Nenek Asih

Byur…

“Bergegaslah Rika, adzan sudah berkumandang.” Teriak Nenek dari ruang makan.

Namaku Rika, aku tinggal bersama Nenek Asih di sebuah rumah susun di kawasan pinggiran kota padat penduduk. Beliau adalah wanita paruh baya yang menyayangiku dan satu-satunya orang yang bisa ku sebut keluarga. Beliau bukan nenek kandungku. Aku adalah anak yatim piatu yang diasuh oleh beliau semenjak aku berumur tujuh tahun. Jangan tanyakan siapa orang tuaku, karena aku sendiri tidak tahu apa mereka ada atau tidak.

“Ayo Nak, waktu tidak akan menunggu.” Tegur Nenek menyapaku yang baru keluar dari kamar mandi. Aku hanya mengangguk kemudian masuk ke kamar untuk berpakaian.

Usai sholat berjamaah, aku bergegas membantu Nenek mengangkut barang daangannya ke pasar. Nenek berjualan gado-gado di pasar yang tidak jauh dari rumah susun tempat kami tinggal. Beginilah cara beliau menghidupi kami. Setelah tiba di pasar aku bergegas membantu Nenek menata dagangannya lalu berpamitan padanya.

Hari masih terlalu pagi, mentari saja masih malas-malasan untuk memamerkan sinarnya. Aku mengayuh sepedaku menyusuri gang-gang sempit di pinggiran kota. Aku harus bergegas agar tiba di tempat tujuan dengan tepat waktu.

“ini korannya, dan ini alamatnya,” ucap Pak Saleh sambil memasukkan koran-koran itu ke keranjang sepedaku lalu memberikan secarik kertas bertuliskan alamat-alamat yang harus aku tuju untuk mengantarkan koran-koran itu.

“Siap Pak, koran-koran ini akan saya antarkan sampai tujuan. Saya pamit dulu Pak, Assalamualaikum,” jawabku.

“walaikumsalam warohmatulahi wabarokatuh,” balas Pak Saleh sambil berlalu.

Ku kayuh lagi sepedaku. Ku lirik selembar kertas di tanganku, hari ini aku bertugas di Perumahan Bukit Bunga. Tak jauh dari sekolah ku, syukurlah. Aku tidak akan terlambat sekolah hari ini.

___________________

Siang itu sangat terik, peluh membasahi sekujur tubuh. Ku lirik tumpukan koran ditangan ku, masih begitu banyak.

“Hei Ka, kenapa kamu terlihat lesu?” Sapa Mila seraya menepuk punggungku dari belakang.

“Kamu Mil, mengagetkan saja. Aku tak apa-apa.” Jawabku kaget.

“Oh ya, tapi wajahmu tidak terlihat baik-baik saja.” Balas Mila.

“Begitukah?” Heranku pada Mila.

“Ayolah sobat, jangan sembunyikan sesuatu dariku, kau tak kan berhasil.” Kejar Mila.

“Ini ancaman?” Tanyaku.

“Menurutmu?” Balas Mila dengan raut muka ‘aku tak bisa kau bohongi’.

“Oke, aku menyerah. Kau akan mendengar kisahku.” Kataku pasrah pada akhirnya.

“Hahahaha…” Tawa lepasnya berkumandang sambil menarikku kepingir trotoar untuk duduk. Beberapa pengendara melihat ke arah kami.

“Mil, kamu itu perempuan, jangan tertawa seperti itu. Coba lihat, banyak yang melihat kearah kita.” Ucapku sambil mengikuti langkah kakinya.

“Halah, peduli apa dengan mereka. Aku senang Ka, aku yakin banget kalau kamu ga bisa nyimpan rahasia dari aku. Kita ini berteman sudah lama. Apa sih yang ga aku tahu tentang kamu.” Jelas Mila dengan semangat ’45 dan mulai mengatur posisi duduknya. “oke, aku siap.” Dia mengumumkan.

“Baiklah. Dengarkan aku.” Ucapku.

“Aku sudah bosan dengan kehidupan kita Mil.” Aku mengawali ceritaku.

Mila menatapku dengan seksama, mengerutkan dahinya sejenak, kemudian tersenyum menunggu kalimat berikutnya yang akan keluar dari mulutku. Aku tahu dia pendengar yang baik, dan tak akan berkomentar sampai ku umumkan kalau curhatku sudah selesai. Ini salah satu yang ku suka darinya.

Ku ceritakan bagaimana kehidupanku selama ini selalu sama setiap harinya hingga tahun-tahun berganti.Aku adalah Rika, gadis yatim piatu yang diadopsi oleh nenek Asih dari panti asuhan ketika berumur 7 tahun.

Betapa senangnya aku hari itu. Setelah ku dengar cerita 2 orang temanku yang telah diadopsi seblumnya, mereka hidup berkecukupan dan selalu bahagia. Tapi semua kebahagiaanku itu menguap setelah 2 jam kemudian aku tiba di sebuah rumah susun dipinggiran kota. Sampai hari ini pun aku masih membenci nenek Asih, dan aku tidak akan memaafkan perbuatannya yang telah mengambilku dari kenyamanan kehidupanku di panti. Dahulu aku tak perlu repot-repot bekerja, tak harus pusing-pusing memikirkan makan apa aku besok. Semua yang kubutuhkan sudah disediakan untukku. Memang sih harus berbagi dengan anak-anak yang lain. Iya sih bukan suatu kemewahan. Tetapi tidak banting tulang seperti saat ini. Bangun pagi untuk berjualan koran, tidur larut karena meracik bumbu gado-gado. Aku bersekolah di tempat yang sama dengan Anggun. Temanku di panti dulu. Dia diadopsi setahun setelah aku. Dengan pasangan suami-istri kaya raya. Apa pun yang diinginkannya pasti terpenuhi. Sayangnya, dia sombong, kalau di panti saja dia sering sok dari anak yang lainnya, apalagi sekarang saat seluruh dunia dapat dibelinya. Bahkan tadi pagi dia mengatakan kalau dia tidak perlu repot-repot belajar untuk ujian kelulusan SD karena orang tuanya dapat membelikan nilai-nilai terbaik untuknya.

Aku bukan orang yang suka peduli dengan urusan orang lain. Tapi dia sudah memaksaku untuk memperhatikannya lebih khusus. Sudah yang kesekian kalinya dia bermain-main dengan sepedaku, dari mengempeskan ban sampai menyembunyikan rantai sepeda. Itu semua masih bisa membuatku bersabar. Tapi kali ini, aku betul-betul tidak mengerti keinginannya. Aku tahu dia yang memaksa sopirnya untuk menabrak sepedaku hingga tak berbentuk lagi. Dan tak ada pertanggungjawaban atas itu. Apa sih maunya anak itu, tak ada bosan-bosannya mengganggu orang lain.

Sepeda itu kan sangat ku perlukan. Selama ini pekerjaanku jadi lebih mudah dan cepat karena ada sepeda itu. Mana mungkin aku meminta nenek Asih untuk membelikanku sepeda yang baru. Aku tahu beliau tidak punya cukup uang untuk itu. Ku tatap Mila dengan wajah memelas. Dia balas tersenyum dan mulai menyentakkan nafasnya. Aku tahu setelah ini dia akan berkomentar. Ku atur posisi dudukku, ku anggukkan kepalaku tanda siap mendangar tanggapannya yang memang aku butuhkan.

“Mana ada maknanya kehidupan tanpa masalah. Jadikanlah semua itu sebagai cambuk yang akan selalu mengingatkanmu untuk lebih semangat lagi dalam menapaki kehidupan ini.” Ucap Mila kemudian menyunggingkan senyumnya padaku.

“Aku lelah Mil.” Responku.

Mila mengerutkan dahinya dan menggelaengkan kepala, “Lantas apa yang kau permasalahkan saat ini? Spedamu, Nenek Asih, atau apa?”

“Entahlah, aku rasa segala hal. Sepeda, nenek, kemiskinan, yah semuanya.” Jawabku.

“Coba kita lihat pelan-pelan. Sepeda, bukankah kamu sedang menabung untuk membeli sepeda yang kita lihat di toko sebulan yang lalu?!” Tanya Mila dengan sabar.

“Yah memang, tapi tidak seperti ini caranya aku harus mengganti sepedaku.” Jawabku.

“Apa tabunganmu sudah cukup?” Tanya Mila lagi.

“Aku rasa belum, masih sangat banyak kurangnya.” Ucapku dengan rasa kekecewaan yang mendalam.

“Tidak apa, kita lakukan perlahan-lahan dan dengan tekad yang kuat.” Ujar Mila menyemangatiku.

“Apa lagi yang bisa kita lakukan.” Ujarku membenarkan sarannya.

“Bukankah nenek Asih sangat menyayangimu, tak pernah beliau tidak memberikan apa yang kamu perlukan, bahkan beliau berjuang dengan segala upaya agar kamu tetap mendapatkan pendidikan yang layak.” Terang Mila.

“Aku menyayangi nenek. Tapi di satu sisi, aku tak akan berbohong kalau aku juga membencinya. Beliau telah mengecewakanku. Kenapa pula aku harus diadopsi kalau beliau tak mampu memberikan kehidupan yang berkecukupan untukku.” Keluhku lagi.

“Selama ini kamu merasa tidak cukup Ka?” Tanya Mila.

“Tidak juga sih.” Jawabku.

“Apa yang kamu permasalahkan Rika? Nenek Asih sangat menyayangimu. Beliau merawatmu dengan kasih sayang.” Ucap Mila lagi.

________________________________

Lima bulan kemudian.

Aku terpaku menatap pusarah sederhana dihadapanku. Sudah seminggu kehidupanku berubah. Menjadi seperti yang ku inginkan secara fisik. Tapi tak ku dapatkan lagi belaian sayang itu, senyuman tulus itu, nasihat bijak itu, dan senandung ramah itu. Seminggu yang lalu nenek tertabrak mobil, sepulang kami dari pasar. Tak ku sangka yang menabrak adalah ayah angkat Anggun. Beliau bertanggung jawab dengan perbuatannya. Sekarang aku tinggal bersama Anggun dan keluarga angkatnya. Ku dapatkan perlakuan yang sama seperti yang Angun dapatkan, seperti yang dahulu ku impikan. Semuanya, tanpa terkecuali.

Ayah dan ibu Santoso baik padaku. Mereka menyayangiku. Mereka menganggapku seperti anak mereka sendiri. Tak ada keluhan atau pun rasa sesal harus merawatku. Tapi mereka melupakan satu hal. Menyayangi seseorang tidak hanya mencukupi segala kebutuhan fisiknya saja. Tapi butuh kontak sosial.

Lihatlah betapa menyedihkannya aku hari ini. Setiap waktu ku teriakkan kata benci dan tidak sukaku pada nenek Asih, ku lakukan segala hal yang membuatnya memarahiku, kecawa padaku atau bahkan mengembalikanku ke panti. Tapi itu tak pernah dilakukannya. Hanya senyuman dan belaian lembutnya yang ku dapatkan. Kata terakhir ku untuknya adalah ‘kenapa sih nenek ga hati-hati, merepotkan saja.’ Itu yang terdengar telinganya. Tak terdengar lagi teriakku memintanya jangan meninggalkanku. Tak didengarnya lagi isakku menangisinya. Tak sempat ku ucap kata sayangku dan rasa hormatku pada beliau. Belum ku sampaikan terima kasihku atas semua yang beliau berikan padaku. Sekarang, hanya doa yang dapat ku panjatkan kepada-Mu ya Allah, lindungilah beliau yang selalu melindungiku di masa hidupnya. Aku merindukan nenek. Aku menyayangi nenek, betapapun selalu ku ucapkan kalau aku membenci beliau. Dan kata terakhir yang diucapkan nenek padaku adalah ‘jaga diri baik-baik sayang.’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s