Konsep Islam Tentang Iman

Urgency Iman dan Implikasi didalam Kehidupan

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (Q.S. Ali Imran: 102)

Sebuah penjelasan sederhana tentang Iman adalah ‘meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan melakukan dengan perbuatan.’ Yang hanya akan dilakukan oleh seseorang ketika ia telah berislam. Dr. Muhammad Syahrur menulis dalam “Islam dan Iman – Aturan-Aturan Pokok” bahwa, menurut kami, orang muslim[1] terkadang menjadi orang mukmin[2] tetapi kadang tidak. Artinya seseorang yang mempercayai adanya Allah, hari akhir, dan beramal saleh terkadang mempercayai kerasulan Muhammad tetapi bisa jadi tidak. Tetapi untuk menjadi mukmin seseorang terlebih dahulu harus menjadi muslim.[3]

Ketika kita membicarakan keimanan. Ini tidak akan terlepas dengan dengan akidah. Akidah disebut pula keyakinan, yakni aspek keimanan terhadap Allah dan semua yang difirmankan-Nya untuk diyakini. Sebagai nilai, akidah berisi ajaran dan apa saja yang harus dipercayai, diyakini dan diimani oleh setiap muslim. Jadi, dienul Islam berpijak dan bersumber pada kepercayaan dan keimanan kepada Tuhan. Ia merupakan system kepercayaan yan mengikat manusia kepada Islam. Seseorang bisa disebut muslim bila dengan penuh kesadaran ia bersedia terikat dengan sistem kepercayaan Islam, karena itu, akidah merupakan ikatan dan simpul besar yang pertama dan utama.[4]

Akidah adalah keimanan yang benar dan kuat dalam hati setiap mukmin, yang punya peranan penting karena[5]:

  1. Akidah menyadarkan manusia bahwa ia adalah makhluk, pasti ada pecipta Yang Maha Agung yang telah menjadikannya denan sempurna dan mengaruniainya dengan bermacam nikmat.
  2. Akidah mengenalkan kepada manusia mengapa ia diciptakan. Ia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, untuk kemakmuran bumi dan kemaslahatan bagi umat manusia.
  3. Akidah juga mengingatkan manusia akan tujuan perjalanannya di dunia, apa yang akan ia hadapi setelah hidup dan mati.
  4. Ia juga mendatangkan perasaan sejuk, tenang, dan tentram, serta membangkitkan rasa bergairah, harapan dan kesabaran dalam iwa manusia.
  5. Akidah juga menjadi pendorong manusia berbuat kebaikan dan menunaikan tugas kewajiban, mengingatkan mereka untuk tidak berbuat aniaya, melampaui batas dan kerusakan dipermukaan bumi.
  6. Akidah islam mengajak untuk salin menolong, mengikat persaudaraan, meningkatkan solidaritas antar manusia.

Terdapat 6 dasar akidah Islam yang kita kenal dengan Rukun Iman, yakni:

  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada malaikat Allah
  3. Iman kepada kitab-kitab Allah
  4. Iman kepada para rasul Allah
  5. Iman kepada hari kiamat
  6. Iman kepada qada’ dan qadar

Didalam perjalanannya, manusia dengan sifat ketidaksempurnaannya memiliki kelemahan atas keimanannya. Beberapa tanda-tanda lemah iman[6], yaitu: tergelincir kedalam perbuatan maksiat; merasakan kekerasan hati; tidak konsentrasi dalam melaksanakan ibadah; malas dan melalaikan ketaatan dan ibadah; dada terasa sempit, terjadi perubahan sikap dan selalu merasa terpenjara oleh perasaannya sendiri; hatinya tidak tergugah oleh ayat-ayat Al-Quran; lalai dalam mengingat Allah Swt.; tidak marah ketika hukum-hukum Allah dilanggar; senang tampil; sifat bakhil dan kikir; mengatkan sesuatu yang ia tidak kerjakan; senang dengan musibah yang menimpa umat Islam; melihat sesuatu hanya dari segi, apakah perbuatan itu mengandung dosa atau tidak; meremehkan perbuatan ma’ruf (kebaikan); tidak memperhatikan urusan kaum muslimin; memutus tali ukhuwah (persaudaraan); tidak merasakan adanya tanggung jawab dalam melakukan suatu amalan untuk kepentingan agama Islam; bingung dan takut saat tertimpa musibah; banyak debat dan diskusi yang menyebaban kekerasan hati; ketergantungan dan kekerasan yang berlebihan terhadap dunia; perasaan takjub hanya pada perkaataan atau cara penyampaian rasional seseorang; dan berlebih-lebihan dalam memenuhi kebutuhan diri.

Tentunya apa yang telah diuraikan diatas mengenai tanda-tanda lemah iman memiliki sebab-sebab[7], sebagai berikut: menjauhi kondisi keimanan dalam waktu yang lama; menjauhi teladan yang baik; menjauhi thalabul ‘ilm (menuntut ilmu agama); keberadaan seorang muslim ditengah-tengah pelaku maksiat dan kemungkaran; tenggelam dalam urusan dunia; sibuk dengan urusan harta, istri dan anak-anak; panjang angan-angan; dan berlebih-lebihan dalam hal makan, tidur, bergadang, berbicara dan bergaul dengan orang lain.

Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya. Dijelaskan kepada kita berbagai tanda-tanda lemahnya iman serta apa-apa yang menjadi penyebab lemahnya iman seseorang. Menyertai itu, dapat kita pahami juga mengenai pengaobatan dari penyakit lemah iman[8], yakni: mentadabburi isi kandungan Al-Quran; merasakan keagungan Allah Swt.; menuntut ilmu agama (syariat); mengikuti halaqoh (majelis) zikir; memperbanyak dan mengisi waktu dengan amal soleh (seperti: bersegera melakukan amal ibadah; melakukan amalan secara kontinu; bersungguh-sungguh melakukan amalan; tidak bosan beramal; mengganti (qodha) amal ibadah yang tertinggal; dan mengharap diterimanya amal dan perasaan khawatir jika tertolak); meragamkan amal ibadah; takut terhadap suul khatimah (akhir hidup yang jelek); banyak ingat kepada kematian; ingat tempat tinggal diakhirat; berinteraksi dengan kejadian-kejadian alam; zikir kepada Allah; bermunajah kepada Allah dan tunduk dihadapan-Nya; mengagungkan syiar-syiar Allah; al-wala’ wal Bara’; tawadhu (rendah hati); amalan hati; dan muhasabah (evaluasi) diri.

 

Sikap Hidup Orang Beriman

Memang, tentunya pokok dan sendi-sendi daripada Islam adalah iman, seperti dinyatakan dalam kalimat syahadat. Akan tetapi Islam bukan hanya suatu agama dalam pengertian terbatas, Islam juga melahirkan suatu kebudayaan tersendiri, kebudayaan yang lengkap. Didalam Al-Quran sebagai sumber kebudayaan Islam termuat ayat-ayat yang merupakan petunjuk-petunjuk untuk menimbulkan sikap-sikap tertentuterhadap semua aspek daripada hidup (agama, tingkah laku, sosial, ekonomi, ilmu) dan terhadap lingkungan alam semesta. Jadi yang terakhir ini menyangkut pula terhadap ilmu pengetahuan, terutama biologi dan ilmu pengetahuan alam lainnya.[9] Al-Quran menganjurkan kepada kita untuk mengamati tiap fenomena alam, karena disana dapat terbaca tanda-tanda kebesaran Tuhan bagi orang yang mau berpikir (yang berakal), seperti firman Allah Swt. dalam ayat berikut:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (Q. S. Fushilat: 53)

Islam memang sungguh ajaib dan unik, sebab disamping berpatokan pada iman, Islam juga menghendaki bahwa untuk mempertebal iman itu, manusia justru harus bertanya, berpikir tentang segala sesuatu yang dilihatnya dialam semesta ini. Sesungguhnya Islam menyuruh manusia berpikir, bersikap dan bertindak secara ilmiah,[10] diajarkannya bahwa ada:

–  Dogma-dogma (axioma) tertentu yang harus kita percaya tanpa Tanya

–  Diharuskan kita mengadakan observasi (mengamati) fenomena-fenomena; selanjutnya kita diharuskan berpikir (membuat hipotesis)

–  Kemudian bereksperimen

–  Dan akhirnya menyusun teori-teori umum, baik bagi pedoman penggunaan maupununtuk penambahan ilmu

Begitu banyak sikap yang dapat dijabarkan mengenai orang yang beriman, melalui 6 rukun iman saja, kita akan mendapatkan penjelasan yang panjang pada setiap rukunnya. Apa yang tertulis dalam makalah ini hanya sebagian kecil saja mengenai konsep keimanan dalam berislam. Namun apa yan sedikit ini, harapannya dapat menjadi bermanfaatddalam menuntut kita sebagai seorang muslim, juga dapat menjadi seorang mukmin.


[1] Orang yang beragama Islam

[2] Orang yang memiliki keimanan.

[3] Dr. Muhammad Syahrur 2002. Islam dan Iman. Halaman: 26.

[4] Dr. H. Ali Anwar Yusuf. M.Si., dkk. 2005. “Afeksi” Islam (Menjelajahi Nilai-Rasa Transendental bersama Al-Quran). Halaman: 77-78.

[5] Rukun-rukun Iman oleh Dr, Ahmad Al-Mazyad dan Dr. Adil Asy-Shiddiy. Halaman: 2-3.

[6] Lemah Iman (Tanda-tanda, Penyebab dan Solusi) oleh Muhammad bin Sholeh Al-Munajjid. Halaman:7-26.

[7] Ibid. Halaman: 27-37.

[8] Ibid. Halaman: 38-92.

[9] H. Endang Saifuddin Anshari, M.A. 1992. Iman, Ilmu dan Amal. Halaman: 136-37.

[10] Ibid. Halaman: 140.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s