beginilah aku

Lahir di pulau ujung borneo tidak membuat ku kerdil akan semangat kehidupan dan mimpi menggenggam dunia. Hawa panas kota Tarakan di tahun 1991, tepatnya hari ke 18 di bulan Agustus. Seorang gadis mungil harapan keluarga. Lahir di tengah-tengah keluarga dengan kultur yang beraneka ragam, menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi ku. Ayah dengan suku bugis dan background kehidupannya yang keras. Dan ibu dengan etnis cina yang telah terlebur dengan budaya jawa. Yang keduanya mengaduk jadi satu kehidupan Kalimantan timur. Jangan pernah tanya asal ku dan suku apa aku ini. Secara sadar aku merasa anak Indonesia. Bercita-cita mengetahui apa kekayaan alam dan budaya negara ku. Diajak orang tua untuk tinggal berpindah-pindah cukup memuaskan keinginan ku ini. Walau pun belum tercapai 100%. Minimal sudah terkikis beberapa tempat dari list tour wisata ilmu ku.

MASA KECIL – aku dilahirkan sebagai anak pertama dan bangga akan kewenangan jadi anak pertama di keluarga. Karena aku punya adik laki-laki bandel untuk ditakhlukkan. Tak ada yang ku ingat dari masa bayi ku. Hingga satu pengalaman yang itu pun jadi lekat diingatan karena selalu ku ulangi untuk banyak orang. Ku ulang kepada mereka yang menanyakan kenapa kepala ku botak. Sebenarnya tidak botak semua. Hanya segaris bekas 12 jahitan di belahan bagian kanan. Tapi kalau ikat rambut, pasti kelihatan. Sekarang sii udah ga pernah repot lagi masalah menata rambut agar bekas jahitan tak terlihat. Karena sekarang udah pakai jilbab. Cerita 12 jahitan itu beini : waktu itu usia ku sekitar 3 tahun, saat berada di rumah oma di tarakan, papi [paman, kakak ipar ibu ku, red] bersama aku dan kakak sepupu ku pergi berbelanja bahan untuk membuat kue, karena minggu ini sepupu ku lainnya akan berulang tahun. Yang jadi masalah adalah posisi mobil yang akan masuk di pekarangan rumah oma. Mobil = mobil jip hijau besar, dengan roda besar, body besar, tapi tempat duduk kecil. Mobil akan sangat press dan hanya menyediakan sangat sedikit space di kanan kirinya saat memasuki lorong menuju pekarangan. Ditambah lagi lorongnya adlah tanjakan. Ketika itu mobil berjalan mundur, aku bersama sepupu ku berjalan dahulu sebelum mobil memasuki pekarangan. Dengan mobil yang besar dan tubuh yang mungil kala itu, aku rasa adalah kewajaran jika mobil sebesar jip tidak menangkap siluet ku dari kaca spion yang tinggi. Aku kecil yang terlalu menikmati langkah ku berjalan di tengah lorong, sedang kakak sepupu ku sudah terlalu sibuk dengan barang-barang di tangannya sehingga kesulitan untuk memperhatikan polah tingkah ku. Dengan begitu singkat terjadi lah tragedy jip menabrak tubuh mungil ku kala itu. Menurut cerita mama sii, saat itu kapala ku dalam bentuk yang tidak karuan. Bagaimana rupanya, Cuma saksi yang tahu jelasnya. Aku aja yang ada di TKP ga tahu apa-apa koq. Gimana mau tahu apa-apa coba, wong jadi korbannya. Tapi kejadian itu adalah kisah masuk rumah sakit yang paling fenomenal buat aku setelah proses kelahiran ku. Setelah kejadian berdarah itu, aku di larikan ke RS.umum Tarakan. Masuk UGD cuma numpang sebentar, langsung di larikan ke ICU, koma 14 hari dengan 9 kantong darah di minum habis via selang. Wah, aku keren juga yah waktu itu. Ga  nyangka juga kalau itu adalah sii anak yang sekarang udah wira-wiri di kampus. Pasca koma, dengan rupa ga keruan, menyisakan 12 jahitan di kepala, tangan tak berdaya nyaris patah, diam tanpa kata [mendadak bisu]. Ortu yang was-was jadi kepikiran langsung beli tiket go to Surabaya untuk melakukan operasi perbaikan sii mungil harapan keluarga satu-satunya [kala itu aja sii, sekarang mah udah ga harapan satu-satunya lagi, kan dah punya adik]. Alhamdulillah sekarang aku bisa menjalankan aktifitas layaknya manusia kebanyakan. Ini dia nih cikal bakal aku jadi punya adik. Tapi kan sekarang kisah ku, adik ku bukan di sini tempat bahasannya, singkirkan saja dulu. Nah, waktu itu mama cemas BGT, gimana ga, selama 14 hari di ruang ICU, tujuh orang tetangga ranjang ku meninggal dunia dengan berbagai kasus. Tetapi, Subhanallah sekali karena aku masih tetap di beri kesempatan untuk menghirup oksigen-Nya. Kehidupan pasca kecelakaan juga cukup miris. Harus belajar bicara lagi, belajar jalan lagi, belajar segala-galanya kayak bayi belajar. Udah gitu mesti rawat jalan dan terapi lenan yang udah antara patah segan lurus tak mau. [lebay mode on]. Sekarang aja masih punya satu hal unik yang tersisa akibat accident itu. Kalau aku menangis karena afeksi, mata kanan ku akan bereaksi ngeluarin air mata. Kalau kalau aku menangis karena rasa pedas atau pun perih mata. Mata kiri ku yang kebagian tugas beraksi. Kenapa harus tidak bersamaan saja sii. Nah disitu lah uniknya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s