Teori dalam Logika berpikir

saat semesta hening, ketika langit kelam. malam ini tak disinari oleh rembulan. malam ini tak bertabur sejuta bintang. saya lelah menengadah. tak kunjung jua secercah harapan membuahkan makna. teringat akan panasnya sang surya merambah siang hari. melemah pandangan akan gairah aktivitas. saya masih mematung disini. disudut kota yang menghindar dari terik mentari. masihkah siang ini hadir dengan sengatan lembut sinar dari-Nya? benarkah sang malam tetap kaku pada kebekuan alam? saya telah lelah meratapi dunia dalam kerapuhan jiwa.

manusia hidup dalam keseharian yang dihadapkan pada kenyataan tragis. oleh kebaikan-Nya manusia berharap pada kebahagiaan sejati. perih, saat keduanya berbenturan dalam satu pergolakan pahit permainan alamiah. penelitian terdahulu yang selalu meneriakkan teori-teori membosankan terkubur didasar lembar-lembar file kehidupan. siapa yang diteliti. apa yang diteliti. seperti apa penelitiannya. fakta kehidupan saya cukup sering menolak idealnya suatu teori yang dengan manisnya didongengkan kepada mahasiswa-mahasiswa dengan generasi penuh mimpi. aplikasi nol tanpa pengkritisan yang lugas. teori menjadi seonggok catatan sejarah untuk dikenang. pergerakan liar terwujud tanpa dasar. contoh cinta sebagai nada-nada indah penyejuk jiwa yang menjadi sayatan tajam dalam fakta hidup. adalah suatu keniscayaan mematikan untuk setiap harapan hati-hati yang rapuh didalam istana tanpa ancaman. alam liar tak menyuguhkan keramahan pada dunia khayal yang bebas tak berbatas. segala hipotesis terabaikan. bermula teori yang lahir dari syair redup kegundahan hati. sia-sia. tak ada sebuah teori baru. tak akan pernah diakui teori absurb berdasar “rasa”. ini dunia faktual. ini kehidupan dalam logika berpikir. terdiam lagi saya pada penolakan berpikir. teori dilahirkan dalam penelitian cerdas yang empiris. ada logika kehidupan disana. ada proses berpikir disana.

saya tidak menyimpulkan apa-apa. saya tidak merasakan apa-apa. saya jauh dari pencapaian empiris. saya tak mengabdi pada kenyamanan perasaan. hingga suatu pola terpatri dalam keterkejutan mata. hingga suatu pola tertanam dalam kekeluan lidah. saya menyimpan pengharapan menggunakan jiwa. jiwa adalah hal tabu pada dunia logika. saya terhempas pada kungkungan pikiran yang mengharuskan pergolakan retorika melalui berbagai teori. tak ada angin segar yang menghembus pada pengapnya seonggok raga. lelah dalam rasa. lemah atas jiwa. tak ada sangkut-pautnya dengan teori. ini tidak membutuhkan logika berpikir. cukup saya tahu bahwa setiap indera berfungsi dalam komunikasinya pada alam. mata dalam penglihatannya, telinga pada pendengarannya. kulit melalui sentuhannya. hidung ketika menghirupnya. pun lidah saat merasanya. DAN SAYA TAHU MAKNA KEKALAHAN TANPA SETITIK PUN UNGKAPAN YANG TERLONTAR. disinilah sebuah pembuktian menyiratkan makna teorinya. disinilah Tuhan memaafkan keangkuhan manusia dalam kebanggaannya atas logika berpikir yang menyesatkan hubungan vertikal hamba-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s