Beginilah Aku Part II

MASA TK – aku akan tertawa kalau di tanya lulusan TK mana. Gimana ga, kalau aku ga pernah lulus dari TK, tapi aku pernah sekolah di TK ISLAM di BULUNGAN. Ini juga yang menjadi asal muasal kenapa aku sudah berada di semester IV bangku perkuliahan disaat aku masih berumur 18 tahun. Aku masuk TK saat berusia 4 tahun. Umur segitu, hemat ortu ku adalah aku akan menikmati 2 tahun ku untuk bermain-main di TK. Tapi mama terlalu berbaik hati untuk mengajarkan ku gmana membaca dan mengenal angka-angka. Ternyata setiap malam yang ku habiskan di rumah dengan mama [walau tanpa ijazah] lebih manfaat + berilmu daripada siang hari yang ku habiskan di TK. Bermain, bernyanyi, melipat origami. Di rumah aku udah bisa karaoke. Hufh. Aku bosan sekolah TK. Pemacu lainnya adalah sii zulkifli tetanga ku itu. Dia memang setahun di atas ku. Walau pun dia ke TK setahun lebih awal dari ku, aku ga terima dia sudah berganti seragam SD di tahun kedua aku harusnya masih bermain-main di TK. Aku juga ingin memakai seragam putih – merah, sama dengan yang dia pakai. Bagaimana tidak, kami bermain bersama, tetapi kami pergi ke sekolah yang berbeda tiap paginya. Aku nambek ga mau ke TK. Aku minta baju yang sama dengan yang kifli punya. Bahkan aku bisa karoeke lebih baik dari dia [dalam kualitas membaca teks ≠ kualitas suara, karena toh suara pria-nya lebih siip daripada suara datar ku]. Jadilah hari itu mama harus beralasan mencari izin aku tidak ikut bermain-main di TK hari itu. Padahal beliau sudah cukup repot dengan adik ku yang masih bayi, tapi masih harus direpotkan dengan rengekan manja sii anak sulungnya yan minta pindah sekolah. Betapa tidak pengertiannya aku kala itu. Untung aja ada tante ku yang juga guru kelas satu, berbaik hati meringankan beban mama. Dia menawarkan diri untuk mengajak ku menikmati kelasnya. Akhirnya aku memakai seragam yang sama dengan yang di pakai kifli. Tapi sempat protes juga karena aku memakai kain lipit yang dililit di pingang, sedang tetangga ku pakai celana. Tentu saja aku tidak bisa manjat pagar lagi dengan seragam begini. Tapi aku menjadi lega karena teman-teman ku di kelas [yang wanita saja] juga memakai jenis yang sama, yang kami sebut “rok”. Aku belum lulus dari TK, dan juga bukan keluar dari sana, aku hanya izin. Dengan harapan [hanya ortu aja ne yang berharap, aku sii ga] bahwa ternyata aku merasa tidak nyaman di SD, dan akan memilih kembali bermain dengan teman-teman TK ku. Walau pun aku masih sempat protes karena tidak di sekolah yang sama dengan kifli [tentu saja kifli masuk SD favorit yang hanya menerima siswa legal berijazah TK atau cukup umur], dan aku hanya menyambangi sekolah sederhana dekat rumah yang guru wali kelas satu-nya adalah tante ku. Tapi aku cukup menikmati hari-hari ku dengan seragam kebanggaan ku yang seperti bendera Indonesia di balik itu. Dan harapan ortu ku adalah tingal harapan. Aku tidak pernah menanyakan kepada bapak, bagaimana urusan beliau dengan mantan TK ku, entah kenapa sampai hari ini aku tidak berminat mendengar kisahnya. Yang jelas, walau pun aku belajar dan mendapatkan perlakuan yang sama dengan teman-teman kelas ku, aku tidak terdaftar sebagai siswa di sekolah itu. Sampai akhirnya semua teman sekelas ku harus melanjut ke kelas 2. Bapak ke sekolah  dan menghadap kepala sekolah. Ini adalah pertanyaan dari otak mungil ku kala itu. Kenapa bapak harus mengambil rapot ku di ruang kepala sekolah, sedangkan orang tua teman ku cukup mengambilnya di guru wali saja. Yakni tante ku. Aku piker bapak ku salah ruangan. Tapi aku tahu aku yang selama ini cukup merepotkan karena tidak mensyukuri sekolah yan ada. Dan aku baru paham aku berada di kelas yang salah pada umur yang salah ketika aku sudah SMP. Aku sudah tidak ingat lagi siapa kepala sekolah ku yang sangat pengertian itu. Bapak bilang, dia tidak perlu berlama-lama di ruangan kala itu. Dia hanya menanyakan satu hal kepada pak kepsek, “anak saya berada di peringkat tigaa di kelasnya. Saya bangga atasnya. Bila dia tetap di kelas satu = dia tinggal kelas. Bila yang peringkat tiga saja harus tetap di kelas satu, berarti teman-teman anak saya yang peringkatnya di bawah dia juga tetap di kelas satu donk pak. Bagaimana menurut anda?” dan akhirnya aku melanjutkan sekolah ku seperti normalnya. Seolah-olah udah cukup umur gitu deh. ^o^

MASA SD – di waktu ini juga tak banyak yang dapat diingat. Hanya yang membuat ku bangga adalah halaman belakang rapot ku terisi penuh akibat berada di tiga sekolah yang berbeda dalam waktu tiga tahun masa sekolah ku. Yang unik lagi, waktu aku kelas 4, kan masih pakai sistim cawu tuh, nah aku berada di 3 sekolah yang berbeda dalam waktu 1 tahun. Cawu I ku habiskan di MAKASSAR, cawu II di BULUNGAN, dank ku akhiri kelas 4 ku, sekaligus SD terakhir yg menampung ku sampai tamat adalah SDN UTAMA I NUNUKAN. Setelahnya aku tidak berpindah-pindah lagi. Padahal, sekolah berpindah-pindah itu menyenangkan menurut ku. Ok, murni about SD, biar tak terkesan membohongi public, hehehee [LEBAY MODE ON]. Aku SD dengan paksaan pertama kali di SDN 029 TG. SELOR. [kenapa paksaan, baca masa TK ku please, telah di jelaskan disana]. Aku berkelana memuaskan diri akan ilmu disana selama 2 tahun. Naik kelas 3 aku berlayar ke MAKASSAR. Menjajah SD BANGKALLA I. itu pun hanya 1 tahun 3 bulan aja. Karena hanya meniringi masa study bapak yang melanjutkan sekolah ekonominya di Makassar. Ini lah awal ku memecahkan rekor sekolah ku dengan berada di 3 sekolah yang berbeda selama 1 tahun. Selasai study bapak, kami pun kembali ke TG. SELOR sekeluarga. Pun masalah sekolah ku. Itu hanya sebentar saja, hanya satu cawu. Dikarenakan pemindahtugasan bapak ke NUNUKAN. Tempat ku menamatkan SD ku. Sampai sekarang aku lost kontak sama teman-teman ku yang SD di TG. SELOR dan MAKASSAR. Dan ini mengecewakan ku. Aku bukan teman yang cukup baik hati yang tetap menjaga komunikasi dengan teman ku. Padahal di waktu SD ku di makassar, aku mengenal pertama kalinya arti teman. Arti berbagi. Indahnya melakukan segala sesuatunya bersama. Bermain, mengaji di mesjid, terawih bareng, pulang-pergi sekolah. Tapi aku masih mengingat nama dan wajah mereka, kalau kalian iseng dan TUHAN mengizinkan membaca ini. Indah, Tatik, Ridwan, Diana. Dan yg lainnya. Mungkin kalian masih meningat ku. Saying sekali dahulu aku tidak mengenal kata narcis dalam hidup ku, dan tak ada photo kalian yang bersama ku. Ini adalah kabar yang menyedihkan. Tapi aku masih tetap berpegang pada prinsip bahwa ukiran wajah pada hati ku akan terus terjaga selamanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s