Bagaimana menuliskannya?

Ini adalah tulisan. Ini tulisan yang harus saya tulis. Saya tidak tahu bagaimana menuliskannya. Hanya saja, saya harus. Tentang apa kemudian saya menulis. Biarkan jemari merangkai huruf dengan irama. Biarkan kata saling memadu padankan diri. Biarkan saja kalimat-kalimat itu berbaris membentuk paragraf. Entah untuk apa saya menulis. Saya tak punya tema pun tujuan. Hanya saja, otak terlalu bising dan minta pelampiasan. Entah apa isi dari urut-urutan huruf yang sedari tadi terhias pada tajuk tanpa makna ini.Sudahlah saya tak pandai merangkai diksi. Tambahlah lagi tak ada topik yang berarti untuk ditulis. Ini semacam rangkaian tanpa makna yang mungkin nyampah dan harus segera dibuang. Beranjak pada paragraf kedua dan saya belum mendapat bahasan yang tepat untuk diolah. Coba saya fokus pada satu dua cerita remeh dalam hari-hari saya sebulan terakhir ini.Itu terjadi awal bulan ini, November punya cerita. November seringkali menjadi bulan penuh makna untuk saya. Sudah mulai akrab dan kerab menjadi biasa pada bulan ini tanah dan aspal diguyur rintik air. Ini berkah. Ini musim penghujan. Saya berkesempatan menyusuri jogja selama 4 hari yang basah pada bulan ini. Walaupun 2 bulan lalu saya juga mengunjungi kota ini, tapi entah bagaimana, saya sangat menikmati kunjungan saya kali ini. Mulai dari perjalanan malang-jogja pp sendiri. Sampai menyusuri malioboro sendiri. Membedah sudut-sudut UGM yang ga ada sudutnya juga sendiri. Dan tidak lupa kopi dan cerita dari kawan-kawan malang yang memilih jogja untuk melanjutkan perjalanan akademisnya. Jogja awal november benar-benar indah. Tidak lama waktu yang saya habiskan, tapi banyak kenangan yang tersimpan dan membuat saya rindu menghabiskan waktu belajar pada kota yang telah melahirkan banyak cendekiawan nasional. Bismillahirrohmanirrohim. Semoga saya berkesempatan lagi. Mungkin tahun depan?

Iklan

Amanah

Dibalik kekuatan besar, ada tanggungjawab yang sama besarnya. Kira-kira begitu pesannya paman ben pada peter parker dalam serial spiderman. Itu benar. Dan itu sulit. Begitu pun dengan tuntunan agama Islam yg menunjukkan bahwa jabatan adalah ujian dan bukan sekedar kebanggaan yang layak untuk diselamati.

Semakin saya bertambah usia, semakin banyak hal teramati yang jelas tampak dari pandangan dan yang termaknai dari perilaku yang menampakkan amatan (dan lama-lama bahasanya ribet gini yaa). Banyak individu (yang saya amati) bangga dan sibuk menghitung hak diatas sebuah peran. Sedikit dari yang teramati sibuk menghitung kewajiban yang minta diindahkan. Dari yang sedikit ini, ada berapa yang menuntaskan aksi dari hitung-hitungan kewajiban tadi?

Berat banget sii yang terkisah dari kalimat-kalimat berantakan diatas. Judulnya aja bikin mata meredup dan pundak enggan menegap. Saya tak berhasil merangkai diksi untuk tumpukan memori yang membekas 3 tahun terakhir ini. Saya belajar banyak, sekaligus banyak belajar. Belajar tentang kekuatan dan tanggung jawab. It’s not a reward cause doing something. It’s a responsibility cause other hope you doing something (yg ini bener ga yaa bahasa inggrisnya).

Itu tidak melelahkan. Pun juga bukan kebanggaan. Hanya perlu dijalani aja. Karena sudah kau pijakkan kaki mu dan memilih langkah diarah itu. Jalani dan syukuri. Caranya?

Patah tumbuh hilang berganti

Saya mencintai kata. Masih. Kerap kali pepatah berkata jujur, walau tak selalu bijak. Sama halnya dengan itu, saya memaknai pribahasa untuk beberapa goresan hidup saya. Kata tak sekedar rangkaian huruf bermakna yg disusun menjadi kalimat. Dan tak juga sekedar bunyi dengan makna untuk sampaikan maksud ku pada mu. Perhatikan saja. Kata lebih dari pada itu. 

Kata dibunyikan untuk komunikasi. Kata ditorehkan untuk publikasi. Kata didendangkan untuk inspirasi. Dan aku. Dan setumpuk kata yang bersama ku. Dan tak ada komunikasi, publikasi, pun inspirasi. Kata hanya tumpukan yang mengonggok disudut ruang. 

Banyak tanya yang tak berbunyi, kembali tersingkir menyudut kelam. Banyak cerita yang tak terkisah, kembali terhempas meringkuk malu. Banyak lantunan yang tak lagi merdu, terpola komersil hanya untuk materil. Bukankah sudah banyak yang kau dan aku patah dalam setiap temu dan cengkrama kita? Adakah yang kemudian tumbuh dari puing-puingnya? Atau ini sudah jadi binasa?

Itulah yang tak terlihat oleh kita. Bukan karena pribahasa usang yang tak relevan. Hanya mata yang tak awas mengamati kehancuran. Mari duduk membunyikan, berkisah, dan melantun. Agar yang tumbuh kembali menjamur. Agar senyum adalah kamu dan menguak persona palsu pada topeng kaku itu. Kau perlu mengistirahatkan pundak mu. Berhenti menjaga diri tetap sigap dalam awas ku. Itu hanya menjadikan kita semakin jauh. 

Learn or Study

Belajar itu selama hayat masih dikandung badan. That’s a right quote. Saya selalu menjadi bahagia berada ditengah orang-orang dengan semangat belajar tiada henti. Dan menariknya, semua hal itu saya dapatkan dari mereka yang sudah dipandang kaya akan keilmuannya. Banyak nama yang menginspirasi. Pemahaman bahwa belajar itu tidak berhenti sampai tutup usia. Tidak karena graduation yang memindahkan tali toga dari kiri ke kanan, kemudian berakhirlah sesi pembelajaran dalam kehidupan manusia. Itulah yang menarik dari belajar, bisa dimana saja dan seringkali saya belajar banyak justru dari orang-orang yang mengaku menerima pembelajaran dari saya (ini terjadi hanya karena profesi saja). Apapun itu belajar selalu menyenangkan, bahkan sedikit informasi dari pesan group juga menambah pengetahuan.

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan menghadiri forum pengelola jurnal psikologi Indonesia. Sebuah ruang yang menyadarkan saya, bahwa tidak hanya opini dan pikiran yang melayang sia-sia bila tak ditorehkan dalam wujud tulisan. Sama halnya dengan pemikiran, sebuah penelitian yang tidak didasarkan pada prinsip-prinsip metodologi yang sesuai acuan dan tidak dituliskan sesuai sistematika ilmiah, hanya akan menjadi sekedar experience tanpa bunyi empiris.

Saya tak pernah bercita-cita untuk hidup di profesi ini, tapi berada diantara orang-orang dengan semangat pembelajaran yang tak ada habisnya, membuat saya bersyukur telah memilih profesi ini. Banyak belajar, banyak berbagi, dan banyak melakukan. Walau saya tak benar-benar tahu bagaimana definisi bermanfaat bagi bangsa, tiga hal yang saya lakukan dalam profesi saya tersebut membuat saya merasa menjadi manusia yang bermanfaat. Karena belajar itu tidak melulu saat kita menjadi pelajar saja.

Hal menarik lainnya dari belajar adalah semakin banyak yang dipelajari, semakin sedikit saya merasa mengetahui suatu ilmu. Setiap pembelajaran membuat saya berpikir bahwa ilmu itu luas, lebih luas dari samudra. Karena keilmuan tak berujung dan tak berbatas. Selalu ada kekhususan didalam yang umum. Selalu ada penjelasan yang umum untuk hal-hal khusus. Sungguh anugerah untuk bisa merasakan nikmatnya belajar.

English menyebut “learn” dan “study” sebagai kata lain dari “belajar”. What’s the different? Learn means gain knowledge or skill in a subject or activity. Study means process of learning something. Itu versi kamus Oxford. Sebenarnya masih ada beberapa padanan kata lainnya. Setidaknya, yang saya sebutkan mewakili maksud saya. Tak ada batasan ruang waktu dalam memahami kedua kata tersebut. Karena belajar memang tak berbatas ruang dan waktu. Karena belajar adalah sepanjang usia. Selama hayat masih dikandung badan.

Semakin saya paham makna belajar dan luasnya belajar. Semakin saya ingin terus belajar. Karena belajar selalu menyenangkan untuk saya. Tidak melulu dari guru di kelas. Karena lingkungan adalah guru kehidupan. Just learn, and let’s study. *Bener ga sii nulisnya?

Reason not solution

Negara kami memang negara berkembang, namun kami tak kekurangan orang-orang cerdas. Catatan sejarah pun mengukir banyak kisah dari orang-orang hebat negeri kami. Tanah kami tanah surga, orang bilang. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman istilah koes ploes (sebuah grup penyanyi). Anak-anak bangsa disini pun bersekolah. Tiap dari mereka memeluk mimpi juga.  Lantas masih ditemukan banyak dari mereka berkeliaran dijalan dan menadah tangan.

Kemana semua mimpi kanak-kanak mereka pergi, ketika hari-hari disesaki dengan sekedar aktivitas yang kebanyakan orang-orang lakukan. Kemana semua bakat menguap, ketika setiap harapan seringkali dipandang dengan kaca mata nepotisme.

Bukan kesia-siaan bila hidup dimasa ini. Hanya saja, kita perlu tetap menjaga mimpi dengan usaha. Amin.

Not 100% of you

Kau masih bersinar. Khas dan cerah. Sudah cukup lama kita tak bertegur sapa dan bersilang kisah. Melihat mu hari ini membentuk banyak pemaknaan dalam pikir ku.

Ini bukan yang terbaik dari segala pertunjukan yang biasa kau pertontonkan pada ku. Ada apa dengan mu? Lelah kah? Jenuh ku? Mana semangat dan mimpi-mimpi yang pernah kau dendangkan pada ku?

It’s not 100% of you. Come back alive please 😉 You must showed your dream to world. Not for anyone. Not for me too. Just showed it, cause you are more than that. And, just missed your best performance. Anyway, congrats for this moment. One step pass away. However, it’s too usual for unusually man. 

Begitulah katanya, semakin tinggi pohon, semakin kuat angin yang menerpa.

Begitulah adanya, dibalik kekuatan yang besar ada tanggung jawab yang sama besarnya menyertai. 

Begitulah nyatanya, air dan minyak rukun tak membaur. 

Begitulah hidup, berjalan tanpa menunggu kesiapan manusia. Kau, aku, mereka, tak ada yang berubah. Masih kita yang sama. Masih harapan yang sama. Hanya saja langkah tidak mengakar pada pijak. Entah aliran air yang terlalu deras, ataukah tiup angin yang badai? Sejatinya manusia tetap sekumpulan makhluk penuh dengan spekulasi dan persona. Tumpukan topeng dalam samaran wajah. Palsu dalam kenyataan. Nyata yang manipulatif. 

Selamat dan terima kasih. 

Akhir Maret dan Musim Hujan yang Enggan Beranjak

Minggu, 26 Maret 2017

Gerimis masih melekat, menjejak bumi arema. Awan kelabu tak kunjung bergeser dari penglihatan. Riuh rinai sudah begema semenjak kemarin sore. Ini bukan hal yang khusus, toh sudah begini di sepanjang waktu semenjak berakhirnya kemarau sekitar pertengahan tahun kemarin.

Saya tak pernah membenci hujan, titik airnya selalu menjadi keindahan bagi saya. Bahkan, ketika seluruh awan pecah mengguyur bumi dan menghantam tubuh-tubuh yang nyaris membeku ketika membelah jalan. Juga, ketika seluruh aktifitas menjadi tertahan dan berantakan karenanya. Hujan masih menjadi fenomena alam yang paling indah. Lebih indah daripada persilangan antara mentari dan bumi yang basah. Lebih indah daripada guratan mentari yang pamit dan meredupkan sinarnya untuk bumi.

Ada hawa beku yang semilir menegur disaat air mulai tumpah memijak bumi. Sendu bertumpuk dengan syahdu. Rindu entah pada apa. Just blue situation. And so melancholic memory. Wish you have a good day, baby.