Choice

Hidup adalah pilihan. Sederhana dan penuh makna. Bahasa klasik kalau menurut saya. Sesuatu yang terus menerus dikumandangkan sebagai “seolah-olah” saran jitu dalam penyelesaian kebimbangan. Bukan sesulit itu juga. That’s the real, kalau hidup adalah pilihan. Ketika manusia ada dan melangsungkan perjuangan hidupnya pun merupakan sebuah pilihan. Pilihan untuk tetap survive. Lantas kenapa masih ragu saat pilihan telah diputuskan. Saya jadi tersadar bahwa memang benar ketika kita mengambil keputusan bahwa proses lebih penting daripada hasil. Karena sejujurnya, sepanjang 19 tahun saya menghirup oksigen di bumi, maka sepanjang itu saya merasakan jatuh bangunnya sebuah proses. Proses belajar. Proses mendidik diri, proses memahami lingkungan, dan proses-proses yang lain. Adalah sebuah anugerah juga bila kita menyadari kodrat sebagai hamba-Nya yang tak dapat melakukan apa pun tanpa kuasa-Nya. Mengapa anugerah, karena proses yang mengukir jejak hidup kita dalam sebuah langkah yang penuh misteri.

Kenapa memilih. Saya terus melakukan pilihan dalam setiap langkah saya. Menetapkan makan apa hari ini, kapan, dimana, sama siapa, berapa kali, tho juga pilihan. Mengambil pakaian dari lemari untuk dipakai hari ini pun melalui proses memilih. Sesuatu yang sederhana dan terbiasa saya lakukan. Saa mengambil banyak pilihan setiap harinya. Sederhana. Tapi hal yang mengajarkan kita akan suatu resiko terbaik yang saya pilih untuk saya nikmati sebagai bagian dari perjalanan kehidupan saya. Bukan, sama sekali bukan takdir-Nya. Ini adalah ikhtiar saya. Ini sebagai keputusan yang saya ambil untuk diri saya sendiri. Ini membuktikan saya sebagai pemimpin. Saya memimpin diri saya. Minimal, kesederhanaan dalam pilihan itu mengantarkan saya pada banyak pilihan-pilihan besar daam hidup ini yang perlu saya sikapi. Yang wajib saya pandang dan tentukan. Kembali lagi kepada proses, tidak sesederhana menyuarakannya. Mengucap dengan lantang bahwa saya lebih memilih es jeruk untuk diminum daripada es teh pun menyisakan sebuah sesal dalam pemikiran saya. Dengan memilih es jeruk, saya menghalangi diri saya untuk merasakan nikmat dan segarnya es the. Apa iya dilain waktu yang saya anggap saya miliki itu, saya masih dapat merasakan nikmatnya segelas es teh. Tapi lagi-lagi, disinilah taste dari sebuah proses. Dengan memilih satu diatas yang ainnya. Saya sudah menguatkan diri saya untuk bertanggung jawab atas sesuatu yang telah saya putuskan itu.

Seandainya saya bisa tak perlu memilih apa pun dalam hidup ini. Hal terkonyol yang pernah saya harapkan untuk saya lakukan. Proses seperti apa yang akan saya nikmati tanpa pilihan. Saya memilih itulah yang menjadi proses saya. Simple of life. Terlihat sederhana bila coba di frame-kan dalam suatu kerangka. Perlu perjuangan untuk tetap survive dalam siklus memilih dan berproses. Dan seperti itulah tantangan kehidupan pada hamba Allah yang kata-Nya Khalifah fil ardh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s