinta sebagai penyapu peluh dengan penuh ketulusan jiwa, cukup sederhana untuk merekahkan senyuman pada wajah kelelahan. Namun tak akan mengharukan. Bila satu sosok yang menyentuhkan warna kenyamanan dalam cintanya menghapuskan sejuta wajah penuh cinta yang tersenyum dalam cintanya. Warna yang berbeda dan indah keduanya indah pada porosnya masing-masing. Saya bangga merasakan keduanya. Dan tak kan bahagia kehilangan keduanya atau satu diantaranya. Mari kita kembali pada realitas kawan, setiap langkah adalah menetapkan pilihan. Karena cabang kehidupan begitu banyak. Bahkan warna-waran dalam cinta juga bercabang. Dan warna itu tak akan menyapa untuk yang kedua kalinya, ia akan terus berkelana untuk mengisi ruang-ruang kisah yang hampa dengan sentuhan warnanya.

Cukup lah mindset saya yang belajar untuk meyakini akan ada banyak sosok yang akan kembali mengikhlaskan sapu tangan sebagai pengusap peluh dalam warna yang berbeda. Toh ini lah cara saya menikmati aneka warna pada cinta. Karena berjuta wajah dengan senyuman ketulusannya tak akan menunggu. Biarkan lah sesosok dalam berjuta wajah penuh senyuman itu menebarkan senyumnya pada sosok-sosok yang lain untuk mendapatkan sejuta wajah penuh senyuman yang lain pula. Karena beginilah cara yang indah untuk memelihara keindahan warna.

Tak bermaksud mengabaikan sosok sederhana yang telah dan pernah berbaik hati menghapus peluh ini. Karena saya sangat bahagia pernah tersentuh warna yang manis ini. Dan tak kan berniat membuat kebaikannya menunggu, mungkin tak patut untuk lama saya rasakan. Ada peluh lain yang mengharapkan ketulusan sosok sederhana tanpa sejuta wajah dibelakangnya. Karena saat saya berani menerima segala warna kebahagiaan dalam cinta. Saya masih belajar untuk melepas warna kebahagiaan yang disuguhkan cinta.

Bukan belajar merangkai alasan, hanya belajar menyampaikan realita. Dan warna itu masih tetap indah kawan. Karena Allah telah memilihnya sebagai suatu bentuk keindahan. Yang tak patut disesali karena pernah menyentuh kehidupan kita.😀

*kepada dia yang pernah dengan indahnya menikmati warna itu bersama saya, kepada dia yang menawarkan indahnya menikmati warna itu kepada saya, kepada dia yang sempat terpikir untuk merasakan indahnya warna itu bersama saya. Bisa dijalani bersama kawan, dengan sejuta wajah dengan senyuman yang merekah karena warna yang serupa. Dalam rupa yan berbeda, karena tidak sekedar antara kau dan aku. Bukan waktu yang tepat untuk membahas kita. tidak disaat sejuta wajah penuh senyum itu terus merekah. Bahagia memandang senyuman mereka. Sebentuk warna yang sama sekali tak sama, yang ku rasakan ketika bersama mu.

2 thoughts on “Bolehkah ini sebagai alasan..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s