Reason not solution

Negara kami memang negara berkembang, namun kami tak kekurangan orang-orang cerdas. Catatan sejarah pun mengukir banyak kisah dari orang-orang hebat negeri kami. Tanah kami tanah surga, orang bilang. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman istilah koes ploes (sebuah grup penyanyi). Anak-anak bangsa disini pun bersekolah. Tiap dari mereka memeluk mimpi juga.  Lantas masih ditemukan banyak dari mereka berkeliaran dijalan dan menadah tangan. 

Kemana semua mimpi kanak-kanak mereka pergi, ketika hari-hari disesaki dengan sekedar aktivitas yang kebanyakan orang-orang lakukan. Kemana semua bakat menguap, ketika setiap harapan seringkali dipandang dengan kaca mata nepotisme.

Bukan kesia-siaan bila hidup dimasa ini. Hanya saja, saya perlu tetap menjaga mimpi dengan usaha. Amin.

Not 100% of you

Kau masih bersinar. Khas dan cerah. Sudah cukup lama kita tak bertegur sapa dan bersilang kisah. Melihat mu hari ini membentuk banyak pemaknaan dalam pikir ku.

Ini bukan yang terbaik dari segala pertunjukan yang biasa kau pertontonkan pada ku. Ada apa dengan mu? Lelah kah? Jenuh ku? Mana semangat dan mimpi-mimpi yang pernah kau dendangkan pada ku?

It’s not 100% of you. Come back alive please 😉 You must showed your dream to world. Not for anyone. Not for me too. Just showed it, cause you are more than that. And, just missed your best performance. Anyway, congrats for this moment. One step pass away. However, it’s too usual for unusually man. 

Begitulah katanya, semakin tinggi pohon, semakin kuat angin yang menerpa.

Begitulah adanya, dibalik kekuatan yang besar ada tanggung jawab yang sama besarnya menyertai. 

Begitulah nyatanya, air dan minyak rukun tak membaur. 

Begitulah hidup, berjalan tanpa menunggu kesiapan manusia. Kau, aku, mereka, tak ada yang berubah. Masih kita yang sama. Masih harapan yang sama. Hanya saja langkah tidak mengakar pada pijak. Entah aliran air yang terlalu deras, ataukah tiup angin yang badai? Sejatinya manusia tetap sekumpulan makhluk penuh dengan spekulasi dan persona. Tumpukan topeng dalam samaran wajah. Palsu dalam kenyataan. Nyata yang manipulatif. 

Selamat dan terima kasih. 

Akhir Maret dan Musim Hujan yang Enggan Beranjak

Minggu, 26 Maret 2017

Gerimis masih melekat, menjejak bumi arema. Awan kelabu tak kunjung bergeser dari penglihatan. Riuh rinai sudah begema semenjak kemarin sore. Ini bukan hal yang khusus, toh sudah begini di sepanjang waktu semenjak berakhirnya kemarau sekitar pertengahan tahun kemarin.

Saya tak pernah membenci hujan, titik airnya selalu menjadi keindahan bagi saya. Bahkan, ketika seluruh awan pecah mengguyur bumi dan menghantam tubuh-tubuh yang nyaris membeku ketika membelah jalan. Juga, ketika seluruh aktifitas menjadi tertahan dan berantakan karenanya. Hujan masih menjadi fenomena alam yang paling indah. Lebih indah daripada persilangan antara mentari dan bumi yang basah. Lebih indah daripada guratan mentari yang pamit dan meredupkan sinarnya untuk bumi.

Ada hawa beku yang semilir menegur disaat air mulai tumpah memijak bumi. Sendu bertumpuk dengan syahdu. Rindu entah pada apa. Just blue situation. And so melancholic memory. Wish you have a good day, baby.

Just…

Kalau kau harus mengucapkan selamat tinggal pada seseorang, itu berarti kau sedang mencintai seseorang

 Terima kasih karena setiap hari adalah makna kebahagiaan, kesedihan, kesenangan, lekecewaan, tawa dan amarah. Tidak berarti semuanya hilang dan lenyap. Bahkan amnesia pun hanya folder-folder memori yang ter-hiden, bukan hilang. Karena kita adalah manusia. Manusia hidup dan bertahan dikehidupannya dengan segala kenangan yang dimiliki. Terima kasih untuk mampir dan membantu saya merajut kenangan. Dan ini bukanlah akhir. Ibarat buku, hanya membuka bab yang baru. Karena kisah belum berakhir. Iyaa kan?

2017

Lihatlah bagaimana kontrak telah diperbaharui. Satu semester telah berlalu. Dan apa yang sudah saya lakukan? Entahlah, saya tak pernah menuliskan resolusi tiap tahunnya. Bahkan pergantian tahun ini pun berlalu dengan mata terpejam dan tidur lelap. Tapi sungguh saya punya keinginan-keinginan yang mungkin saya lakukan. Setidaknya untuk esok, atau mungkin sekarang.

Saya coba mengevaluasi bagaimana saya dan proses belajar mengajar, saya coba menyusun setiap proyeksi untuk segala evaluasi setiap semesternya. Setidaknya itu yang cukup real bagi saya, toh ini adalah dunia saya. Semoga bisa menjadi lebih baik, minimal tidak membuat saya menghela nafas kecewa pada diri sendiri atau melukai harga diri karena berani memperbaharui kontrak dan mengajukan permohonan dosen tetap. Semoga. Setidaknya untuk empat semester yang telah berlalu, saya banyak belajar dan beradaptasi dan lebih baik lagi. Karena cita-cita sebagai manusia yang bermanfaat itu terwujudnya susah-susah-gampang. Minimal saya mengusahakan seauatu.

Dan ini 2017. It’s a hope. It’s my wish. Please be my year. Semoga. Bismillah. Entah darimana asalnya, saya meyakini bahwa ini tahunnya. Ga tahu gimana caranya. Walaupun ini jenis keyakinan yang tidak logis. Hingga saya menemukan tanda-tanda rasional, hanya berdoa dan semoga.

Bagaimana dengan IELTS dan PhD? Dua tahun lagi harusnya. Apa yang dipersiapkan? Mulai darimana? Let it flow aja lah. Gimana-gimananya, jalan menuju masih lebih nyata, walau ujungnya belum kelihatan. Hahaa.

Dan beginilah saya mengawali tahun ini. Entah bagaimana tahun ini berlalu, just wish it. Bismillah.

Lelaki

Ini adalah janji saya pada tulisan sebelumnya. Janji yang mungkin akan beliau baca. Kalau bapak baca ini, semoga bisa sedikit mengurangi kegelisahan bapak. Walaupun saya agak lupa bagaimana tepatnya kalimat saya menyatakan akan menulis di kemudian waktu tentang mahkluk istimewa lainnya yang sejenis dengan kami (baca: perempuan), makhluk istimewa yang Tuhan ciptakan. Baiklah, apa yang bisa saya jelaskan tentangnya. Saya membagi 3 kategori Lelaki dalam hidup saya. Semuanya pernah, masih dan akan berbagi cerita dengan saya. Dan mengajarkan saya banyak hal, banyak makna, banyak cerita dalam kehidupan.

Pertama adalah Lelaki yang tidak akan pernah tergantikan dalam hidup saya. Cuma DUA orang. Bapak. Adek. Keduanya memberi warna dalam hidup saya. Tidak banyak yang bisa saya sampaikan tentang mereka, cukup satu kalimat dan itu sudah bercerita banyak tentang pentingnya mereka bagi saya. Kasih sayang tak terhingga dan kemuliaan manusia adalah hal terbaik yang selalu saya dapatkan. Dan itu karunia Nya. Terima kasih Tuhan.

Kedua adalah lelaki pada umumnya. Seperti dua orang cerita yang saya pikir adalah cinta. Dua kisah yang memberi warna dalam hidup saya. Dua lainnya yang masih sama umumnya dengan mereka yang berpapasan dengan saya ditepi jalan. Hanya saja, banyak senyum dan air mata yang pernah singgah karenanya. Tapi tetap saja kalian masih menjadi lelaki pada umumnya. Cuma dua. Dan saya tidak menyesal untuk memilih jalan yang berbeda dengan keduanya. Bukan sebuah kemungkinan, namun hal yang saya yakini. Saya percaya, berjalan tak bersama kalian serta tidak terus berada di sekitar kalian membuat saya lebih bahagia. Setidaknya, tak ada yang pernah saya sesali dalam kehidupan. Termasuk pilihan langkah dengan rute yang berbeda. Anehnya, tidak disekitar keduanya membuat saya menemukan banyak cerita dalam dunia. Termasuk tentang masih banyaknya laki-laki yang ada di dunia ini (bagian yang dipaksakan karena topiknya adalah Lelaki 😀 ). Saya melihat banyak impian dan banyak kisah yang bisa saya tuliskan dan saya kenang tentang perjalanan hidup. Lebih banyak alasan untuk tersenyum dan menitikkan air mata. Banyak hal selain kamu. Untuk keduanya, kalian tak pernah menjadi yang terkelam dalam kehidupan saya sejauh ini. Masih belum ada sii yang kelam, hahaa. Kamu yang pertama dan mengajarkan saya bahwa suara hati kecil itu ada dan  memilih itu perlu dengan menyadari segala konsekuensinya. Dan untuk mu yang menjadi 3 tahun saya menggantung mimpi, kita belajar banyak bagaimana takdir dan usaha itu adalah suatu kolaborasi yang manis. Terima kasih untuk kesempatan belajarnya. Saya belajar banyak dari kita di waktu itu. Dan lelaki lainnya yang menjadi teman, yang saya kenal, yang adalah teman dari temannya teman, dan yang saya pikir lebih dari saudara. Semua punya cerita. Semua mengajarkan saya benyak cerita dalam setiap pertemuannya. Dan untuk bapak, karena mereka adalah lelaki pada umumnya, sehingga mereka masih terlalu umum untuk anak perempuan mu yang istimewa ini. I choose my way not for your willing, but for my future as rationally decision. Percaya saja sama saya, bukan yang kedua karena masih terlalu umum. Next time you will get to know him (the man of my life) – terinspirasi dari mother how are you today.

Ketiga, the man of my life. Siapa? Hahaa. Itu yang saya maksud dan bapak perlu tahu. Bukan lelaki pada umumnya. Lelaki yang tahu istimewanya saya, sama seperti bapak dan adek menjaga saya selama ini. Saya tak bisa berkata banyak tentangnya. Hanya saja, next time you will get to know him. 😉

Saudara? Siapa?

Media sosial emang bisa menyambung dan mematahkan. Beberapa hari yang lalu saya melihat foto orang-orang yang tidak saya kenal sedang berpose didepan banner wajah 2 mempelai yang saya kenal. Ada di timeline saya, karena yang posting juga saya kenal, walaupun dia tidak ada di TKP, tapi caption yang mengucapkan selamat dan permohonan maaf tak bisa hadir menandakan dia tahu acara tersebut. Dan saya tak tahu. Dan saya pikir harusnya saya tahu. Dan saya mendadak linglung bercampur ragu, apa kami saling mengenal?

Tak ada maksud menyinggung. Saya menulis ini sekaligus pengantar mengucap selamat, semoga barokah dan lenggang, kanda. Mungkin saya salah paham, mungkin ada undangan, mungkin saya yang tak peka sebagai adek yang ada satu grup dengan kanda. Cuma merasa, kalau itu hari bahagia mu, saya tak mendapat undangan di grup, tapi itu undangan berbentuk nyata yang tertuliskan nama saya. Hahaa. Saya terlalu berlebihan menilai hubungan kita.
Sungkan juga untuk mengucapkan selamat secara langsung kalau begini, merasa asing atau entahlah, seperti apa bahasa yang tepat. 😀 It’s just what I think and I share. Dan entah mengapa, saya merasa perlu minta maaf karena memposting ini.

Okee. Enough about that event. Apa pun kisah dan lain-lain tentang itu, saya tetap senang mengetahui hari bahagia kanda. I think it’s always be your dream, and now you are. Congrats. And the important thing is her. She is yours, and your story it’s so long, isn’t it?

———————.

Ini hanya satu cerita yang membuat saya meragukan slogan “berteman lebih dari saudara.” Dan entah mengapa, saya merasa bersalah karena sudah meragukannya. Something banget. Like a drama queen. Saya jadi semakin yakin kalau saya ga punya kawan, karena saya kira dulu kita saudara. Hahaa. Sekarang saya pikir kita hanya manusia yang pernah berbagi ruang dan waktu. Setidaknya kami punya cerita. Setidaknya saya mengabadikan sedikit dari cerita kekeluargaan kami dalam beberapa goresan yang hanya penting bagi saya sendiri. Entah harus bertanya pada siapa, bagi saya hari ini lebih realistis dan esok hari belum tentu ada. Untuk kita yang dahulu berkawan, untuk kita yang memilih berteman lebih dari saudara, saya merasa takut itu hanya pemikiran saya sendiri, bukan kita. Karena mungkin tidak pernah ada kita, isn’t it? Please don’t say yess.

Hahaa. Kq jadi melankolis begini sii. Kali ini objeknya udah kemana-mana. Pikirannya udah penuh banget. Semua memori berontak untuk keluar. Dan pada akhirnya saya memilih untuk mengingat semuanya adalah hal manis. Karena mungkin saja, waktu itu kita saudara. Karena ditempat kalian semua, ada saudara lain yang jauh realistis untuk kalian. Seperti yang pernah seseorang kata kan pada saya, wajarlah sudah tak kontak lagi, toh kita sudah punya dunia masing-masing. Setidaknya dulu kita berbagi dunia. Tapi saudara tak seharusnya begitu kan? Dan pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa saya lah yang membuat persaudaraan kita menjadi patah. Saya lah yang tak menjaga silaturahmi. Saya lah yang begitu apatis. Dan memang, ada yang salah dengan saya, semoga tidak sampai neurotis.

Terima kasih untuk semua kawan yang mengajarkan saya bahwa berteman lebih dari saudara. Karena kalian saya bwlajar banyak. Saya belajar membaca sekaligus mengenali kehidupan dan mereka yang hidup untuk kehidupan. Dan dunia ini luas. Dan saya belajar banyak. Kalian juga belajar banyak. Isn’t it?