Generasi Muda Dalam Kelompok Masyarakat

…kami yang tak bisa teriak merdeka lagi, yang tak bisa angkat senjata lagi… (chairil anwar)

Ketakberdayaan dari seorang manusia. Semangat juang dari rakyat yang tertindas. Para generasi bangsa yang masih muda dizamannya. Yang bangga akan negerinya. Yang siap lahir batin untuk tanahnya. Yang masih tetap muda hingga saat ini. Kehilangan jasad merka tidak akan pernah menjadikan bangsa ini kehilangan semangat. Keabadian mereka tertanam dalam setiap sudut negeri ini. Kaku. Tak bersuara. Sebuah kenangan yang hanya berhenti begitu saja.begitukah? sia-sia kah tulang-belulang yang berserakan itu? Sia-sia kah limpahan darah yang mengaliri setiap ruas jalan-jalan kota itu? Tahlil dan upacara mengenang bukanlah penghormatan untuk mereka. Para pemuda bangsa di tahun kebangkitan negeri ini dari keterpurukan fisik. Saat ini bangsa sedang terpuruk. Ibu pertiwi masih menangis. Tugas saya, anda, dan pemuda hari ini untuk membangkitkan keterpurukan moral bangsa ini. Bila beliau-beliau menyumbangkan raga sebagai pondasi kebangkitan fisik. Maka pikiran adalah pondasi dalam gejolak keruntuhan moral pada bangsa ini.

Masyarakat menjadi penentu pada negeri ini. Anak-anak dengan tugas belajarnya. Ayah bunda dengan tanggung jawabnya untu keluarga, lansia dengan ukiran prestasinya sebagai keindahan dalam sebuah memoriam Negara. Dimana mahasiswa? Apa yang dilakuannya dalam dunia masyarakat yang sudah memiliki fungsinya masing-masing. Kami  ada. Kami hidup. Kami bergaul. Kami adalah bagian dari masyarakat. Tapi kami khilaf. Atau seperti inilah kami di 2010. Kami kuliah untuk kewajiban akademis sebagai syarat pada kolom-kolom lamaran pekerjaan yang harus terpenuhi. Kami membangun dunia kami dalam pagar pembatas yang elite. Kami cerdas. Kami kaum terpelajar. Kami terhormat. Kami berbeda dari yang lain. Apakah kami masih seorang masyarakat? Apakah kami masih berada pada tempat yang sama dengan masyarakat. Ibu rumah tangga, pegawai kantor, pedagang, pelajar dan mereka semua yang berharap lebih kepada kami. Suatu pola untuk mengecewakan lingkungan. Dari kaum cendekia yang katanya menjadi kebanggaan masyarakat.

20 tahun lagi kami akan berada di kursi-kursi kekuasaan pemerintah yang sibuk kami kritisi hari ini.haruskah menunggu itu terjadi, lalu kami membuktikan kecerdasan yang membuat kami berbeda dari masyarakat yang lain. Tidakkah mereka yang berada di istora senayan merupakan mahasiswa pada 20 tahun yang lalu. Hingga hari ini pun mereka masih bagian dari masyarakat. Untuk apa berdebat kusir atas mereka. Kami saja tak dapat membenahi diri kami. Kritik terhadap mereka. Kritik pada kalian. Kritik. Kritik. Dan kritik. Generasi muda berjiwa kritis. Generasi muda sebagai kepanjangan tangan dari masyarakat dalam menguak aspirasi di negeri ini. Sungguh teledor kami dalam mengemban amanah. Dan inilah kami para generasi muda. Yang terlalu bangga akan romantisme kejayaan masa lalu para generasi muda dizamannya. Apakah cukup dengan romantisme itu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s