Just…

Kalau kau harus mengucapkan selamat tinggal pada seseorang, itu berarti kau sedang mencintai seseorang

 Terima kasih karena setiap hari adalah makna kebahagiaan, kesedihan, kesenangan, lekecewaan, tawa dan amarah. Tidak berarti semuanya hilang dan lenyap. Bahkan amnesia pun hanya folder-folder memori yang ter-hiden, bukan hilang. Karena kita adalah manusia. Manusia hidup dan bertahan dikehidupannya dengan segala kenangan yang dimiliki. Terima kasih untuk mampir dan membantu saya merajut kenangan. Dan ini bukanlah akhir. Ibarat buku, hanya membuka bab yang baru. Karena kisah belum berakhir. Iyaa kan?

2017

Lihatlah bagaimana kontrak telah diperbaharui. Satu semester telah berlalu. Dan apa yang sudah saya lakukan? Entahlah, saya tak pernah menuliskan resolusi tiap tahunnya. Bahkan pergantian tahun ini pun berlalu dengan mata terpejam dan tidur lelap. Tapi sungguh saya punya keinginan-keinginan yang mungkin saya lakukan. Setidaknya untuk esok, atau mungkin sekarang.

Saya coba mengevaluasi bagaimana saya dan proses belajar mengajar, saya coba menyusun setiap proyeksi untuk segala evaluasi setiap semesternya. Setidaknya itu yang cukup real bagi saya, toh ini adalah dunia saya. Semoga bisa menjadi lebih baik, minimal tidak membuat saya menghela nafas kecewa pada diri sendiri atau melukai harga diri karena berani memperbaharui kontrak dan mengajukan permohonan dosen tetap. Semoga. Setidaknya untuk empat semester yang telah berlalu, saya banyak belajar dan beradaptasi dan lebih baik lagi. Karena cita-cita sebagai manusia yang bermanfaat itu terwujudnya susah-susah-gampang. Minimal saya mengusahakan seauatu.

Dan ini 2017. It’s a hope. It’s my wish. Please be my year. Semoga. Bismillah. Entah darimana asalnya, saya meyakini bahwa ini tahunnya. Ga tahu gimana caranya. Walaupun ini jenis keyakinan yang tidak logis. Hingga saya menemukan tanda-tanda rasional, hanya berdoa dan semoga.

Bagaimana dengan IELTS dan PhD? Dua tahun lagi harusnya. Apa yang dipersiapkan? Mulai darimana? Let it flow aja lah. Gimana-gimananya, jalan menuju masih lebih nyata, walau ujungnya belum kelihatan. Hahaa.

Dan beginilah saya mengawali tahun ini. Entah bagaimana tahun ini berlalu, just wish it. Bismillah.

Lelaki

Ini adalah janji saya pada tulisan sebelumnya. Janji yang mungkin akan beliau baca. Kalau bapak baca ini, semoga bisa sedikit mengurangi kegelisahan bapak. Walaupun saya agak lupa bagaimana tepatnya kalimat saya menyatakan akan menulis di kemudian waktu tentang mahkluk istimewa lainnya yang sejenis dengan kami (baca: perempuan), makhluk istimewa yang Tuhan ciptakan. Baiklah, apa yang bisa saya jelaskan tentangnya. Saya membagi 3 kategori Lelaki dalam hidup saya. Semuanya pernah, masih dan akan berbagi cerita dengan saya. Dan mengajarkan saya banyak hal, banyak makna, banyak cerita dalam kehidupan.

Pertama adalah Lelaki yang tidak akan pernah tergantikan dalam hidup saya. Cuma DUA orang. Bapak. Adek. Keduanya memberi warna dalam hidup saya. Tidak banyak yang bisa saya sampaikan tentang mereka, cukup satu kalimat dan itu sudah bercerita banyak tentang pentingnya mereka bagi saya. Kasih sayang tak terhingga dan kemuliaan manusia adalah hal terbaik yang selalu saya dapatkan. Dan itu karunia Nya. Terima kasih Tuhan.

Kedua adalah lelaki pada umumnya. Seperti dua orang cerita yang saya pikir adalah cinta. Dua kisah yang memberi warna dalam hidup saya. Dua lainnya yang masih sama umumnya dengan mereka yang berpapasan dengan saya ditepi jalan. Hanya saja, banyak senyum dan air mata yang pernah singgah karenanya. Tapi tetap saja kalian masih menjadi lelaki pada umumnya. Cuma dua. Dan saya tidak menyesal untuk memilih jalan yang berbeda dengan keduanya. Bukan sebuah kemungkinan, namun hal yang saya yakini. Saya percaya, berjalan tak bersama kalian serta tidak terus berada di sekitar kalian membuat saya lebih bahagia. Setidaknya, tak ada yang pernah saya sesali dalam kehidupan. Termasuk pilihan langkah dengan rute yang berbeda. Anehnya, tidak disekitar keduanya membuat saya menemukan banyak cerita dalam dunia. Termasuk tentang masih banyaknya laki-laki yang ada di dunia ini (bagian yang dipaksakan karena topiknya adalah Lelaki 😀 ). Saya melihat banyak impian dan banyak kisah yang bisa saya tuliskan dan saya kenang tentang perjalanan hidup. Lebih banyak alasan untuk tersenyum dan menitikkan air mata. Banyak hal selain kamu. Untuk keduanya, kalian tak pernah menjadi yang terkelam dalam kehidupan saya sejauh ini. Masih belum ada sii yang kelam, hahaa. Kamu yang pertama dan mengajarkan saya bahwa suara hati kecil itu ada dan  memilih itu perlu dengan menyadari segala konsekuensinya. Dan untuk mu yang menjadi 3 tahun saya menggantung mimpi, kita belajar banyak bagaimana takdir dan usaha itu adalah suatu kolaborasi yang manis. Terima kasih untuk kesempatan belajarnya. Saya belajar banyak dari kita di waktu itu. Dan lelaki lainnya yang menjadi teman, yang saya kenal, yang adalah teman dari temannya teman, dan yang saya pikir lebih dari saudara. Semua punya cerita. Semua mengajarkan saya benyak cerita dalam setiap pertemuannya. Dan untuk bapak, karena mereka adalah lelaki pada umumnya, sehingga mereka masih terlalu umum untuk anak perempuan mu yang istimewa ini. I choose my way not for your willing, but for my future as rationally decision. Percaya saja sama saya, bukan yang kedua karena masih terlalu umum. Next time you will get to know him (the man of my life) – terinspirasi dari mother how are you today.

Ketiga, the man of my life. Siapa? Hahaa. Itu yang saya maksud dan bapak perlu tahu. Bukan lelaki pada umumnya. Lelaki yang tahu istimewanya saya, sama seperti bapak dan adek menjaga saya selama ini. Saya tak bisa berkata banyak tentangnya. Hanya saja, next time you will get to know him. 😉

Saudara? Siapa?

Media sosial emang bisa menyambung dan mematahkan. Beberapa hari yang lalu saya melihat foto orang-orang yang tidak saya kenal sedang berpose didepan banner wajah 2 mempelai yang saya kenal. Ada di timeline saya, karena yang posting juga saya kenal, walaupun dia tidak ada di TKP, tapi caption yang mengucapkan selamat dan permohonan maaf tak bisa hadir menandakan dia tahu acara tersebut. Dan saya tak tahu. Dan saya pikir harusnya saya tahu. Dan saya mendadak linglung bercampur ragu, apa kami saling mengenal?

Tak ada maksud menyinggung. Saya menulis ini sekaligus pengantar mengucap selamat, semoga barokah dan lenggang, kanda. Mungkin saya salah paham, mungkin ada undangan, mungkin saya yang tak peka sebagai adek yang ada satu grup dengan kanda. Cuma merasa, kalau itu hari bahagia mu, saya tak mendapat undangan di grup, tapi itu undangan berbentuk nyata yang tertuliskan nama saya. Hahaa. Saya terlalu berlebihan menilai hubungan kita.
Sungkan juga untuk mengucapkan selamat secara langsung kalau begini, merasa asing atau entahlah, seperti apa bahasa yang tepat. 😀 It’s just what I think and I share. Dan entah mengapa, saya merasa perlu minta maaf karena memposting ini.

Okee. Enough about that event. Apa pun kisah dan lain-lain tentang itu, saya tetap senang mengetahui hari bahagia kanda. I think it’s always be your dream, and now you are. Congrats. And the important thing is her. She is yours, and your story it’s so long, isn’t it?

———————.

Ini hanya satu cerita yang membuat saya meragukan slogan “berteman lebih dari saudara.” Dan entah mengapa, saya merasa bersalah karena sudah meragukannya. Something banget. Like a drama queen. Saya jadi semakin yakin kalau saya ga punya kawan, karena saya kira dulu kita saudara. Hahaa. Sekarang saya pikir kita hanya manusia yang pernah berbagi ruang dan waktu. Setidaknya kami punya cerita. Setidaknya saya mengabadikan sedikit dari cerita kekeluargaan kami dalam beberapa goresan yang hanya penting bagi saya sendiri. Entah harus bertanya pada siapa, bagi saya hari ini lebih realistis dan esok hari belum tentu ada. Untuk kita yang dahulu berkawan, untuk kita yang memilih berteman lebih dari saudara, saya merasa takut itu hanya pemikiran saya sendiri, bukan kita. Karena mungkin tidak pernah ada kita, isn’t it? Please don’t say yess.

Hahaa. Kq jadi melankolis begini sii. Kali ini objeknya udah kemana-mana. Pikirannya udah penuh banget. Semua memori berontak untuk keluar. Dan pada akhirnya saya memilih untuk mengingat semuanya adalah hal manis. Karena mungkin saja, waktu itu kita saudara. Karena ditempat kalian semua, ada saudara lain yang jauh realistis untuk kalian. Seperti yang pernah seseorang kata kan pada saya, wajarlah sudah tak kontak lagi, toh kita sudah punya dunia masing-masing. Setidaknya dulu kita berbagi dunia. Tapi saudara tak seharusnya begitu kan? Dan pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa saya lah yang membuat persaudaraan kita menjadi patah. Saya lah yang tak menjaga silaturahmi. Saya lah yang begitu apatis. Dan memang, ada yang salah dengan saya, semoga tidak sampai neurotis.

Terima kasih untuk semua kawan yang mengajarkan saya bahwa berteman lebih dari saudara. Karena kalian saya bwlajar banyak. Saya belajar membaca sekaligus mengenali kehidupan dan mereka yang hidup untuk kehidupan. Dan dunia ini luas. Dan saya belajar banyak. Kalian juga belajar banyak. Isn’t it?

Dunia kecil itu ku sebut “Kerja”

Dua tahun ada waktu yang berlalu, tepat 60/60/24/7/12/2. Anggap saja seperti itu matematisnya. Kurang/lebihnya tho ga akan jauh-jauh dari itu. Maklum saja, hitung-hitungan anak sosial tak pernah pasti. sudah bulan November lagi. Sudah musim penghujan lagi. Musim yang selalu tawarkan keindahan. salah satu alasan saya mengagumi rintiknya. Bukan. Tentu saja bukan hujan yang akan saya ukirkan. It’s not suitable with my title. I will talk about JOB.

Tentu saja saya tak akan sebutkan bagaimana saya begitu fanatik dan membanggakan pekerjaan saya. Saya juga tidak akan mengeluh dan merutuki pekerjaan saya. I just found something in my job, and I think it’s good for me to share it.

It’s my job, but it’s not my dream to work it. Uniknya, saya merintis karir disini. It’s awesome, right? Perjalanan  waktu sampai hari ini, saya belum pernah menyesali keputusan yang saya pilih untuk langkah kaki. tentu saja itu karena bagi saya memutuskan sesuatu adalah hal dasar untuk memulai kehidupan. dimana pun. kapan pun. bagaimana pun.

saya dalam persona kerja yang profesional tentu saja tidak 100% SAYA. They want me to be professional. apakah itu menjadi sulit kemudian? hahaa. I’m psychologist and study psychology it’s my activity. I enjoy it, so far.

saya kira daritadi setiap huruf yang terangkai begitu berantakan. saya tidak tahu bagaimana sulitnya saya berkisah malam ini. bahasa yang campur aduk. tulisan tanpa poin. I don’t know, how to start it. However, I want share it. Let’s begin. Bismillah.

okee. ini bukan belajar bahasa. saya tidak akan memperhatikan tata bahasa. saya hanya akan memulai membagi pemikiran dan pemaknaan saya mengenai dunia kecil saya selama 2 tahun ini. saya tidak punya maksud apa-apa, kepada siapa-siapa. dan semoga ini tidak menjadi kenapa-kenapa. Maaf untuk segala kata yang terabadikan disini.

Sepanjang kehidupan saya, segala sesuatu yang saya jalani belum pernah terjadi karena pilihan orang lain. tidak jarang saran, kritik, pujian, cercaan, mewarnai pilihan itu. tetap saja saya masih merasa merdeka sampai hari ini. bahkan terhadap bapak. bapak memang begitu, selalu menjadi yang terdepan dibanding keluarga lainnya untuk menjadi kepo dan cerewet mengenai kehidupan saya. saya sangat berterima kasih karenanya. itu membuat saya tidak pernah kehilangan cinta semili-detik pun. walaupun begitu, pada akhirnya saya tetap menjalani aktivitas pilihan saya. sekolah, organisasi, domisili, pekerjaan, termasuk tentang asmara (just trust me dad, it’s not my topic today but I promise to write it later. I want you to know many things about it, cause I choose my way not for your willing, but for my future as rationally decision). Okee, saya salah fokus lagi. Let’s talk about my job (again).

Entah bagaimana, berkisah tentang asmara sangat mengalir untuk saya dan menjadi sulit untuk TIDAK menuliskan itu hari ini. I’m focus now. saya adalah salah satu yang muda secara usia di pekerjaan saya. itu membuat saya sangat dimanja dan diperhatikan oleh rekan kerja saya. setidaknya itu yang saya rasakan. ini membuat saya nyaman. salah satu poin yang membuat saya memilih pekerjaan ini. selain karena saya suka dengan apa yang saya kerjakan. karena dalam pekerjaan saya, saya tidak hanya mendapatkan gaji. saya mendapatkan banyak ilmu dari pekerjaan saya. saya belajar banyak karena saya bekerja. tentu saja tidak kemudian membuat saya mengatakan bahwa begini adalah bagaimana saya akan menjalani hidup. tapi, untuk saat ini saya menikmati kehidupan saya. hal lainnya yang membuat saya tidak menyesal adalah tidak ada kelelahan dalam pekerjaan saya. It’s nice for me. tidak lelah dan ada mimpi di sana. I talk about my job.

ini yang ingin saya bagi. ilmu yang saya dapat selama bekerja. ilmu yang hanya bisa saya peroleh karena saya bekerja. karena ini bukan organisasi mahasiswa, apalagi sekedar organisasi di sekolah. karena buku teks tak menjelaskan ini. saya belajar bahwa manusia itu istimewa. karena tidak ada hal yang impossible saat berbicara tentang manusia. semuanya mungkin. semuanya bisa. saat bekerja, saya menjadi tahu bagaimana saya. saya yang satu waktu menjadi idola dan sangat bermanfaat bagi lingkungan kerja saya. pada waktu yang lain, saya juga menjadi menyebalkan dan menyulitkan untuk lingkungan kerja saya. saya tidak akan pernah menjadi 100% bermanfaat bagi orang lain. Tapi, saya yakin menjadi 100% hikmah untuk orang lain yang berinteraksi dengan saya. berlaku sama dengan orang lain kepada saya.

ini sudah begitu berbeda dengan dunia lainnya yang pernah saya masuki. karena dunia kerja menuntut profesionalisme. karena dunia kerja mengharuskan persona. It’s absolutely and I know that, but I hate people with 2 faces. dan mereka hanya menarik saat di dunia kerja. setidaknya begitu bagi saya. karena saat menemukan yang beginian di organisasi dan di sekolah dulu, it’s fine for me and it’s not have significant influence for me.

kenapa yaa? saya menanyakan itu berkali-kali kepada diri saya saat memikirkan tentang “muka dua”. hahaa. I think it could be fun for the title. apa yaa untungnya bersikap dan berbicara yang menyenangkan orang lain? terkadang saya juga menggunakan strategi ini. I call it, strategy. tapi seharusnya strategi dilakukan dengan rasional. kenapa dia melakukan ini dengan sangat “terbuka” dan “nyata”. sungguh bunuh diri. bagi saya itu tidak terlihat seperti “menguntungkan”, malah dengan jelas menunjukkan “how pitty you are?”

kalau dipikir-pikir lagi, saya menemukan yang beginian ga cuma di tempat kerja sii, waktu sekolah dulu juga ada yang beginian. poin bedanya adalah dulu tak ada tuntutan profesional. sekarang? kalau “muka dua” dijadikan strategi, kontras banget sama nilai-nilai profesionalisme, iyaa ga sii? how to deal with it? Just abandon it.

Tuhan. ga penting bangetlah catatan saya ini. hanya rangkaian panjang tanpa esensi. anggap saja apresiasi pada pekerjaan saya. apresiasi yang berantakan. hahaa. saya sudah sadar dari sejak lama dengan hidup saya yang berantakan. dan saya menikmati keberantakan ini.

 

P.S. I love you (hahaa, ini judul film – bukan ini maksud saya)

P.S. hidup itu satu kali aja, waktu itu hanya bergerak maju, bagaimana saya menjadi sinis dengan kehidupan hanya karena debu-debu yang mengusik penglihatan? I walk in a way cause I trust my way. *walaupun jatuh itu sakit, setidaknya saya sering kali mencoba untuk menggandeng mu dan tak berniat menggandoli mu. calm boss 😉

Catatan Akhir Pekan

Terima kasih Ulya sudah membuatkan alasan untuk saya berlibur, walaupun harus lelah 2 hari dg kurang tidur, tapi saya merasakan liburan 🙌🙌 Barokallah untuk gelar mu yg menambah (lagi) 3 huruf deretan nama mu. Thanks to Ika, untuk waktu nya yang menjadi terbuang-buang (padahal laporan numpuk) dan tempatnya yang menjadi makin sempit karena saya daulat 3 hari kemaren. Dan sepasang ferdi-tika yang sudah menceriakan malam Minggu saya di kota pahlawan. Bahagia banget berkesempatan bermain-main dengan kalian diwaktu-waktu rutinitas pekerja yg masih mengharap gaji untuk makan. Hahahaha. Saya sudah terdengar puitis ga fer? 😉

Kehormatan mendampingi wisuda seorang teman. Kenikmatan bersilaturahmi dengan kawan-kawan yg sama berharganya seperti saudara. Kepuasan berada ditengah-tengah tumpukan buku “big bad wolf books“. Sungguh memorable dan happy weekand sekali. Ini akhir bulan, dan berakhir dengan bahagia. 

Well, udah balik ke Malang lagi. Udah kembali dengan rutinitas pekerja lagi. Udah back to realita. Selamat UTS. Selamat bertugas. Dan semoga ada sela untuk berlibur lagi. Karena seringkali saya tak berani untuk membuat alasan berlibur saya sendiri, dan terima kasih saya untuk kesediaan kawan-kawan yang memberikan alasan untuk saya meluangkan waktu untuk membahagiakan dirinya sendiri.

Rindu Celoteh mu

Pagi ini dingin.. Setiap hari dimusim penghujan, cuaca tak terprediksi antara gerah dan dingin. Lagi-lagi kita melakukannya. Sering kali dalam beberapa waktu ini. Pertemuan singkat. Hanya itu yang bisa kita lakukan dengan dalih kesibukan. Bahkan tak ku tepati janji ku untuk menghabiskan malam dengan mu karena jatuh terlelap sebelum kau datang. Maaf mengecewakan. Ahh, itu tak ada guna. Sepertinya waktu berlalu dengan memupuk rindu. Adakah begitu juga yang kau rasa?

Saya hanya merasa begitu lama kita tak menghabiskan waktu untuk cerita hebat ku dan ide cerdas mu. Entah kesibukan yang rutin atau mimpi yang membelenggu. Entah tepat atau tidak yang kita lakukan. Tapi ku rasa kau juga meyakininya, bahwa kita berlari-lari di atas jalan yang tepat. Keputusan untuk mengejar mimpi, bermimpi, dan berjalan di jalur mimpi. Bahasa klise nya adalah “semoga sibuk mu dan sibuk ku adalah sibuk yang bermanfaat.” Begitukah? 

Saya tak meminta mu berhenti, karena disetiap pencapaian mu saya sering kali tersenyum dan membatin syukur dengan penuh rasa bangga. Saya tw kau akan bisa. Namun, saya tak berniat munafik dan berusaha jujur. Waktu yang pernah lewat diantara kita dalam cengkerama hangat dulu, saya rindukan. Celetukan-celetukan penuh semangat dan harapan yang kau tularkan menjadi keyakinan ku bahwa bermimpi itu wajar, bahwa usaha itu harus, bahwa hidup itu adalah kekayaan tanpa batas. Jadi benar kalau momen menyenangkan tak kan terulang dan cepat berlalu?

Mungkin nanti. Entah kapan tapi kita sama-sama saling janji untuk menyisipkan waktu itu. Waktu untuk melepas rindu. Waktu untuk berbicara masa depan. Waktu untuk evaluasi perjalanan hidup. Waktu untuk kita. Tetap lari dijalan yang kau pilih, aku pun sedang melakukan bagian ku. Hanya saja, kau perlu menata hari mu lebih manis dari sekadar memenuhi janji-janji yang kau buat. Plan mu, mimpi mu, disitu kaki mu harus melangkah. Amanah mu yang membentuk hormat ku pada gerak mu. Terima kasih karena tanpa cerita pun kau masih mengabarkan keadaan mu pada ku. Cukup rindu ini berhenti disini saja. Berhenti pada rangkaian kata-kata tak penting yang ku tata.