Israel – Palestina

PALESTINA – ISRAEL : PERANG BERKEPANJANGAN
Ditulis sebagai syarat untuk mengikuti Latihan Kader II
oleh :
Alifah Nabilah Masturah
HMI Cabang Malang Komisariat Psikologi
Universitas Muhammadiyah Malang
2010

KATA PENGANTAR
Puja dan puji syukur penulis panjatkan kepada Sang Pencipta, Allah Swt.
yang senantiasa melimpahkan limpahan nikmat, rahmat dan kasih sayang-Nya
kepada kita semua. Shalawat serta salam pun penulis sampaikan kepada Nabi
terakhir penuntun umat manusia kepada jalan penuh cahaya dan kebenaran,
Muhammad saw.
Terima kasih berikutnya penulis sampaikan kepada Bapak Jafar dan Ibu
Juliati, yang tanpa beliau penulis tak akan mungkin menjadi sebesar ini. Berjuta
terima kasih atas limpahan cinta dan kasih sayang dari beliau.
Ucapan terima kasih juga penulis ucapkan kepada kawan-kawan HMI
Cabang Malang Komisariat Psikologi khususnya dan se-Lingkungan KORKOM
Universitas Muhammadiyah Malang umumnya, atas bantuan moril dan tak
terkecuali bantuan materil. Special terima kasih untuk Bang Zali atas semalam
panjangnya yang sarat makna dan pelajaran dalam menambah wawasan penulis
untuk merampungkan makalahnya, juga terima kasih kepada Ketua korkom
UMM, akang Fadhli atas diskusi dan masukannya, serta buku-bukunya.
Malang, 6 Juli 2010
Alifah Nabilah M

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Israel mengharapkan perundingan perdamaian dengan Plestina ditengahi AS
akan dimulai kembali bulan depan, kata Wakil Menteri Luar Negeri Danny
Ayalon, Rabu (28/4/2010).1
Demikian paragraf pembuka dari sebuah artikel kompas yang saya baca.
Sebuah perundingan perdamaian, LAGI. Dua bangsa yang menjadi pembicaraan
dunia ini memiliki rentetan sejarah yang cukup panjang dan sudah melakukan
berkali-kali kesepakatan damai, dan sampai saat ini belum juga tampak buah dari
kesepakatan tersebut.
Melihat campur tangan PBB pun tidak banyak membantu dalam konflik
Palestina – Israel ini, terbukti dengan berbagai resolusi PBB2 dan berbagai
perjanjian antara Israel dan Bangsa Arab yang nyaris tak mengubah apa-apa dari
konflik yang ada. Bukan sekali, dua kali diadakan perjanjian yang menengahi atau
pun mencoba mencari jalan keluar atas konflik yang terjadi antara Palestina dan
Israel, akan tetapi semuanya berakhir dengan meletusnya konflik lagi diantara
keduanya.
Untuk memahami konflik Palestina – Israel, tak cukup hanya dengan
menekuni berita tersebut pada 1 tahun terakhir ini saja. Karena sesungguhnya
permasalahan keduanya memiliki sejarah yang sangat panjang. Bangsa Israel yang identik dengan kaum Yahudi atau Bani Israil dan orang-orang Palestina yang
disangkut-pautkan dengan muslim ataupun Palestina-Arab.
Dari berbagai sumber, banyak menjelaskan bahwa konflik antara keduanya
berawal dari mandat Britania atas Palestina, yakni pembagian Palestina menjadi
wilayah Arab dan wilayah Yahudi. Kemudian didirikannya Negara Israel pada
tahun 1948. Sesuai dengan surat Balfour yang kemudian dikenal dengan deklarasi
Balfour. Berdirinya Negara Israel di Tanah Palestina menuai banyak perotes dari
Liga Arab. hingga muncullah gencatan senjata oleh Negara Arab sekitar. Dan
kemudian pada tahun 1949 diadakan Perjanjian Gencatan Senjata 1949 antara
Israel dengan Mesir, Lebanon, Yordania dan Suriah. Perjanjian ini mengakhiri
perang senjata yang terjadi saat itu dan menentukan pembagian wilayah sementara
yang disebut Garis Hijau.
Israel dibantu Inggris dan Perancis menyerang Sinai untuk menguasai
terusan Suez pada tahun 1956. Masalah Arab – Israel yang belum reda ini pun
tersulut kembali, kemudian didirikannya PLO (Palestine Liberation Organization)
oleh bangsa Arab, sebagai lembaga resmi yang mengurusi masalah Palestina.
Selanjutnya adalah perang 6 hari yang terjadi antara Israel menghadapi Negaranegara
Arab yang kemudian memunculkan Resolusi PBB nomor 242 untuk
perintah penarikan mundur Israel dari wilayah yang diebutnya dalam perang 6
hari, pengakuan semua Negara dikawasan itu, dan penyelesaian secara adi
masalah pengungsi Palestina. Akan tetapi, Negara Arab tidak menolaknya dan
diadakannya resolusi Khartoum oleh kedelapan pemimpin Negara Arab pada
tanggal 1 september 1967. Resolusi ini juga berisi 3 paragraf yang diketahui
dengan “ketidakan” antara hubungan Arab-Israel pada saat itu yang berisi “tidak
akan ada perdamaian, pengakuan, atau perundingan dengan Israel”.
Resolusi 242 yang dikeluarkan oleh PBB tidak banyak membantu, karena
setelahnya dilakukan pendudukan jalur Gaza oleh Mesir dan pendudukan Tepi
Keturunan dari Nabi Ya’qub.
barat dan Yerusalem Timur oleh Yordan. Tidak lama setelah pendudukan
tersebut, kembali diadakan perjanjian Nasional Palestina pada tahun 1968, yaitu
Palestina menuntut pembekuan Israel. Dan pada tahun 1973 meletuslah perang
Yom Kippur. Pasca ini, diadakan perundingan rahasia selama 12 hari antara
presiden Mesir Anwar Sadat dengan Perdana menteri Israel Manachem Begin
yang dipimpin oleh presiden Amerika Serikat pada waktu itu, Jimmy Carter.
Perjanjian ini juga disebut perjanjian damai Mesir – Israel. Bersamaan dengan ini
PBB mengeluarkan resolusi 338 untuk gencatan senjata.
Walaupun telah dibuat perjanjian, Israel kembali menyerang Lebanon yang
menjadi markas PLO pada saat itu, serta merupakan rumah bagi 110.000 jiwa
pengungsi Palestina. Setelah sebelumnya mengakui secara sepihak bahwa
Yerusalem sebagai ibukota Israel pada tahun 1980. Berikutnya terjadi serangan
yang dilakukan oleh orang-orang Palestina dan dikenal dengan Intifadhah. Banyak
korban jiwa yang berjatuhan akibat peristiwa ini. Kemudiaan pada 15 November
1988 diumumkan berdirinya Negara Palestina di Aljiria, Aljazair. Dan ditetapkan
bahwa Yerusalem Timur sebagai ibukota Negara. Serta Yasser Arafat sebagai
Presiden pertama.
Dengan begitu, kedua belah pihak saling mengakui eksistensi dan
keberadaan dari masing-masing mereka. Dikuatkan dengan adanya perjanjian
Oslo. Namun perjanjian yang kesekian kalinya ini tidak dapat menyelesaikan
konflik. Karena setelahnya, terjadi kerusuhan terowongan Al-Aqsa yang berakhir
dengan Perjanjian Wye River.
Kegagalan pada Resolusi ini pun terjadi dalam resolusi-resolusi atau pun
beberapa perjanjian berikutnya. Dalam upaya yang disebut sebagai Peta Menuju
Damai, nampaknya akan kembali berakhir dengan sia-sia apabila keduanya akan
tetap menganggap bahwa negeri Palestina, khususnya Yerusalem adalah penting
untuk kaum mereka, dan memandang sebelah mata atas yang lain.pun melihat
andil PBB yang dengan statusnya sebagai pemegang Kendali atas Keamanan dan
Perdamaian dunia, dengan secara tidak profesional cenderung kepada Israel. Dalam masyarakat Islam, kelompok, agama, suku, dan ummah merupakan
bangunan utama loyalitas dan komitmen, sedangkan negara-bangsa kurang begitu
signifikan. Di dunia Arab, keberadaan suatu Negara senantiasa dihadapkan pada
persoalan legitimasi karena ia (kekuasaan itu), jika belum mengalami pergeseran,
merupakan bagian dari ‘sistem kekuasaan’ produk imperialism Eropa dan batasanbatasannya
seringkali tidak dapat diterima oleh kelompok-kelompok etnis seperti
suku Barbar dan Kurdi.4
Ketika berbicara mengenai perdamaian, maka ada dua sisi yang tidak searah
dan kemudian dijadikan searah. Untuk menjadikan searah, perlu ada media netral
yang membantu perjalanan menuju searah.
Salah satu kesadaran yang sangat berakar dalam pandangan seorang muslim
ialah bahwa agama Islam ialah sebuah agama universal, untuk sekalian umat
manusia. Meskipun kesadaran serupa juga dipunyai oleh hamper semua penganut
agama yang lain (Yahudi, maka mereka menolak Kristen dan Islam; dan Kristen
sendiri, maka mereka menlak Yahudi dan Islam), namun kiraya tidaklah
berlebihan jika dikatakan bahwa pada orang-orang Muslim kesadaran tersebut
melahirkan sikap-sikap sosial-keagamaan yang unik, yang jauh berbeda dengan
sikap-siakp keagamaan para pemeluk agama lain, kecuali setelah munculnya
zaman modern ini.5
Dalam perjalanan konflik Palestina dan Israel yang cukup panjang ini,
ditemukan beberapa kali upaya perdamaian dari berbagai resolusi PBB maupun
perjanjian antara Israel dan Negara Arab. Akan tetapi, bersama perjanjian terebut
terjadi penghianatan-penghianatan dari keduanya, dan akhirnya berujung pada
perang berikutnya. Sampai saat ini, konflik antara Palestina – Israel pun masih berlanjut dan menjadi issue dunia terutama bagi Negara-negara berpenduduk
mayoritas Islam seperti Indonesia.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dijabarkan sebelumnya, maka rumusan
masalah yang ingin dibahas yaitu ada apa antara Palestina – Israel dengan Perang
Berkepanjangannya?
3. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah mengkaji fenomena perang
berkepanjangan yang terjadi antara Palestina dan Israel yang sampai saat ini masih
berlangsung.

BAB II
PEMBAHASAN
Lika-liku perjalanan kedua Negara tersebut sampai saat ini belum mencapai
titik terang. Israel dengan kebesaran, kekayaan dan kecerdasannya berusaha
merebut wilayah Palestina dan membumi hanguskan masyarakat Arab-Palestina.
Pun bangsa Palestina dengan keterbatasannya berusaha mempertahankan apa yang
masih bisa mereka pertahankan.
Fenomena yang terus berkecamuk di Palestina belakangan ini perlu dilihat
dalam kerangka sejarah panjang perjalanan Yahudi, Kristen, Zionisme, dan
kepentingan imperialis barat. Pemetaan masalah ini dengan tepat—baik
berdasarkan nash-nash al-Quran dan hadish, maupun fakta-fakta sejarah—akan
memungkinkan kaum Muslim mengambil sikap dan tindakan yang tepat.
Baaimana? Apakah “bom Syahadah” (pers barat menyebut sebaai “suicide
bombing”) merupakan jalan yang tepat? Atau, harus berdamai dan bernegosiasi
untuk mendapatkan 20% wilayah Palestina (Tepi Barat dan Jalur Gaza) dengan
Zionis Israel—dengan konsekuensi mengakui eksistensi Negara Zionis itu?
Wajibkah kaum muslim merebut kembali semua wilayah Palestina yang diduduki
Israel saat ini dan sudah disahkan oleh PBB? Ini masalah besar, yang perlu
didiskusikan bersama oleh para pemimpim dan cendekiawan muslim
internasional, untuk segera diambil tindakan-tindakan jangka panjang yang
istiqamah.6
Banyak kaca mata yang dapat dipakai dalam melirik sekelumit konflik yang
menjadi kisah panjang Palestina – Israel. Dalam hal ini, penulis hanya merujuk
pada Al-Quran dan Historisnya saja. Kenapa Al-Quran? Karena bagi umat
muslim, adalah penting merujuk apa-apa permasalahan yang ada kepada kitab suci yang dibawa oleh Rasulullah saw. Sebagai lentera selama menyusuri jalan
kehidupan.
Kenapa pula harus dengan studi Historis? Karena sejarah merupakan guru
pengalaman yang arif. Sejarah berbicara fakta. Sejarah memahamkan kita pada
aktivitas terdahulu yang telah terjadi. Sehingga dengan bekal sederhana ini,
penulis coba menguraikan segala isi dari pendahuluan kedalam kedua sudut
pandang tersebut.
1. Studi Al-Quran
Al-Quran secara tegas mengakui eksistensi agama-agama, rasul-rasul, dan
kitab-kitab suci sebelum Islam. Bahkan, agama Yahudi dan Nasrani sering disebut
sebagai agama yang secara konseptual dekat dengan Islam. Misi utama yang
dibawakan tidak berbeda : menyembah Tuhan dan merealisasikan kemakmuran
dimuka bumi berdasarkan nilai-nilai Ilahi. Muhammad sendiri, sebagaimana
dinyatakan dalam Al-Quran, mengakui nabi-nabi dan rasul-rasul sebelumnya, dan
tidak merasa lebih sedikitpun daripada mereka.7
Namun di sisi lain, bukan karena persoalan agama, tetapi karena persoalan
politik, al-Quran selalu mengingatkan kepada umat Islam bersikap waspada
kepada orang-orang Yahudi karena ditengarai mereka telah terlanjur tidak senang
kepada kaum muslimin. Orang-orang Israel dan Bani Quraidhah telah berkhianat
kepada kaum Muslimin setelah melakukan perjanjian bersama untuk saling
melindungi. Justru mereka berabung dengan musuh untuk memerangi kaum
muslimin.8
Dalam Al-Quran, orang-orang yahudi disebut-sebut sebagai Bani Israil.
Bani Israil adalah keturunan Nabi Yaqub as. yang pada mereka diutus Nabi Musa
as. dan Nabi Harun as. Sebagai penyelamat mereka dari masa perbudakan Fir’aun.
Seperti yang dijelaskan pada surat Al-A’raaf ayat 137 :
Sungguh maha penyayang Allah. Dengan kekuasaannya, Ia limpahkan
berkah kepada banga Yahudi dan dengan kecongkakannya mereka membalas
kamurahan Tuhannya. Cukup murah hati Allah Swt. dengan memberi peringatan
kepada mereka, seperti yang difirmankan dalam surat Al-Baqarah ayat 40 dan
ayat 47 :
Dibeberapa ayat lainnya pun Allah Swt. kembali mengingatkan kepada
bangsa Israel yang disana disebut sebagai Bani Israil. Namun, ketika kita merujuk
pada berbagai kisah mengenai mereka pada Al-Quranul Karim, maka dapat
terlihat betapa bangganya kaum Yhudi dengan kecerdasan mereka dan mampu
menjadikan mereka berpikir berhak atas dunia. Atau kalau memang Israel hanya
ingin memiliki Yerusalem sebagai Negara mereka, dan hidup dengan ajaran
“Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negerinegeri
bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami
beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang
baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka.
Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan
apa yang telah dibangun mereka.”
“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan
kepadamu, dan penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-
Ku kepadamu; dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk).”
“Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan
kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu
atas segala umat.”

Talmud-nya tidak perlu ada berkali-kali pembantaian dan penyerangan terhadap
bangsa Arab-Palestina.
Tidak terhitung berapa banyak akal busuk dan rencana-rencana mereka
untuk melawan hukum Islam disepanjang sejarah yang tidak bisa dikisahkan. Ini
semua selain yang anda ketahui dewasa ini mengenai kedzhaliman mereka
melampaui batasan mereka atas Baitul Maqdis dan Palestina mengenai tujuan
mereka memperluas kekuasaan disalam mendirikan Negara Israel Raya yang
membentang dari sungai Eufrat (Purat) sampai dengan sungai Nil. Itu semua tidak
lain hanya permusuhan dan kedengkian mereka yang mendalam terhadap Islam
dan kaum muslimin.9
Telah bolak-balik dijelaskan diatas bahwa bangsa Israel memiliki kelebihan
yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada mereka, berupa kecerdasan dan
kegemilangan. Dan dijelaskan pula bahwa Bani Israil juga sangat ambisius sekali
dalam keinginannya menjadi kaum yang paling dimuliakan Allah Swt. sementara
telah jelas bahwa Allah telah memuliakan mereka. Begitu banyak Nabi yang
berasal dari kaum mereka semakin membuat mereka tinggi hati dan mereka tidak
mau menerima ajaran yang dibawa oleh Rasulullah saw. walau pun mereka tahu
bahwa masih ada nabi terakhir yang diutus oleh Allah untuk menyempurnakan
agama di muka bumi ini. Dan Nabi terakhir itu bukanlah dari kaum mereka
hingga mereka menjadi tidak mau mengakui akan kenabian Muhammad.
Pada al-Quran, surat Al-Israa’ ayat 4 diatas. Allah mengisyaratkan dan
menggariskan kehancuran pada Bani Israil sebanyak dua kali. Dari beberapa
referensi internet, saya mendapatkan bahwa kehancuran Yahudi yang pertama

“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu:
“Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua
kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan
yang besar.”

adalah pada keruntuhan kerajaan Nabi Sulaiman as. oleh kerajaan Romawi. Dan
keruntuhan yang kedua adalah setelah kejayaan mereka yang sampai hari ini
masih terlihat kebesaraan bangsa Israel.
Kini peperangan benar-benar berkobar didunia Islam, dari benua ke benua.
Peperangan Neo-Salibisme yang sudah dimulai sejak abad yang lalu dan yang
akan terjadi, bahkan didukung oleh zionisme. Peperangan dengan berbaai macam
medianya. Dengan pedang dan pasukan. Dengan penjajahan “ekonomik”,
penjajahan pemikiran dan spiritual. Dengan penghancuran moral. Dengan
menghancurkan secara absurb kepentingan-kepentingan vital generasi muda
melalui film dan televise, cerita-cerita porno, lomba keantikan dan pameran
busana. Melalui semua kreasi yan diciptakan oleh setan yang bakal melumatkan
potensi kehidupannya.10
Sesungguhnya pluralitas masyarakat kita tidak unik. Lebih-lebih di zaman
modern ini, praktis tidak ada masyarakat tanpa pluralias, dalam arti antar umat
(terdiri dari penganut berbagai agama yang berbeda-beda), kecuali di kota-kota
eksklusif tertentu saja seperti Vatikan, Makkah dan Madinah. Bahkan negerinegeri
Islam Timur Tengah (Dunia Arab) yang nota bane bekas pusat-pusat agama
Kristen dan Yahudi, sampai saat ini masih mempunyai kelompok-kelompok
penting minoritas Kristen dan Yahudi itu. Apalagi, sesungguhnya, negeri-negeri
itu berpenduduk mayoritas Muslim hanya setelah melalui proses pengislaman
alami yang berlangsung berabad-abad. Meski orang-orang Muslim Arab telah
membebaskan negeri-negeri itu sejak awal munculnya Islam, namun sebenarnya
mereka hanya melakukan reformasi sosial politik. Diantaranya, yang amat penting
ialah penegasan kebebasan beragama dan bukannya memaksa mereka untuk
pindah ke agama Islam (hal yang akan amat bertentangan dengan prinsip agama
Islam sendiri).11
Maha benar Allah dengan segala firmannya. Al-Quran, sebagai rujukan
utama bagi umat Islam dalam kehidupan sehari-harinya juga menjelaskan tentang
bangsa Yahudi dan tabiatnya. Bahkan pada surat Al-Israa’ ayat 4 pun disebutkan
bahwa Bani Israil akan membuat kerusakan dimuka bumi sebanyak dua kali.
Betapa detail dan mulianya Al-Quran menjelaskan kepada kita tentang apa-apa
yang tidak kita ketahui, sehingga kita menjadi tahu. Sesungguhnya Allah Swt.
senantiasa memudahkan segala urusan hambanya dalam kebaikan.
2. Studi Historis
Dewasa ini, politik hubungn internasional dunia banyak dipengaruhi oleh
persekutuan Zionis Yahudi, kristen fundamentalis, dan intelektual neo-konservatif
di Amerika Serikat dalam memperjuangkan dan membela kepentingan Israel.
Negara Israel saat ini adalah buah dari perjuangan ideology yang disebut sebagai
“Zionisme”. Sukses Zionisme adalah buah persekutuan—lebih tepat disebut
sebagai perselingkuhan antara kaum Zionis Yahudi dengan imperialism barat.
Kini, muncul kelompok fundamentalis di AS yang mendukung penguasaan Israel
atas Palestina dengan merujuk pada ayat-ayat Bible.12
Ada dua sejarah Islam. Pertama adalah sejarah Islam sebelum Nabi
Muhammad saw., dan kedua adalah sejarah Islam yang sesudahnya. Sejarah yang
terakhir ini (yakni sejarah Islam dalam pengertiannya yang lebih sempit), tidak
bisa sepenuhnya dipahami jika seseorang tidak mempunyai pengetahuan yang
cukup mengenai sejarah Islam yang pertama, terutama periode yang melingkupi
agama Yahudi dan Kristen.13
Di antara agama-agama, agama Yahudi mewakili kecenderungan “duniawiini”.
Seluruh gagasan dan teori dalam alam pikiran agama Yahudi mengacu
kepada sura diatas bumi ini. Kitab Ya’qub adalah suatu impian keadilan yang
harus direalisasikan di atas bumi –tidak di hari nanti, tetapi disini dan sekarang.14
Sejarah agama Yahudi, menurut Sombart, adalah sejarah perkembangan
komersial dunia. Ilmu nuklir pertama-tama dikenal sebagai “ilmu orang Yahudi”.
Ekonomi-politik juga memperlihatkan kesejajaran ini. Bukanlah kebetulan belaka
bahwa nama-nama terbesar dalam fisika atom, ekonomi-politik, dan sosialisme
adalah nama-nama Yahudi –hampir tanpa pengecualian.15
Palestina, resolusi terhadap kepentingan yang bertabrakan tampaknya
mustahil dilakukan, dan ini menyebabkan kerusakan yang berlarut-larut terhadap
hubungan antara masyarakat Arab dan kekuatan barat. Selama Perang Dunia
Kedua, imigrasi Yahudi ke Palestina benar-benar mustahil, dan sebagian besar
aktivitas politik telah ditunda. Seiring dengan berakhirnya perang, jelas bahwa
hubungan kekuasaan telah berubah. Bangsa Arab di Palestina, dibandingkan
sebelumnya, kurang mampu menunjukkan front yang padu, karena pengasingan
dan penahanan sebagian pemimpin selama dan setelah pemberontakan 1936-1939
dan ketegangan dan permusuhan yang dihasilkan oleh gerakan kekerasan.
Pembentukan Liga Arab, dengan komitmennya untuk menyokong bangsa
Palestina, tampaknya menawari mereka kekuatan, tetapi akhirnya berubah
menjadi ilusi. Sementara itu para Yahudi Palestina disatukan oleh lembagalembaga
komunal yang kuat. Banyak diantara mereka yang telah memperoleh
pelatihan dan pengalaman militer di angkatan bersenjata Inggris selama perang.
Mereka memiliki sokongan yang lebih luas dan lebih pasti dari Yahudi di negerinegeri
lain, disemangati oleh pembantaian missal Yahudi di Eropa, dan berhasil menciptakan tidak hanya sebuah pengungsian bagi mereka yang selamat, tetapi
juga sebuah posisi kuat yang akan menelurkan peristiwa yang tampaknya mustahil
di masa depan. Pemerintah Inggris, selain sadar akan argument yang mendukung
imigrasi yahudi yang cepat dan berskala besar, jua menyadari bahwa hal itu akan
mengarah pada tuntutan sebuah Negara Yahudi, dan bahwa ini akan
membangkitkan perlawanan kuat dari bangsa Arab, yang takut dijajah atau
dirampas miliknya, dan di Negara-negara Arab.16
Inggris tidak lagi bebas bertindak seperti sebelum tahun 1939, karena
hubungan dekatnya dengan Amerika Serikat dan ketergantungan ekonomi
kepadanya. Pemerintah Amerika, karena merasa memiliki kepentingan yang lebih
kecil di Timur Tengah, dank arena mengalami tekanan yang sama dari komunitas
Yahudi Amerika yang aktif secara politis, cenderung menggunakan pengaruhnya
guna mendukung tuntutan imigrasinegara sendiri dari Zionis. Persoalan Palestina
kini menjadi isu penting dalam hubungan Anglo-Amerika. Upaya-upaya
menyepakati sebuah kebijakan bersama, lewat komisi penyelidikan Anglo-
Amerika (1945-1946) dan diskusi-diskusi bilateral, tidak menghasilkan apa-apa,
karena tidak ada satu pun kebijakan yang diusulkan sesuai dengan persetujuan
baik Yahudi maupun Arab, sementara pemerintah Inggris tidak berhasrat
menjalankan sebuah kebijakan yang tidak disepakati oleh kedua belah pihak.
Tekanan Amerika terhadap Inggris meningkat, dan serangan Yahudi terhadap para
pejabat dan instalasi Inggris di Palestina makin mendekati pemberontakan
terbuka.17
Pada 1948 Perserikatan Bangsa Bangsa mengakhiri tugas Inggris di
Palestina dan menyetujui pembentukan Negara Israel. Peristiwa ini mempunyai
dampak yang sedikit ditempat lain. Negara-negara Muslim Pakistan dan Indonesia
yang baru merdeka masih terbenam memperhatikan Negara mereka sendiri. Iran
tidak berbeda. Tapi dunia Arab, bagaimanapun, tidak mungkin untuk tidak
16 Albert Hourani, Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, Penerbit Mizan, 2004, hal.670-671.
17 Albert Hourani, Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, Penerbit Mizan, 2004, hal.671.
14
memihak. Pendudukan Palestina oleh penduduk Zionisme dari Eropa telah
mempengaruhi setiap orang. Orang Mesir, Irak, Saudi, Syiria tidak terpengaruh
dalam hal yang sama seperti orang Arab Palestina, tetapi setiap orang merasa
kehilangan. Apa yang belakangan menjadi kultur bersama bai orang-orang Arab
Muslim, Kristen, dan Yahudi sekarang telah menderita sebuah keretakan yang
serius, sebuah perpecahan yang luar biasa yang telah dikenal sebagai al-nakba,
malapetaka. Kemenangan zionis telah menantang modernitas Arab, dan beberapa
penulis bertanya apakah kontinuitas kehadiran Arab dalam sejarah telah
dihancurkan untuk selamanya.18
Seiring dengan makin dekatnya tanggal yang ditentukan, otoritas Inggris
mau tidak mau makin berkurangdan pertempuran pun pecah, dan Yahudi seera
meraih dukungan. Ini pada gilirannya melahirkan keputusan dari Negara-negara
Arab sekitar untuk campur tangan, dan serangkaian konflik setempat pun berubah
menjadi sebuah perang. Pada 14 Mei, komunitas yahudi memakluamatkan
kemerdekaannya sebagai Negara Israel, dan ini langsung diakui oleh Amerika
Serikat dan Rusia. Kekuatan Mesir, Yordania, Irak, Suriah, dan Lebanon bergerak
masuk kearah wilayah-wilayah utama yang dihuni orang-orang Arab dinegeri
Palestina. Dalam sebuah situasi ketika tidak ada perbatasan yang pasti atau
pembaian penduduk yang jelas, maka peperangan terjadi antara tentara Israel baru
dan tentara Negara-negara Arab, dan dalam empat propaganda yang dihentikan
oleh gencatan senjata, Israel mampu menduduki bagian negeri yang lebih besar.
Berawal dari keinginan untuk menyelamatkan diri, lalu karena panic, dan
kemudian adanya kebijakan langsung dari tentara Israel, nyaris 2/3 penduduk
Arab meninggalkan rumah-rumah mereka dan menjadi pengungsi. Pada awal
1949, serangkaian kesepakatan penghentian perang dibuat antara Israel dan
negeri-negeri tetangga Arab dibawah pengawasan PBB, dan perbatasan yang
permanen pun diciptakan. Sekitar 76% orang Palestina dimasukkan kedalam
perbatasan wilayah Israel. Sebuah tanah daratan di pesisir selatan yang
18 Tariq Ali, Benturan Antar Fundementalis Jihad Melawan Imperialisme Amerika, Penerbit
Paramadina, 2004, hal.97.
15
membentang dari Gaza keperbatasan Mesir, diberikan ke pemerintah Mesir. Yang
tersisa dianeksasi oleh kerajaan Hasyimiyyah yordania (nama yang diambil oleh
Transjordan pada 1946 setelah perjanjian dengan Inggris yang merumuskan ulang
hubungan antara kedua negeri). Jerusalem dibagi antara Israel dan Yordania,
kendati banyak negeri lain tidak mengakui secara resmi pembagian ini.19
Tahun 1948 nakba telah meninggalkan orang-orang Palestina tanpa
pemimpin dan terombang-ambing, hidup mereka dalam arti yang sesungguhnya,
berada dibawah control keras Negara-butuh lima belas tahun bgi Liga Arab untuk
menyetujui pendirian Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). Tapi yang
dimaksud adalah formasi satuan unit-unit Palestina yang terintegrasi dalam
tentara-tentara Syiria, Irak, Yordania, dan Mesir. Di ibukota-ibukota Negaranegara
Arab sebuah generasi Palestina dipengasingan mulai mengembangkan
kesadaran baru, yang dibuat radikal oleh peristiwa-peristiwa 1956 dan polarisasi
yang mengikutinya. Generasi ini adalah para pemuda, bayi, dan balita dari tahu
1948, yang tidak memiliki kenangan langsung terhadap ethnic cleansing. Mereka
telah tumbuh diatas cerita-cerita malapetaka dan mengembangkan memori
kolektif yang semakin potensial karena tidak memiliki pengalaman kekalahan
langsung.20
Pada 1965 gerilyawan Fatah, yang didukung oleh Ba’ath Syiria, mulai
melakukan aksi didalam Negara Israel. Para pemimpin Zionis memutuskan
melakukan respon ofensif. Bantuan ekonomi dan miter (termasuk senjata-senjata
kimia) yang mereka terima dari Amerika Serkat dan Jerman Barat membantu
mereka membangun angkatan udara yang sangat kuat didaerah itu. Jumlah
penduduk Israel telah bertambah, juga tentaranya. Komandan tinggi Israel yakin
bahwa ia akan bisa menakhlukkan sisa Palestina tanpa menyebabkan resiko bagi
Israel. Syiria, Mesir, dan Yordania menandatangani sebuah persetujuan militer
19 Albert Hourani, Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, Penerbit Mizan, 2004, hal.672-673.
20 Tariq Ali, Benturan Antar Fundementalis Jihad Melawan Imperialisme Amerika, Penerbit
Paramadina, 2004, hal.126.
16
yang berjanji untuk saling membantu mempertahankan masing-masing
wilayahnya.21
Pada tahun 1967 tentara Israel menyerang Mesir dan menghancurkan
seluruh angkatan udaranya. Dalam enam hari kendaraan lapis baja Israel telah
merebut Yerusalem dan Tepi Barat Yordania, menduduki dataran tinggi Golan di
bagian Selatan Syiria dan merebut Sianai sepanjang Terusan Suez di Mesir. Itu
merupakan sebuah kekalahan menyeluruh, sebuah nakba kedua, dengan
jangkauan konsekuensi-konsekuensi yang lebih jauh.22
Menjelang akhir 1970-an, situasi kawasan yang diduduki oleh Israel selama
perang 1967 telah berubah dengan cepat. Kebijakan pemukiman Yahudi, yang
dimulai segera setelah perang 1967 karena alasan yang sebagian strategis, telah
memiliki pengertian baru seiring dengan berkuasanya pemerintahan nasionalis
garis keras yang dipimpin oleh Begin.pemukiman berlangsung dalam skala yang
lebih besar lagi—dengan diambilalihnya tanah dan air dari penduduk Arab—dan
memiliki tujuan untuk mencaplok tanah tersebut. Bagian tanah Arab Jerusalem
dan kawasan Jaulan (Dataran Golan) yang direbut dari Suriah, merupakan tanah
yang dicaplok secara resmi oleh Israel. Menghadapi tindakan seperti itu, orangorang
Palestina dan negeri-negeri Arab tampaknya tidak memiliki kekuatan. PLO
dan pemimpinnya Yasser Arafat, mampu berbicara atas nama orang-orang
Palestina yang ada dikawasan pendudukan—dan untuk mendapatkan dukungan
internasional—tetapi tidak untuk mengubah situasi tersebut dengan cara yang
patut dihargai.23
21 Tariq Ali, Benturan Antar Fundementalis Jihad Melawan Imperialisme Amerika, Penerbit
Paramadina, 2004, hal.127.
22 Tariq Ali, Benturan Antar Fundementalis Jihad Melawan Imperialisme Amerika, Penerbit
Paramadina, 2004, hal.127.
23 Albert Hourani, Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, Penerbit Mizan, 2004, hal.784-785.
17
Pada desember 1987 sebuah intifadah baru Palestina dimulai di tepi Barat
dan Gaza. Ia mengganggu Israel, dengan menantang keyakinan-keyakinan Zionis.
Ia juga mengejutkan rezim-rezim Arab. Mereka berpikir hari-hari perjuangan
telah lama berlangsung. Intifada menantang infitah.24
Palestina juga telah bergeser menuju fase baru pada 1988. Di akhir tahun
lalu, penduduk kawasan-kawasan dibawah pendudukn Israel, yaitu Tepi Barat dan
Gaza, telah bangkit melakukan sebuah gerakan perlawanan yang menyeluruh,
adakalanya dengan damai dan adakalanya dengan kekerasan. Namun, gerakan
tersebut menghindari gerakan pemakaian senjata api. Pemerintah setempat
menghubungkan gerakan tersebut denganPLO dan organisasi-organisasi yang
lain. Gerakan ini, yang terkenal dengan intifadah, terus berlangsung di sepanjang
1988, mengubah hubungan orang-orang Palestina satu sama lain dan hubungan
dengan dunia luar dalam kawasan-kawasan peendudukan. Gerakan ini
mengungkapkan adanya masyarakat Palestina bersatu dan menata ulang
pembagian antara wilayah yang berada di bawah pendudukan Israel dan Israel itu
sendiri. Pemerintahan Israel tidak mampu menahan gerakan tersebut, sembari
terus bertahan menghadapi kecaman luar negeri, dan menghadapi public yang
sangat terpecah-pecah.25
Sampai saat ini konflik antar Palestina – Israel belum mencapai
penyelesaian atau kejelasan hingga titik terang. Dunia masih riuh membicarakan
konflik yang terjadi antar keduanya. Masalah ini adalah masalah dunia. Masalah
umat bersama. Setiap detik yang berlalu dalam adegan-adegan hidup yang
berkaitan dengan kedua Negara ini tidak lagi menjadi sejarah Muslim saja,
ataupun sejarah bagi kaum Yahudi saja, tetapi sudah menjadi sejarah dunia.
Sejarah masih belum berada pada titik ending. Masih banyak lembaran kisah yang
akan menampung tentang kehidupan seputar kedua Negara ini.
24 Tariq Ali, Benturan Antar Fundementalis Jihad Melawan Imperialisme Amerika, Penerbit
Paramadina, 2004, hal.156.
25 Albert Hourani, Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim, Penerbit Mizan, 2004, hal.795-796.
18
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Dalam melihat konflik yang berujung pada perang berkepanjangan antara
Arab-Palestina dengan Israel, tidak cukup hanya dengan mengkonsumsi
kehebohan yang mereka ciptakan untuk dunia pada 10 – 20 tahun terakhir ini saja.
Akan tetapi kita wajib mengetahui, akar dari permasalahan konflik antar
keduanya. Perlu diperhatikan juga sejarah dari keduanya sebagai bangsa, agama,
maupun sebagai Negara. Ketiga hal ini akan terlihat saling tumpang tindih antar
satu dengan yang lainnya. Karena ketiganya memiliki perbedaan yang sangat
tipis. Akan tetapi, diantara yang sangat tipis tersebut, dapat dilihat bahwa
berbicara Palestina sebagai sebuah bangsa akan menjadi berbeda dengan melihat
Palestina sebagai Agama yang mayoritas Muslim, pun saat melirik Palestina
sebagai Negara. Begitu pun saat kita membahas Israel.
Sehingga dalam membahas konflik yang berkepanjangan antara keduanya,
kita memerlukan berbagai sudut pandang agar tidak terjadi kesubyektifan
memandang konflik tersebut. Namun, pada makalah ini saya hanya membahas
konflik tersebut dari dua sudut pandang saja. Melalui studi Al-Quran dan melalui
studi Historis.
Dari Studi Al-Quran, dapat ditarik kesimpulan bahwa tabiat Bani Israil
(baca: Bangsa Israel) sudah sejak zaman Rasulullah sangat konfrontatif dengan
umat Islam sehingga, perang berkepanjangan yang seperti tidak memiliki ujung
kejelasan ini dapat dimungkinkan sebagai sikap turun-temurun yang telah
mendarah daging pada bangsa Israel. Dalam Al-Quran juga dijelaskan mengenai
kemuliaan Bani Israil diantara kaum lainnya, dan sayangnya, nikmat yang
dianugerahkan oleh Allah Swt. ini menjadikan bangsa Israel hari ini pun
sebelumnya sombong dengan kecerdasan dan kesuksesan mereka atas bangsa
yang lain.
19
Dari studi Historis, saya mengumpulkan beberapa kisah konfrontatif antara
Palestina dan Israel mulai dari awal dibentuknya Israel sebagai sebuah Negara.
Sampai pada pemberontakan intifadah oleh orang-orang Palestina di Tepi Barat
dan Jalur Gaza kepada pemerintah Israel. Israel yang dengan kebesarannya
mempertahankan Yerusalem sebagai kota suci mereka juga menghancurkan siapa
pun yang mereka angap sebagai penghalang bagi mereka dalam berdirinya sebuah
Negara Yahudi dan tidak hanya umat Muslim saja yang menjadi korbannya, pun
umat Kristen yang berada disekitar tanah Palestina. Dan orang-orang Arab-
Palestina dengan segala keterbatasannya mempertahankan tanah air mereka.
2. Saran
Besar harapan saya akan kebermanfaatan dari makalah sederhana ini.
Sesungguhnya makalah ini masih memiliki banyak kekurangan dalam mengkaji
permasalahan yang telah dipaparkan. Baik dalam segi referensi maupun dalam
segi kedalaman pembahasan. Dari segala keterbatasan makalah ini, saya berharap
apa yang telah tercantum disini dapat menjadi bahan diskusi atau pun perenungan
bagi kita. Dan Alhamdulillah jika kita dapat mengulurkan tangan dalam konflik
berkepajangan antara Palestina dan Israel.
20
DAFTAR PUSTAKA
Al-Quran dan Terjemahannya. 1426 H. Saudi Arabia
http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik_Israel_dan_Palestina (diakes pada 7 Juli
2010)
Ali, Tariq. 2004. Benturan antar Fundamentalis Jihad Melawan Imperialisme
Amerika. Jakarta: Paramadina.
Hourani, Albert. 2004. Sejarah Bangsa-Bangsa Muslim. Bandung: Mizan.
Huntington, Samuel P. 2007. Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan
Politik Dunia. Yogyakarta: Penerbit Qalam.
Husaini, Adian. 2005. Wajah Peradaban Barat dari Hegemoni Kristen ke
Dominasi Sekuler-Liberal. Jakarta: Gema Insani.
Izebegovic, ‘Alija ‘Ali. 1992. Membangun Jalan Tengah Islam antara Timur
dan Barat. Bandung: Mizan.
Madjid, Nurcholish. 2008. Islam Doktrin dan Peradaban. Jakarta: Paramadina.
Nurhakim, Moh. 2005. Islam Responsif Agama Ditengah Pergulatan Ideologi
Politik dan Budaya Global. Malang: UMM Press.
Qutub, Muhammad. 1995. Evolusi Moral. Surabaya: Al-Ikhlas.
‘Ulwan, Abdullah Nashih. 1997. Kebebasan Berpendapat. Jakarta: Studia
Press.
21
CURRICULUM VITAE
Nama : Alifah Nabilah masturah
Tempat, Tanggal Lahir : Tarakan, 18 Agustus 1991
Alamat : Jl. Tirto Utomo Gg.VIII No.21 Malang
No. Telepon : 085755585052
E-mail : nabila_188@yahoo.com
Riwayat Pendidikan :
1. SDN Utama I Nunukan (1996 – 2002)
2. SMPN 2 Nunukan (2002 – 2005)
3. SMAN 10 “Melati” Samarinda (2005 – 2008)
Pengalaman Organisasi :
NAMA ORGANISASI JABATAN TAHUN
BEMFA Psikologi UMM Sekdept. Kesejahteraan 2009-2010
HMI Cab.Malang
Koms.Psikologi UMM
Departemen Data Pustaka 2009-2010
HMI Cab.Malang
Koms.Psikologi UMM
Wasekum Pemberdayaan
Perempuan
2010-2011
Motto : Never treat other person the way you don’t want to
be treated

 

Note

1 http://id.wikipedia.org/wiki/Konflik_Israel_dan_Palestina, KOMPAS.com (Kamis, 29 April
2010 | 00:52 WIB), diberitakan dari Yerusalem.
2 Tercatat sekitar 5 resolusi yang dikeluarkan oleh PBB. Resolusi No. 37, 242, 338, 1397, dan
1559.
4 Samuel P. Huntington, Benturan Antar Peradaban Masa Depan dan Politik Dunia, Penerbit
Qalam, 2007, hal.312.
5 Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, Penerbit Paramadina, 2008, hal.174-175.

6 Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal,
Penerbit Gema Insani, 2005, hal.78.

7 Moh. Nurhakim, Islam Responsif Agama Ditengah Pergulatan Ideologi Politik dan Budaya
Global, Penerbit UMM Press, 2005, hal.172.

8 Moh. Nurhakim, Islam Responsif Agama Ditengah Pergulatan Ideologi Politik dan Budaya
Global, Penerbit UMM Press, 2005, hal.174.

9 Abdullah Nashih ‘Ulwan, Kebebasan Berpendapat, Penerbit Studia Press, 1997, hal.76.

10 Muhammad Qutub, Evolusi Moral, Penerbit Al-Ikhlas, 1995, hal.362.

11 Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, Penerbit Paramadina, 2008, hal.173-174.

12 Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-Liberal,
Penerbit Gema Insani, 2005, hal.58.

13 Alija Ali Izebegovic, Membangun Jalan Tengah Islam Antara Timur dan Barat, Penerbit Mizan,
1992, hal.189.

14 Alija Ali Izebegovic, Membangun Jalan Tengah Islam Antara Timur dan Barat, Penerbit Mizan,
1992, hal.189.

15 Alija Ali Izebegovic, Membangun Jalan Tengah Islam Antara Timur dan Barat, Penerbit Mizan,
1992, hal.191.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s