24 suara

ini adalah kisah menarik didalam perjalanan hidup saya. kali ke 3 saya mengikuti suatu ritual pengambilan keputusan tertinggi untuk anggota ditingkatan komisariat. yang sarat makna, sarat kisah, sarat pembelajaran. tidak kemudian menempatkan diri sebagai korban pun bukan sebagai pelaku. saya hanyalah bagian dari situasi special yang ada dan tercipta atas makhluk-makhluk yang berada di dalam lingkar kejadiannya. kita semua bermaksud baik disini, dan merasa telah melakukan yang terbaik saat itu. hanya saja yang terlupakan oleh kita adalah sejumput rasa bahwa kita tidaklah satu-satunya orang yang memikirkan kebaikan untuk kita semua. kecintaan kita pada kehidupan kita membuat kita sibuk untuk menunjukkan kepada lainnya bahwa inilah yang benar dan terbaik bagi kita. pernahkah kita terpikir bahwa yang lainnya pun cukup perhatian dan merasakan hal yang sama atas apa pun yang kita pikirkan adalah untuk kebaikan. seberapa kuat kita mempertahankan keyakinan dan persepsi kita akan sesuatu yang sebenarnya sama walau tak sejalan. saya masih tetap menertawakan sekeping memori sedih yang membuat saya menumpahkan berliter air dari jernihnya sebuah rasa (versi lebay.com).

kita masih sejalan kawan, kita pun masih sehati. saya pun anda tahu bahwa kita adalah bagian dari kesalahan yang terjadi atas ketidaksempurnaan kita akan kemurnian rasa. dan inilah sepenggal memori yang telah kita ukir bersama. lantas seperti apa tidak ada yang saya salahkan untuk itu. pembelajaran yang akan menyadarkan kita bahwa tidak harus mengulangi lagi kekhilafan ini.

ketika seseorang telah menetapkan akan suatu pilihan maka konsekuensi logisnya adalah… yupp kita sudah tahu bersama tho. kenapa harus terus bersikap keliru dengan mempertahankan ego dan keyakinan tak berdasar kita masing-masing. kita berada dirumah yang sama kawan. saya kira tidak akan terhina bila kita sama-sama melemahkan ego dan meluruskan niat akan kecintaan kita terhadap rumah.

karena 24 suara yang terukir adalah keputusan emosional. karena 24 suara akan melebih pun berkurang karena kejernihan pikiran. minimal kita bisa tahu, bahwa kita adalah sama, karena kita mencintai rumah kita. karena kita hidup bersama, dan tak berharap yang terburuk terjadi atas kehidupan kita.

terimakasih kanda/yunda atas pembelajaran berharga ini. terimakasih kawan atas kebijaksanaan kalian. terimakasih adinda atas kepercayaan kalian. kita mendapat banyak makna dari kisah ini. dan yang telah terukir hari ini adalah hasil ketulusan kita akan kesadaran rasa memilih dalam langkah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s