Ada Apa Dengan Manusia..?

Sore itu mendung menggelantung pekat, hujan sebentar lagi akan diguyurkan dari langit dengan deras.  Kilat sesekali diiringi dengan bunyi guntur yang menggelegar menggidikkan hati.  Suasana demikian mencekam.  Benarlah tak selang lima belas menit hujan mengguyur bumi dengan derasnya, diiringi kilat dan guntur yang sambar menyambar.  Tak ada seorangpun yang berani keluar, jalan-jalan sepi dari kendaraan, hanya sesekali saja kendaraan lewat dengan cepat meninggalkan percikan air seakan enggan berlama-lama dalam derasnya hujan.  Binatangpun memilih untuk diam di sarangnya masing-masing.

Namun di ruang depan sebuah rumah yang sederhana, tetapi sangat asri suasana mencekam tidak terasa sama sekali.  Rumah itu dihiasi dengan gelak tawa, sesekali terdengar keributan kecil.  Tiga orang sahabat kental Shinta, Lingga, dan Ade sedang berdiskusi tentang masalah hidup dan kehidupan.  Mereka bersahabat sejak kecil, ke mana-mana selalu bersama, tapi gak kayak biji lho, soalnya betiga sich.  Meskipun demikian dalam hal agama mereka punya pandangan yang cukup berbeda, masalah inilah yang sedang mereka diskusikan sore itu.

Kalo menurut gue sih, kita sebagai manusia punya tugas buat mengabdi pada Allah SWT, jadi gak perlu lah kita urusin urusan duniawi “ kata Lingga yang telah berjilbab sejak kelas 3 SD itu.  “Ntar dulu Ga, emang bener hidup ini untuk beribadah pada Allah, tapi kan gak berarti hal-hal yang berhubungan dengan duniawi itu harus ditinggalin” tukas Shinta (ia belum berniat untuk berjilbab, abis menurut dia jilbabin dulu hati, baru jilbab fisik, ia paling sebel ama cewek pake jilbab, tapi kelakuan minus banget, ih…..  ngerusak agama aja kata dia). “Iya, hidup ini kan hanya sekali, maka nikmatilah” timpal Ade.

Ya terserah kamu orang mo bilang apa, yang jelas menurut gue paling penting dalam hidup ini adalah ibadah, dan itu udah jadi prinsip gue untuk selanjutnya” kata Lingga.  “Ga pemahaman lo tentang ibadah gimana sih ?” tanya Ade.  “Ibadah ?  Masa lo masih nanya sih, ya jalanin tuh rukun islam semuanya, (Syahadat, Sholat, Zakat, Puasa, dan Haji) bila mampu”.  “Kuno amat sih lo, masa ibadah itu adalah ritual, itu gak ada pengaruhnya bagi peradaban dunia tau, sholat, puasa, haji, buat apa tuch, gak ada manfaatnya, bukannya gue gak sepakat dengan ritual-ritualan itu, tapi inget manusia kan diciptakan untuk menjadi khalifah di muka bumi, maka esensinya adalah buat mensejahterakan alam semesta ini, nah kalo yang disebutkan tadi, kan hanya buat pribadi aja, itu juga gak jelas manfaatnya” celoteh Ade.  “makanya kalo gue sih memahami ibadah itu dalam hal muamalah, misalkan sholat, yang gue pahami adalah buat mencegah perbuatan keji dan munkar, esensinya adalah menjauhkan diri dari keji dan munkar, bukannya jungkat-jungkit aja, tapi masih melakukan kejahatan” tambahnya.  ”Astagfirullah al adzim, nyebut De, masa lo bilang sholat, puasa gak ada manfaatnya, padahal itu jelas perintah Allah, menurut gue justru kalo setiap orang melakukan ibadah-ibadah itu secara khusyu dan meninggalkan segala macam keduniawian, maka itulah rahmat bagi alam semesta, dunia ini akan tak ada iri dengki, maka untuk memulainya adalah dengan menjauhi masalah keduniawian” kata Lingga.  Ade langsung menimpali, “Eh, emangnya dengan sholat perut bisa kenyang ?  Kamu emang zakat dengan pahala ? Gak kan, tetep aja pake duit, gue tau sholat, puasa, dan haji itu adalah perintah Allah, tapi yang gue pahami bukan dengan ritual itu esensi dari perintah Allah, tujuan akhirnya adalah kesejahteraan manusia, makanya ibadah itu yang gue pahami adalah muamalah, gue gak percaya bahwa ritual mampu mengubah dunia menjadi sejahtera”.  “Istigfar De, gue punya pengalaman nih bahwa doa bisa mengubah keadaan orang, lo kan tau si Tenyom terus godain gue, nah gue berdoa agar ia gak mengganggu kehidupan ibadah gue, nah buktinya sekarang kan dia gak pernah gangguin gue lagi, dan lagi keliatannya dia mulai rajin sholat dan gak pernah rese lagi ama orang, jadi gue tambah yakin bahwa asal kita ikhlas pada Allah dan selalu mendekatkan diri pada Allah dengan ibadah maka akan tenang dech hidup kita” kata Lingga.  “Eh Ga, kalo hidup hanya buat sholat dan ritual lainnya, itu berarti elo egois, padahal kita ini makhluk sosial yang berhubungan dengan yang lainnya” kata Ade gak mau ngalah.

Udah-udah, kayaknya lo orang ini gak bisa ketemu, tapi kalo menurut gue sih kedua hal itu gak bisa ditinggalkan, ibadah harus, ya interaksi dengan yang lain juga harus sebagai wujud dari makhluk sosial.  Nah untuk hubungan dengan manusia dan alam kita harus bersama-sama dengan komponen lainnya, sedangkan untuk ibadah ritual itu adalah masalah privasi kita yang bukan urusan orang lain.  Jadi jangan campur adukan kehidupan rohani dengan duniawi, kala kita ibadah konsen dong menyerahkan diri pada Allah, tapi kala kita berurusan dengan duniawi, Tuhan jangan dibawa-bawa dong” kata Shinta yang dari tadi hanya memperhatikan aja, coba menengahi.  “Ah gak gitu Shin, lihat dong QS. 51 : 56, jelas hidup ini buat ibadah, gak ada tuh masalah duniawi” kata Lingga.  “Gue juga sepakat bahwa hidup ini buat ibadah, tapi ibadah menurut gue adalah muamalah, bukannya ritual, lo ini bukannya nengahin eh malah bikin tambah bingung, misahin rohani dan duniawi” timbrung Ade.

Kayaknya kita emang gak mungkin bisa sepemahaman nih, udahlah gak usah dibahas lagi, Laa ikraha fidhien, gak ada paksaan dalam agama, yang kita yakinin jalanin aja” jawab Shinta menutup pembicaraan, selanjutnya mereka ngobrol hal lain sambil menunggu hujan reda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s