Masyarakat Golongan Putih

Pesta pemilu baru saja berlalu, masih membekas pada kita sisa-sisa ingatan tentang pemilihan umum tersebut. Media pun masih semangat mengangkat topik pemilu sebagai menu utama. Perhitungan suara masih terus dilakukan oleh KPU, belum 100 % suara rakyat Indonesia tersalurkan, dan tak akan menjadi 100 %. Ini terjadi karena adanya 3 aliran Golongan Putih pada masyarakat Indonesia.

Pertama, mereka yang sudah berhak dan wajib untuk memilih, memiliki kartu hak pilih, tetapi tidak merpertanggungjawabkannya. Entah itu karena krisis kepercayaan pada para caleg, atau ketidakpedulian pada siapa pun yang akan menjadi wakil rakyat dengan alasan tak ada pengaruhnya pada kehidupan mereka. Masih ada masyarakat Indonesia yang berpikir seperti ini. Bahkan mereka yang berusia produktif, yang sangat diperlukan suara-suara kritisnya. Bukan kurangnya informasi dari para caleg yang ada, tetapi terlalu banyak janji yang diumbar dari para caleg.

Kedua, mereka yang berhak dan wajib memilih, memiliki kartu hak pilih, tapi tidak berada di tempat domisilinya. Ini banyak terjadi pada mahasiswa. Mereka yang kuliah jauh dari kampung halaman, secara otomatis tidak dapat menggunakan hak pilihnya. Melalui suatu survei yang dilakukan, banyak mahasiswa yang merasa kecewa dengan KPU maupun pemerintah karena mereka kehilangan hak suara hanya karena keterbatasan jarak dan waktu.

Ketiga, adalah mereka yang sudah berhak dan wajib memilih tetapi tidak memiliki kartu hak pilihnya. Kelompok ini pun masih terbagi lagi menjadi dua kubu. Mereka yang pasrah saja tidak mendapatkan hak pilihnya, baik itu karena mereka belum menjatuhkan pilihan kepada siapa pun atau karena mereka tak peduli apa mereka harus memilih atau tidak. Yang lainnya lagi adalah mereka yang sampai menuntut pertanggungjawaban panitia pemilu karena mereka merasa tidak mendapatkan haknya sebagai warga negara Indonesia.

Berbagai kasus seputar pemilihan umum di Indonesia masih menjadi sorotan media, tak terkecuali dengan hal-hal yang berhubungan dengan golput. Mungkin yang terlihat di media hanya sebagian kecil dari mereka. Tapi secara umum ini harus menjadi pembelajaran untuk pemerintah. Tidak hanya menyempurnakan konsep pemilihan di Indonesia, tetapi juga merealisasikan hal-hal yang berkaitan dan menunjang kesuksesan pemilu. Tampak tak berguna suatu konsep yang sempurna bila pelaksanaan lapangannya masih kacau-balau. Dan suatu kegemilangan besar berasal dari kesuksesan-kesuksesan kecil.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s