Raja yang Adil dan Bijaksana

Di balairung kerajaan Ontohod sedang ramai, maklum ini adalah hari Sabtu, hari dimana seluruh rakyat Ontohod diperkenankan menghadap Paduka Raja Sima Aing Simamaung Aing Kasima Kumaung untuk mendapatkan keadilan.  Siang itu ada beberapa perkara yang telah diselesaikan dengan adil dan memuaskan semua pihak.  Menjelang Paduka Raja meninggalkan balairung ada dua wanita menghadap sambil menangis dan membawa seorang bayi.

Wanita I         : “Paduka tolonglah hamba menyelesaikan masalah kami”

Punggawa      : “Waktu meminta keadilan sudah habis, datang lagi saja sabtu depan”

Wanita II        : “Tidak bisa, ini masalah penting sekali, karena menyangkut nyawa hamba Tuan”

Punggawa      : “Ah…… tidak bisa, Paduka mau beristirahat, huh….. bukannya dari tadi, bikin repot aja”

Paduka Raja Simamaung mendengar keributan itu, berbalik ke arah mereka bertiga.

Raja               : “Ada apa punggawa, kok ribut-ribut”

Punggawa      : “Begini paduka, kedua wanita ini mau minta tolong”

Raja               : “Minta tolong apa heh…..”

Punggawa      : “E….. anu….. paduka….. e……”

Wanita I         : “Begini paduka raja……..”

Raja               : “Sebentar, aku tidak tanya kamu, aku tanya punggawa, tau tidak masalahnya ?”

Punggawa      : “Ampun paduka………”

Raja               : “makanya kalo jadi abdi negara itu harus jadi pelayan rakyat, dan cerdas, tanya dulu apa masalahnya, paham kamou”

Punggawa      : “Daulat paduka……”

Raja Simamaung kembali duduk di singgasananya dikuti oleh majelis penasihat dan permaisuri serta Pangeran Kodok.

Raja               : “Baiklah, siapa nama kalian ?”

Wanita I         : “Nama hamba Saritem”

Wanita II        : “Hamba Sarkem paduka”

Raja               : “Apa masalah kalian, coba ceritakan sejelas-jelasnya sehingga aku dapat mengambil keputusan yang bijak”

Saritem          : “Begini ceritanya…….., kami adalah tetangga, tinggal di pinggir hutan G. Burangrang, dua hari yang lalu suami kami…….”

PM                 : “Oh, jadi kalian ini madu ya….?”

Sarkem          : “Bukan tuan, maksudnya suami saya dan dia tuan……”

PM                 : “oh….. makanya ngomong yang jelas, to the point, kalo kata anak HMI kongkret gitu”

Raja               : “Jangan dipotong dulu, teruskan Tem”

Saritem          : “Dua hari yang lalu suami kami berburu, kami hanya tinggal berempat dengan bayi kami, bayi-bayi itu kesayangan kami bersama, trus tadi malam ketika kami sedang tidur, ada harimau masuk ke rumah kami, dan kami tidak bisa berbuat apa-apa”

PM                 : “Jadi masalahnya minta agar harimau itu diusir ?”

Saritem          : “Bukan tuan……”

Raja               : “Heh gak kapok-kapok………(logatnya kayak iklan Coca-Cola), jangan potong dulu”

Sarkem          : “Harimau itu memakan bayi dia, tuan…….”

Saritem          : “Bohong, yang dimakan harimau itu bayi dia……”

Kedua wanita itu berebut bayi sambil menangis meraung-raung sambil tetap berteriak bahwa bayi yang sekarang mereka bawa adalah bayinya.

Raja               : “Cukup…… cukup……, jangan nangis terus dong, biar aku bisa memutuskan bayi siapa ini, Perdana Menteri bagaimana masalah ini ?”

Pangeran       : “Au….. akh, gelap, tapi bukan aku loh yang harus tanggung jawab”

Raja               : “Aku gak tanya kamu kok, he he he”

PM                 : “Begini paduka, pasti salah satu dari mereka bohong”

Pangeran       : “E…… orang desa juga tau, salah satunya pasti bo’ong ………(logatnya kayak iklan Coca-Cola)”

Raja               : “Hmm………., jadi bayi siapa ini ?”

Saritem          : “Bayi hamba paduka”

Sarkem          : “Bayi hamba paduka”

Raja               : “Jadi gak ada yang mau ngalah nih……”

S & S             : “Tidak, sampai mati pun, gak rela gak rela ……….”

Raja               : “Baiklah kalo begitu, aku akan mengambil keputusan, apa pun keputusanku harus diterima, mengerti ?”

S & S             : “Daulat paduka…….”

Raja               : “keputusannya………..………(logatnya kayak iklan Milanta),  Perdana Menteri kesini sebentar”

Perdana Menteri mendekat Raja Simamaung.

Raja                 : “Bagaimana penyelesaiannya nih”

PM                    : “Bagusnya suruh suit aja paduka”

Raja                 : “hmmm……., (merenung sejenak) jadi keputusanku adalah belah saja bayi ini dengan adil, kasihkan pada mereka masing-masing sebagian, mudah-mudahan ini adil, kasus ditutup, laksanakan segera”

Punggawa segera mengambil bayi itu dan siap membelahnya

Sarkem          : “Alhamdulillah, paduka memang benar-benar raja yang adil”

Saritem          : “Ampun paduka, jangan dibelah, hamba rela bayi itu diserahkan pada Sarkem, tetapi jangan dibelah (sambil menangis memohon)”

Raja               : “Punggawa jangan dibelah, berikan bayi itu pada Saritem, karena dialah yang berhak atas bayi itu, dan kamu Sarkem hadapilah suamimu”

Punggawa      : “Daulat paduka…….”

Saritem          : “Terima kasih paduka”

Raja               : “Jaga baik-baik anakmu itu, kalian ini aneh malah rebutan bayi, padahal di jaman modern banyak yang justru buang bayinya,………”

 

* * *

 

Malam itu malam Sabtu, Sang Raja sedang berada di Mushola Istana untuk melaksanakan sholat lail.  Raja Simamaung sangat taat melaksanakan ubudiyah, setelah sholat beliau pun berdoa.

Raja               : “Ya Allah, kuatkanlah hambamu ini dalam menjalankan amanah yang Engkau berikan untuk memimpin bangsa Ontohod ini, selama ini hamba selalu menjalankan perintah-Mu dan menjauhi larangan-Mu, dalam memerintah di negeri ini hamba selalu menegakan hukum-hukum-Mu, biarkan hamba terus berbuat adil karena kehendak-Mu, ya Alah kabulkanlah doa hamba. Amin”

Raja (dalam hati) : “Setiap keputusanku pasti diridhoi Allah, bukankah aku sangat taat”

 

* * *

 

Siang itu seperti biasa digelar pertemuan dengan rakyat yang mau mengadukan nasibnya pada Raja Simamaung secara langsung.

Raja               : “Punggawa, silahkan panggil kasus berikutnya”

Punggawa      : “Endang Saifudin Anshari, Nurkholis Madjid, dan Sakib Mahmud, silahkan menghadap paduka”

Tiga orang bersaudara yang dipanggil pun menghadap.

Punggawa      : “Paduka, mereka telah siap”

Raja               : “Ceritakan masalah kalian”

Endang          : “Daulat paduka, kami adalah tiga bersaudara, saya anak sulung, Nurkholis anak tengah, dan Sakib anak bungsu, seminggu yang lalu ayah kami meninggal dunia, beliau meninggalkan warisan sebanyak 17 ekor sapi, namun dalam wasiatnya beliau telah menentukan bagian-bagian yang menjadi hak kami, yaitu saya mendapat setengahnya, Nurkholis mendapat sepertiganya, dan si bungsu mendapat sepersembilannya”

Raja               : “Kenapa tidak kalian laksanakan pembagian itu ?”

Nurkholis       : “Masalahnya Paduka, beliau mensyaratkan untuk tidak memotong satu pun sapi itu”

Sakib             : “Betul paduka”

Raja               : “Hmmm…….. gitu ya”

PM                 : “Paduka masalah ini biar hamba yang tangani”

Raja               : “Tidak perlu, aku juga sanggup, karena aku Raja paling bijak dan paling taat pada Allah, betul !”

PM                 : “Ampun paduka………”

Raja               : “Nah, sekarang aku sita saja barang sengketa itu, karena ini akan membuat kalian terus bersengketa”

Nurkholis       : “Ampun paduka……., jangan disita itu harta kami satu-satunya”

Endang          : “Paduka, hamba yakin paduka akan mengambil keputusan yang terbaik, jangan disita”

Raja               : “Tidak, ini keputusan final, sapi-sapi itu disita negara, dan kalian akan diberi oleh negara masing-masing dua ekor, kan adil, bersaudara kok beda-beda”

TB                  : “Paduka tidak adil dan bijaksini”

Raja               : “Sudah……… sudah……… kasus ditutup, dan keputusanku adil, aku kan Raja yang selalu manut pada Kitabullah, jadi gak mungkin aku berbuat sewenang-wenang, memangnya ada Raja yang lebih adil daripadaku ?”

Sakib             : “Paduka benar-benar dzalim”

Raja               : “Kalian tak terima ?, ingat ayat Taatlah kamu pada Allah, dan Rasul, dan pemimpin diantara kamu, maka kalau kamu menentangku berarti menentang Allah dan Rasul, kafir kamu”

TB                  : “Paduka sudah gila”

Raja               : “Apa ??!! kalian menghinaku, menghinaku sama saja dengan menghina Allah dan Rasul, kalian telah murtad, Punggawa hukum mati mereka !!!!!”

Cerita berakhir sampai disini dulu, pusing, teu ngarti mo nulis naon deui.

Pada dasarnya bahan bacaan adalah stimulan pembahasan masalah, jadi sama dengan media lainnya tergantung fasilitator mengembangkan diskusi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s