Saudara? Siapa?

Media sosial emang bisa menyambung dan mematahkan. Beberapa hari yang lalu saya melihat foto orang-orang yang tidak saya kenal sedang berpose didepan banner wajah 2 mempelai yang saya kenal. Ada di timeline saya, karena yang posting juga saya kenal, walaupun dia tidak ada di TKP, tapi caption yang mengucapkan selamat dan permohonan maaf tak bisa hadir menandakan dia tahu acara tersebut. Dan saya tak tahu. Dan saya pikir harusnya saya tahu. Dan saya mendadak linglung bercampur ragu, apa kami saling mengenal?

Tak ada maksud menyinggung. Saya menulis ini sekaligus pengantar mengucap selamat, semoga barokah dan lenggang, kanda. Mungkin saya salah paham, mungkin ada undangan, mungkin saya yang tak peka sebagai adek yang ada satu grup dengan kanda. Cuma merasa, kalau itu hari bahagia mu, saya tak mendapat undangan di grup, tapi itu undangan berbentuk nyata yang tertuliskan nama saya. Hahaa. Saya terlalu berlebihan menilai hubungan kita.
Sungkan juga untuk mengucapkan selamat secara langsung kalau begini, merasa asing atau entahlah, seperti apa bahasa yang tepat.😀 It’s just what I think and I share. Dan entah mengapa, saya merasa perlu minta maaf karena memposting ini.

Okee. Enough about that event. Apa pun kisah dan lain-lain tentang itu, saya tetap senang mengetahui hari bahagia kanda. I think it’s always be your dream, and now you are. Congrats. And the important thing is her. She is yours, and your story it’s so long, isn’t it?

———————.

Ini hanya satu cerita yang membuat saya meragukan slogan “berteman lebih dari saudara.” Dan entah mengapa, saya merasa bersalah karena sudah meragukannya. Something banget. Like a drama queen. Saya jadi semakin yakin kalau saya ga punya kawan, karena saya kira dulu kita saudara. Hahaa. Sekarang saya pikir kita hanya manusia yang pernah berbagi ruang dan waktu. Setidaknya kami punya cerita. Setidaknya saya mengabadikan sedikit dari cerita kekeluargaan kami dalam beberapa goresan yang hanya penting bagi saya sendiri. Entah harus bertanya pada siapa, bagi saya hari ini lebih realistis dan esok hari belum tentu ada. Untuk kita yang dahulu berkawan, untuk kita yang memilih berteman lebih dari saudara, saya merasa takut itu hanya pemikiran saya sendiri, bukan kita. Karena mungkin tidak pernah ada kita, isn’t it? Please don’t say yess.

Hahaa. Kq jadi melankolis begini sii. Kali ini objeknya udah kemana-mana. Pikirannya udah penuh banget. Semua memori berontak untuk keluar. Dan pada akhirnya saya memilih untuk mengingat semuanya adalah hal manis. Karena mungkin saja, waktu itu kita saudara. Karena ditempat kalian semua, ada saudara lain yang jauh realistis untuk kalian. Seperti yang pernah seseorang kata kan pada saya, wajarlah sudah tak kontak lagi, toh kita sudah punya dunia masing-masing. Setidaknya dulu kita berbagi dunia. Tapi saudara tak seharusnya begitu kan? Dan pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa saya lah yang membuat persaudaraan kita menjadi patah. Saya lah yang tak menjaga silaturahmi. Saya lah yang begitu apatis. Dan memang, ada yang salah dengan saya, semoga tidak sampai neurotis.

Terima kasih untuk semua kawan yang mengajarkan saya bahwa berteman lebih dari saudara. Karena kalian saya bwlajar banyak. Saya belajar membaca sekaligus mengenali kehidupan dan mereka yang hidup untuk kehidupan. Dan dunia ini luas. Dan saya belajar banyak. Kalian juga belajar banyak. Isn’t it?

Dunia kecil itu ku sebut “Kerja”

Dua tahun ada waktu yang berlalu, tepat 60/60/24/7/12/2. Anggap saja seperti itu matematisnya. Kurang/lebihnya tho ga akan jauh-jauh dari itu. Maklum saja, hitung-hitungan anak sosial tak pernah pasti. sudah bulan November lagi. Sudah musim penghujan lagi. Musim yang selalu tawarkan keindahan. salah satu alasan saya mengagumi rintiknya. Bukan. Tentu saja bukan hujan yang akan saya ukirkan. It’s not suitable with my title. I will talk about JOB.

Tentu saja saya tak akan sebutkan bagaimana saya begitu fanatik dan membanggakan pekerjaan saya. Saya juga tidak akan mengeluh dan merutuki pekerjaan saya. I just found something in my job, and I think it’s good for me to share it.

It’s my job, but it’s not my dream to work it. Uniknya, saya merintis karir disini. It’s awesome, right? Perjalanan  waktu sampai hari ini, saya belum pernah menyesali keputusan yang saya pilih untuk langkah kaki. tentu saja itu karena bagi saya memutuskan sesuatu adalah hal dasar untuk memulai kehidupan. dimana pun. kapan pun. bagaimana pun.

saya dalam persona kerja yang profesional tentu saja tidak 100% SAYA. They want me to be professional. apakah itu menjadi sulit kemudian? hahaa. I’m psychologist and study psychology it’s my activity. I enjoy it, so far.

saya kira daritadi setiap huruf yang terangkai begitu berantakan. saya tidak tahu bagaimana sulitnya saya berkisah malam ini. bahasa yang campur aduk. tulisan tanpa poin. I don’t know, how to start it. However, I want share it. Let’s begin. Bismillah.

okee. ini bukan belajar bahasa. saya tidak akan memperhatikan tata bahasa. saya hanya akan memulai membagi pemikiran dan pemaknaan saya mengenai dunia kecil saya selama 2 tahun ini. saya tidak punya maksud apa-apa, kepada siapa-siapa. dan semoga ini tidak menjadi kenapa-kenapa. Maaf untuk segala kata yang terabadikan disini.

Sepanjang kehidupan saya, segala sesuatu yang saya jalani belum pernah terjadi karena pilihan orang lain. tidak jarang saran, kritik, pujian, cercaan, mewarnai pilihan itu. tetap saja saya masih merasa merdeka sampai hari ini. bahkan terhadap bapak. bapak memang begitu, selalu menjadi yang terdepan dibanding keluarga lainnya untuk menjadi kepo dan cerewet mengenai kehidupan saya. saya sangat berterima kasih karenanya. itu membuat saya tidak pernah kehilangan cinta semili-detik pun. walaupun begitu, pada akhirnya saya tetap menjalani aktivitas pilihan saya. sekolah, organisasi, domisili, pekerjaan, termasuk tentang asmara (just trust me dad, it’s not my topic today but I promise to write it later. I want you to know many things about it, cause I choose my way not for your willing, but for my future as rationally decision). Okee, saya salah fokus lagi. Let’s talk about my job (again).

Entah bagaimana, berkisah tentang asmara sangat mengalir untuk saya dan menjadi sulit untuk TIDAK menuliskan itu hari ini. I’m focus now. saya adalah salah satu yang muda secara usia di pekerjaan saya. itu membuat saya sangat dimanja dan diperhatikan oleh rekan kerja saya. setidaknya itu yang saya rasakan. ini membuat saya nyaman. salah satu poin yang membuat saya memilih pekerjaan ini. selain karena saya suka dengan apa yang saya kerjakan. karena dalam pekerjaan saya, saya tidak hanya mendapatkan gaji. saya mendapatkan banyak ilmu dari pekerjaan saya. saya belajar banyak karena saya bekerja. tentu saja tidak kemudian membuat saya mengatakan bahwa begini adalah bagaimana saya akan menjalani hidup. tapi, untuk saat ini saya menikmati kehidupan saya. hal lainnya yang membuat saya tidak menyesal adalah tidak ada kelelahan dalam pekerjaan saya. It’s nice for me. tidak lelah dan ada mimpi di sana. I talk about my job.

ini yang ingin saya bagi. ilmu yang saya dapat selama bekerja. ilmu yang hanya bisa saya peroleh karena saya bekerja. karena ini bukan organisasi mahasiswa, apalagi sekedar organisasi di sekolah. karena buku teks tak menjelaskan ini. saya belajar bahwa manusia itu istimewa. karena tidak ada hal yang impossible saat berbicara tentang manusia. semuanya mungkin. semuanya bisa. saat bekerja, saya menjadi tahu bagaimana saya. saya yang satu waktu menjadi idola dan sangat bermanfaat bagi lingkungan kerja saya. pada waktu yang lain, saya juga menjadi menyebalkan dan menyulitkan untuk lingkungan kerja saya. saya tidak akan pernah menjadi 100% bermanfaat bagi orang lain. Tapi, saya yakin menjadi 100% hikmah untuk orang lain yang berinteraksi dengan saya. berlaku sama dengan orang lain kepada saya.

ini sudah begitu berbeda dengan dunia lainnya yang pernah saya masuki. karena dunia kerja menuntut profesionalisme. karena dunia kerja mengharuskan persona. It’s absolutely and I know that, but I hate people with 2 faces. dan mereka hanya menarik saat di dunia kerja. setidaknya begitu bagi saya. karena saat menemukan yang beginian di organisasi dan di sekolah dulu, it’s fine for me and it’s not have significant influence for me.

kenapa yaa? saya menanyakan itu berkali-kali kepada diri saya saat memikirkan tentang “muka dua”. hahaa. I think it could be fun for the title. apa yaa untungnya bersikap dan berbicara yang menyenangkan orang lain? terkadang saya juga menggunakan strategi ini. I call it, strategy. tapi seharusnya strategi dilakukan dengan rasional. kenapa dia melakukan ini dengan sangat “terbuka” dan “nyata”. sungguh bunuh diri. bagi saya itu tidak terlihat seperti “menguntungkan”, malah dengan jelas menunjukkan “how pitty you are?”

kalau dipikir-pikir lagi, saya menemukan yang beginian ga cuma di tempat kerja sii, waktu sekolah dulu juga ada yang beginian. poin bedanya adalah dulu tak ada tuntutan profesional. sekarang? kalau “muka dua” dijadikan strategi, kontras banget sama nilai-nilai profesionalisme, iyaa ga sii? how to deal with it? Just abandon it.

Tuhan. ga penting bangetlah catatan saya ini. hanya rangkaian panjang tanpa esensi. anggap saja apresiasi pada pekerjaan saya. apresiasi yang berantakan. hahaa. saya sudah sadar dari sejak lama dengan hidup saya yang berantakan. dan saya menikmati keberantakan ini.

 

P.S. I love you (hahaa, ini judul film – bukan ini maksud saya)

P.S. hidup itu satu kali aja, waktu itu hanya bergerak maju, bagaimana saya menjadi sinis dengan kehidupan hanya karena debu-debu yang mengusik penglihatan? I walk in a way cause I trust my way. *walaupun jatuh itu sakit, setidaknya saya sering kali mencoba untuk menggandeng mu dan tak berniat menggandoli mu. calm boss😉

Catatan Akhir Pekan

Terima kasih Ulya sudah membuatkan alasan untuk saya berlibur, walaupun harus lelah 2 hari dg kurang tidur, tapi saya merasakan liburan 🙌🙌 Barokallah untuk gelar mu yg menambah (lagi) 3 huruf deretan nama mu. Thanks to Ika, untuk waktu nya yang menjadi terbuang-buang (padahal laporan numpuk) dan tempatnya yang menjadi makin sempit karena saya daulat 3 hari kemaren. Dan sepasang ferdi-tika yang sudah menceriakan malam Minggu saya di kota pahlawan. Bahagia banget berkesempatan bermain-main dengan kalian diwaktu-waktu rutinitas pekerja yg masih mengharap gaji untuk makan. Hahahaha. Saya sudah terdengar puitis ga fer?😉

Kehormatan mendampingi wisuda seorang teman. Kenikmatan bersilaturahmi dengan kawan-kawan yg sama berharganya seperti saudara. Kepuasan berada ditengah-tengah tumpukan buku “big bad wolf books“. Sungguh memorable dan happy weekand sekali. Ini akhir bulan, dan berakhir dengan bahagia. 

Well, udah balik ke Malang lagi. Udah kembali dengan rutinitas pekerja lagi. Udah back to realita. Selamat UTS. Selamat bertugas. Dan semoga ada sela untuk berlibur lagi. Karena seringkali saya tak berani untuk membuat alasan berlibur saya sendiri, dan terima kasih saya untuk kesediaan kawan-kawan yang memberikan alasan untuk saya meluangkan waktu untuk membahagiakan dirinya sendiri.

Rindu Celoteh mu

Pagi ini dingin.. Setiap hari dimusim penghujan, cuaca tak terprediksi antara gerah dan dingin. Lagi-lagi kita melakukannya. Sering kali dalam beberapa waktu ini. Pertemuan singkat. Hanya itu yang bisa kita lakukan dengan dalih kesibukan. Bahkan tak ku tepati janji ku untuk menghabiskan malam dengan mu karena jatuh terlelap sebelum kau datang. Maaf mengecewakan. Ahh, itu tak ada guna. Sepertinya waktu berlalu dengan memupuk rindu. Adakah begitu juga yang kau rasa?

Saya hanya merasa begitu lama kita tak menghabiskan waktu untuk cerita hebat ku dan ide cerdas mu. Entah kesibukan yang rutin atau mimpi yang membelenggu. Entah tepat atau tidak yang kita lakukan. Tapi ku rasa kau juga meyakininya, bahwa kita berlari-lari di atas jalan yang tepat. Keputusan untuk mengejar mimpi, bermimpi, dan berjalan di jalur mimpi. Bahasa klise nya adalah “semoga sibuk mu dan sibuk ku adalah sibuk yang bermanfaat.” Begitukah? 

Saya tak meminta mu berhenti, karena disetiap pencapaian mu saya sering kali tersenyum dan membatin syukur dengan penuh rasa bangga. Saya tw kau akan bisa. Namun, saya tak berniat munafik dan berusaha jujur. Waktu yang pernah lewat diantara kita dalam cengkerama hangat dulu, saya rindukan. Celetukan-celetukan penuh semangat dan harapan yang kau tularkan menjadi keyakinan ku bahwa bermimpi itu wajar, bahwa usaha itu harus, bahwa hidup itu adalah kekayaan tanpa batas. Jadi benar kalau momen menyenangkan tak kan terulang dan cepat berlalu?

Mungkin nanti. Entah kapan tapi kita sama-sama saling janji untuk menyisipkan waktu itu. Waktu untuk melepas rindu. Waktu untuk berbicara masa depan. Waktu untuk evaluasi perjalanan hidup. Waktu untuk kita. Tetap lari dijalan yang kau pilih, aku pun sedang melakukan bagian ku. Hanya saja, kau perlu menata hari mu lebih manis dari sekadar memenuhi janji-janji yang kau buat. Plan mu, mimpi mu, disitu kaki mu harus melangkah. Amanah mu yang membentuk hormat ku pada gerak mu. Terima kasih karena tanpa cerita pun kau masih mengabarkan keadaan mu pada ku. Cukup rindu ini berhenti disini saja. Berhenti pada rangkaian kata-kata tak penting yang ku tata.

Catatan Penutup Weekend 

Selamat malam. Sampai jumpa. Dua minggu ini kita begitu jauh. Karena hanya ada pesan yg saling berbalas saja tanpa ada pertemuan. Ada, ada lambaian dari kejauhan dan senyum sumringah yg kau kirim dari kejauhan. Mata mu bercerita tentang rindu yg membuncah. Namun, aku tak begitu yakin kalau rindu itu untukku.

Kau, alasan ku untuk merindu. Bukan pada senyum tampan mu. Bukan juga suara merdu mu. Bukan karena  joke konyol mu. Hanya saja kita begitu lama tidak bertukar kisah. Sepenggal dan begitu sedikit ku ketahui kegiatan mu dari orang-orang yg berkisah sambil lalu.

Betul-betul kaya mimpi kita hingga 24/7 sudah tak lagi terselip kisah kebersamaan. Apa sebenarnya mimpi mu? Apa sebenarnya yg ku kejar? 

Larut

Menit-menit menuju pergantian waktu. Akan berubah angka kalender masehi. Sudah berubah arah putar rembulan semenjak tadi. Waktu adalah anugerah Tuhan yang tak menyediakan kesempatan kedua. Hanya ada kenangan pada yang telah lalu. Hanya ada harapan untuk yang akan datang. Hidup yang benar-benar nyata adalah saat ini. Ketika kau menyungging bibir dan menatap penuh binar kearah ku. Meskipun seluruh celoteh mu berisi tentang mimpi yang tak menyebutkan nama ku didalamnya. Terima kasih karena saya menjadi spesial untuk tahu mimpi besar mu.

Kau penuh semamgat. Langkah mantap. Harapan besar. Jiwa optimis. Semuanya. Semua melecut seluruh nalar saya untuk ikut menjadi pemimpi dan percaya pada segala mimpi yang saya ciptakan. Cara untuk bertahan hidup kata mu.

Keseharian ku lebih realistis sayang. Dunia mu sedikit positivistik. Siapa berani menyalahkan mu untuk itu. Kehidupan membawa kita pada satu titik kesamaan. Toleransi dan antusiasme. Percayalah saya tidak begitu mudah percaya pada mu. Tapi segenap bahasa yang mampu digunakan manusia untuk komunikasi menjawab lantang bahwa “kau benar.” Dan saya berakhir dalam ketercengangan. Kau percaya pada setiap celotoh ku? Kau yang santun menjadi sifat keraguan ku. Mana ada sikap santun yang jujur. Itu semacam basa-basi sayang. Namun bahasa komunikasi ku sekali lagi tak bersahabat dengan logika sekaligus menantang rasa.

Ahh, sayang, terlalu kilau pesona mu. Aku tak pernah ingat bahwa kita saling mendukung. Bahkan setelah mematri lebih seksama, kita hanya berjalan sejajar dan tak beriringan. Lantas apa yang membuat kita saling mendukung? Apakah hidup terlalu sepi hingga hanya tatap kita yang beadu? Apakah hidup adalah kepadatan yang menyesakkan hingga tak ada jalan untuk TIDAK berhimpitan?

Aku masih percaya Tuhan, namun aku tak yakin pada teori “manusia adalah wayang.” Mana bisa begitu? Aku tahu kau setuju kali ini. Maka, bebaskan semua mimpi mu dari bisik-bisik dunia. Kelemahan mu yang membuat ku lebih unggul, walau kita tak sedang bertanding. Wahh, dunia mu yang lemah itu semarak, sayang. Aku tak yakin apakah angkuh dan sepi ku membentuk iri dan menjadi lemah ku. Saya hanya menjadi ragu tentang percakapan kita. Tentang canda tawa kita. Tentang apa itu kita.

Seperempat abad kehidupan

Dua hari lalu, genap seperempat abad saya bernafas. Inilah kehidupan dengan segala suka dukanya. Dua puluh lima dan menjadi lebih dekat dengan keluarga. Dua puluh lima dan romantisme kejutan di hari lahir. Dua puluh lima dan tidak ada kamu.

Just thanks for your post card. Sekeping dan begitu bermakna. Inisiatif dan kreativitas mu sukses mengalahkan keindahan matahari terbit di pagi hari dan melancarkan segala aktivitas ku hari kamis kemaren. 

Big thanks to all my family (bapak, mama, aan, dhea, om, tante, adek, kakak, dll). Second thanks to all my friends. Kenapa jadi seperti halaman persembahan gini? Hahaa. Entah bagaimana saya merasa tahun ini begitu banyak ucapan dan doa yang saya dapatkan, walaupun saya tidak membuat grafik perbandingan antar tahun. Dan entah bagaimana pula saya merasa sangat bahagia di tahun ini dengan berbagai kejutan yang nyaris membuat jantungan dari berbagai pihak (agak alay). Ga bisa bilang apa-apa lagi selain sangat-sangat berterima kasih sama kalian semua. Mana bisa saya pastikan apakah akan ada 26 untuk saya. Namun, bisa saya pastikan bahwa 25 saya adalah awesome day for me.

Beberapa orang pergi dari kehidupan. Dan beberapa lainnya datang menemui kehidupan. Seriap dari kita menapaki jalan dari awal menuju akhir. Siapa yang bisa mengukur jarak? Siapa yang tahu garis akhir? Saya dan kamu hanya dan masih terus melangkah. Entah pada titik yang mana lagi jalan kita kembali bertemu. Saya dan kamu adalah dua manusia yang hidup dengan jutaan mimpi, harapan dan rencana. Entah pada bagian mana kita berada pada impian yang sama. Seringkali saya menanyakan adakah kamu dalam rencana saya?  Sama ragunya saat saya pertanyakan adakah saya dalam rencana mu? Dan begitulah waktu menuntun kita pada satu pertemuan sekali lagi, untuk mempertanyakan rencana kita. Bukan pada ku, bukan juga dengan mu. Hanya kita. Untuk menyelami kedalaman rasa.