Refreshing bukan holiday

Refreshing ≠ Holiday

Tugas kuliah yang menumpuk, membuat mata berkantong, kurang tidur, perut lapar. Diri perlu dimanjakan dan perlu refresh sejenak. Apa itu yang membuat setiap instansi perkuliahan dan sekolah memberikan kesempatan liburan kepada mahasiswa maupun pelajarnya. Jadi refresh hanya bisa dilaksanakan pada waktu libur saja donk. Lihatlah mahasiswa yang ditempa oleh berbagai tugas, quiz, paper, dan lain-lainnya lagi selama 5 bulan bertubi-tubi tanpa henti. Terakhir di tutup dengan UAS yang menguras pikiran dan batin. Disisakan 1 bulan untuk menghirup udara segar sebelum mengulangi aktifitas yang sejenis di semester yang berbeda. Apakah hanya akademis saja kegiatan mahasiswa? Apakah hanya dengan sistem yang seperti ini keaadaan bangsa akan membaik?

Rasanya untuk perbaikan diri dari kerentanan stress saja sudah ucap syukur Alhamdulillah. Terkadang mahasiswa tidak memerlukan istirahat panjang yang sebenarnya sangat singkat setelah aktifitas panjang pada waktu sebelumnya. Yang di perlukan untuk melepas kepenatan hanyalah rileks sederhana sebelum memulai aktifitas beriutnya. Sebuah fenomena nyata mahasiswa hari ini. Mereka yang tidak afdol kalau hanya disibukkan dengan murni aktifitas akademis saja. Mereka yang meronta kelelahan karena tidak hanya mengurusi akademis saja. Cerewet sekali kebutuhan mahasiswa. Bahkan mereka tidak memikirkan cukupkah waktu yang mereka miliki atas aktifitas yang mereka geluti. Lagi-lagi melihat potret mahasiswa hari ini yang bangga sekaligus lelah dengan kegiatannya. Apa suatu refreshing jiwa yang diperlukan? Atau hanya merefresh tubuh dengan tidur panjang seharian? Tapi mungkin juga perlu liburan untuk menikmati hari-hari santai tanpa tuntutan. Apa pun yang di berlakukan pada diri mahasiswa dalam mengistirhatkan diri mereka sendiri terhadap aktifitas hidup mereka, itulah harapan mereka dalam pengistirahatan kehidupan. Dan dalam menjalani kehidupan yang seperti apa pun mereka tetap masih mahasiswa yang bebas dalam idealism pikiran tanpa kekang. Lantas cukup bodoh dan pengecut pikiran mehasiswa yang memaku diri pada idealism orang lain. mungkin patut dikasihani karena mereka membiasakan diri pada pilihan-pilihan orang lain atas mereka. Bahkan untuk merefresh diri sekalipun mereka masih membutuhkan kata setuju dari mahluk lain. liburan seperti apa yang dicari para penjilat idealism manusia lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s