…dan seperti Roda

jadi…

jam berputar melingkar

rotasi bumi pada porosnya pun membentuk elips sempurna

perputaran thawaf mengelilingi kabah adalah jalan melingkar

kehidupan ibarat roda… apa iya semuanya terputar…

termasuk harapan.. arah.. dan nafas gerak tubuh ini…

siapa yang bergerak dan siapa yang menonton, tak akan mengubah pengaruh alam pada dinamika kehidupan yang telah tercipta oleh-Nya..

siapa yang menapaki langkah pada kesempurnaan tidak akan pernah mencapai kesempurnaan itu sendiri… segala usaha akan sia-sia??!! sepertinya tidak, hanya saja, ada yang disebut dengan target manusia, pun ada yang sebagai “anugerah paling indah” dari-Nya..

uhmm… fantastis sekali pengaturan alam akan kejernihan takdir… toh tidak hanya diam dan menunggu keajaiban mengukir nama emas saya pada batu yang bertahtakan intan…. apa yang menjadi usaha, ketika jiwa ini telah terseok, ketika raga ini mati kaku, ketika pikiran ini tercerai berai?????????

dan sungguh saya masih tetap berada disini… entah untuk apa, sebuah penantiankah? kepada apa?? sebuah pengharapankah? untuk apa?? sebuah kewajibankah?? sebagai apa??

ini menjadi pertanyaan dalam jawaban-jawaban asing yang bertebaran dalam benak saya… masih tertataih untuk mengukir segala bentuk kebanggaan diri, hingga membuat saya terpana pada ujung kehidupan ini. heii. saya belum memulai apa-apa, dan sangat wajar bila saya belum menuai apa-apa. jelas terlihat betapa rapuhnya raga ini. tak dapat membagi apa pun kepada siapa pun. saya pun begitu lelah dalam arus ini. apakah bijak bila memisahkan diri, bagaimana??

masih berharap dapat terus berjuang kawan. ketika saya lelah, wajar bila saya merintih. namun, akan kah saya mampu bangkit lagi… setelah semua yang saya harapkan berlalu. setelah semua tumpuan saya hilang. sekali lagi saya terhenyak disudut ruangan ini. saya telah kalah. pada apa?? seperti apa??

maaf ibu, inilah anak yang keluar dari rahim mu dan kau susui dengan ASI mu. ia tak mampu mengembangkan sebersit senyum bangga pada wajah mu. maaf ayah, inilah gadis yang selalu kau jaga dengan segenap raga dan jiwa mu. tak mampu ia membuat dirimu membusung dada bangga atas prestasinya. maaf adik, inilah kakak mu satu-satunya tanpa kemampuan apa pun untuk kebaikan hidup mu. maaf kawan, karena saya terus mengucap maaf dan mengulang kebodohan saya. saya telah kalah dalam bhidup ini. dan berharap dapat bangkit lagi. masih ingin melihat wajah percaya kalian semua untuk saya, akankah? dengan segala ketakmampuan saya saat ini.

2 thoughts on “…dan seperti Roda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s