Pada sebuah kamar

Hening, duka hati ini

Mendekap tubuh memangku tangan

Riuh dunia malam meneriakkan gemerlapnya alam

Menjadi keniscayaan kesendirian raga

Dan keresahan hati dalam pengingkaran jiwa

Tidak lagi hamba meratap pada-Nya

Terlalu malu wajah saat tangis pecah dibalik pelukan lembut pembaringan lusuh

Tak membasahi sejadah dengan penyesalan yang sadar dan bodoh

Akal telah mati, jiwa telah sirna

Untuk siapa raga berkelana, untuk apa raga menjamu dunia

Diam, diam, diam, hanya tak mengenal kepada diri sendiri

Bahkan oleh yang bergerak

Bermilyar harapan tanpa perlakuan

Menjadi penyesalan pikir karena telah melambungkan asa tanpa pengukuran kekuatan

Ini hanya sebuah keluhan manusia tak berguna yang mengeluhkan dirinya sendiri

Atas ketidakberdayaannya memapah raga yang telah lumpuh

Ketidakbergunaan jiwa mengolah sikap

Kematian akal dalam lamunan hampa

Nampaknya sudah tidak lelah tapi telah mati

Bagai bangkai yang terlupakan

Begitu menjijikkan dan memuakkan

Seperti saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s